Bandung, Jawa Barat— Pengaruh
Stres Kerja dan Pemberian Motivasi terhadap Kinerja Karyawan Bagian Produksi
PT. SCT Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan oleh Feby Nur Fadilah dan R.M.
Juddy Prabowo dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jenderal Achmad Yani, yang dipublikasikan dalam jurnal East
Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada tahun 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Feby Nur
Fadilah dan R.M. Juddy Prabowo mengungkapkan bahwa keseimbangan antara tekanan
kerja dan strategi motivasi menjadi kunci penting dalam menjaga produktivitas
tenaga kerja, terutama di industri manufaktur yang memiliki target produksi
tinggi dan ritme kerja dinamis.
Stres kerja
sebagai tantangan nyata dalam lingkungan produksi
Industri
tekstil Indonesia menghadapi persaingan ketat akibat masuknya produk impor
berharga lebih murah. Situasi ini mendorong perusahaan meningkatkan efisiensi
produksi, yang pada akhirnya berdampak pada tekanan kerja karyawan.
Berdasarkan
hasil observasi dan data perusahaan, sebagian besar karyawan produksi masih
berada dalam kategori kinerja belum optimal. Beban kerja yang fluktuatif,
tuntutan kualitas tinggi, serta ketidakpastian pesanan menjadi sumber tekanan
psikologis bagi pekerja.
Karyawan
melaporkan berbagai dampak stres, seperti kelelahan fisik, kesulitan
berkonsentrasi, gangguan tidur, dan rasa cemas terhadap stabilitas pekerjaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa stres kerja bukan sekadar persoalan individu,
tetapi berkaitan dengan sistem organisasi dan manajemen kerja.
Penelitian ini
menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat stres yang dialami karyawan, semakin
besar risiko penurunan performa kerja. Stres yang tidak dikelola dengan baik
dapat menurunkan fokus, produktivitas, dan kualitas hasil pekerjaan.
Motivasi
kerja terbukti meningkatkan performa karyawan
Selain stres
kerja, penelitian juga menyoroti pentingnya motivasi sebagai faktor pendorong
kinerja. Motivasi dapat berupa insentif finansial maupun penghargaan
non-finansial seperti pengakuan, dukungan emosional, dan komunikasi yang baik
antara atasan dan bawahan.
Hasil survei
menunjukkan bahwa sistem motivasi di perusahaan sudah berjalan, namun belum
optimal. Beberapa karyawan merasa kurang mendapatkan apresiasi atas hasil kerja
mereka. Minimnya bonus tahunan sejak pandemi COVID-19 serta kurangnya
penghargaan informal menjadi faktor yang memengaruhi semangat kerja.
Analisis
statistik menunjukkan bahwa motivasi memiliki pengaruh positif signifikan
terhadap kinerja karyawan. Artinya, peningkatan motivasi akan diikuti oleh
peningkatan kualitas dan kuantitas kerja.
Peneliti dari
Universitas Jenderal Achmad Yani menekankan bahwa motivasi tidak hanya
berkaitan dengan kompensasi materi. Pengakuan dari atasan, komunikasi yang
terbuka, serta kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan juga
memainkan peran penting dalam meningkatkan keterlibatan karyawan.
Tiga temuan
utama penelitian
Penelitian ini
menghasilkan beberapa poin kunci yang relevan bagi manajemen perusahaan dan
praktisi sumber daya manusia:
- Stres kerja berdampak negatif signifikan terhadap
kinerja karyawan. Semakin tinggi tekanan kerja, semakin besar potensi
penurunan produktivitas.
- Pemberian motivasi berdampak positif signifikan
terhadap kinerja. Dukungan dan penghargaan dari perusahaan mampu
meningkatkan performa kerja.
- Kombinasi stres kerja dan motivasi menjelaskan
sekitar 26,6 persen variasi kinerja karyawan, menunjukkan bahwa faktor
psikologis dan manajerial memiliki kontribusi nyata terhadap
produktivitas.
Hasil ini
menunjukkan bahwa manajemen organisasi perlu melihat kinerja karyawan secara
holistik, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga kondisi psikologis dan
lingkungan kerja.
Peran
manajemen dalam menciptakan keseimbangan kerja
Selain faktor
individu, penelitian menyoroti pentingnya peran manajemen dalam menciptakan
lingkungan kerja yang sehat. Kepemimpinan yang partisipatif dan komunikasi yang
efektif dapat membantu mengurangi tekanan kerja sekaligus meningkatkan
motivasi.
Perusahaan
disarankan untuk:
- Meninjau kembali sistem kompensasi dan bonus agar
lebih transparan.
- Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menyampaikan
ide dan aspirasi.
- Menyediakan pelatihan kerja serta evaluasi rutin
untuk meningkatkan kejelasan target kerja.
- Mengembangkan budaya apresiasi, termasuk penghargaan
non-finansial.
Dampak lebih
luas bagi dunia industri dan manajemen SDM
Temuan ini
memiliki implikasi penting bagi sektor industri yang bergantung pada
produktivitas tenaga kerja, khususnya manufaktur dan tekstil. Dalam era
persaingan global, keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh
teknologi atau modal, tetapi juga oleh kesejahteraan psikologis karyawan.
Pendekatan
manajemen sumber daya manusia yang berfokus pada keseimbangan antara tuntutan
kerja dan dukungan motivasional dapat menjadi strategi efektif untuk
meningkatkan daya saing perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga memberikan
referensi bagi praktisi HR dalam merancang program kesejahteraan karyawan yang
lebih berkelanjutan.
Profil
penulis
- Feby Nur Fadilah – Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jenderal Achmad Yani
- R.M. Juddy Prabowo – Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani
Sumber
penelitian
Fadilah, F.N., &
Prabowo, R.M.J. (2026). The Effect of Work Stress and Providing Motivation
on the Performance of Employees in the Production Department of PT. SCT Bandung
City.
East Asian
Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 463–476.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.11
URL resmi: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar