Penelitian ini relevan karena minyak sawit merah dikenal kaya antioksidan, namun selama ini sulit disimpan dalam bentuk cair akibat ketidakstabilan selama penyimpanan. Dengan mengubah NLC cair menjadi serbuk melalui proses pengeringan bersuhu rendah, para peneliti membuka peluang baru untuk meningkatkan umur simpan, kemudahan distribusi, serta pemanfaatan minyak sawit merah dalam produk pangan fungsional dan farmasi.
Tantangan Menjaga Stabilitas Minyak Sawit Merah
Minyak sawit merah mengandung karotenoid dan vitamin E dalam kadar tinggi, menjadikannya sumber bioaktif yang bernilai bagi kesehatan. Namun, ketika diformulasikan dalam bentuk nanostructured lipid carriers, sistem ini bersifat tidak stabil secara termodinamika. Selama penyimpanan, partikel nano mudah mengalami penggumpalan dan kehilangan senyawa aktif.
Proses pengeringan menjadi solusi yang menjanjikan, tetapi metode konvensional seperti spray drying menggunakan suhu tinggi yang berisiko merusak karotenoid. Freeze drying memang lebih aman, namun mahal dan boros energi. Di sinilah vacuum foam-mat drying menjadi alternatif strategis karena bekerja pada suhu sedang, antara 50–70°C, sehingga lebih ramah terhadap senyawa sensitif panas.
Pendekatan Penelitian yang Efisien
Tim peneliti dari Politeknik Negeri Pontianak menggunakan pendekatan desain faktorial fraksional resolusi IV, sebuah metode statistik yang memungkinkan identifikasi faktor paling berpengaruh dengan jumlah percobaan minimal. Dari lima variabel utama, hanya dilakukan 12 percobaan, jauh lebih efisien dibandingkan desain penuh yang membutuhkan 32 percobaan.
Variabel yang dianalisis meliputi:
- Rasio NLC terhadap maltodekstrin,
- Konsentrasi maltodekstrin,
- Konsentrasi surfaktan Tween 80,
- Suhu pengadukan,
- Dan suhu oven pengering.
Pendekatan ini memberikan gambaran jelas tentang faktor mana yang paling menentukan kualitas serbuk NLC minyak sawit merah.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap parameter memiliki peran berbeda terhadap karakteristik produk akhir. Beberapa temuan utama meliputi:
- Rasio NLC–maltodekstrin menjadi faktor paling berpengaruh terhadap rendemen serbuk, dengan hasil berkisar antara 66,03 hingga 84,95 persen.
- Konsentrasi Tween 80 sangat menentukan kadar air dan retensi palmitat, senyawa lemak penting dalam minyak sawit merah.
- Suhu oven menjadi faktor utama yang mengontrol ukuran partikel, dengan diameter berkisar antara 400–550 mikrometer.
- Suhu pengeringan yang terlalu tinggi berpotensi menyebabkan degradasi palmitat, menurunkan kualitas bioaktif produk.
- Interaksi antara konsentrasi maltodekstrin dan suhu pengadukan juga terbukti memengaruhi pelestarian senyawa aktif.
Secara keseluruhan, proses pengeringan pada suhu lebih rendah terbukti lebih efektif dalam mempertahankan kandungan palmitat tanpa mengorbankan efisiensi pengeringan.
Mengapa Temuan Ini Penting
Temuan ini menegaskan bahwa stabilitas bioaktif tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh desain proses yang tepat. Dengan pengaturan parameter yang optimal, vacuum foam-mat drying mampu menghasilkan serbuk NLC yang stabil, bernilai gizi tinggi, dan siap diaplikasikan secara luas.
Menurut Abdi Redha dari Politeknik Negeri Pontianak, pendekatan ini menunjukkan bahwa “pengeringan bersuhu rendah dengan desain proses yang efisien dapat menjaga kualitas lipid bioaktif sekaligus meningkatkan kelayakan produksi skala industri.” Pernyataan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara efisiensi teknologi dan pelestarian nilai gizi.
Dampak bagi Industri Pangan dan Farmasi
Penelitian ini memiliki implikasi luas, khususnya bagi industri berbasis kelapa sawit dan produk kesehatan. Serbuk NLC minyak sawit merah berpotensi digunakan sebagai:
- Bahan fortifikasi pangan fungsional,
- Sistem penghantar vitamin dan antioksidan,
- Bahan baku suplemen kesehatan,
- Dan formulasi farmasi berbasis lipid.
Bagi pelaku industri, teknik ini menawarkan solusi yang lebih hemat energi dibanding freeze drying dan lebih aman bagi senyawa sensitif dibanding spray drying. Bagi pembuat kebijakan, riset ini memperkuat argumen bahwa inovasi teknologi pascapanen dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional.
Arah Penelitian Selanjutnya
Para peneliti merekomendasikan tahap lanjutan berupa optimasi lanjutan menggunakan Response Surface Methodology serta pengujian stabilitas penyimpanan jangka panjang. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa produk tidak hanya unggul secara laboratorium, tetapi juga siap untuk aplikasi komersial.
0 Komentar