Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Budaya Organisasi, dan Prinsip-Prinsip Tata Kelola yang Baik terhadap Kinerja Organisasi dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Mediasi (Studi pada Komisi Pemberantasan Korupsi)

Ilustrasi by AI

Jakarta Tata Kelola yang Baik dan Kepemimpinan Transformasional Tingkatkan Kinerja KPK. Penelitian yang dilakukan oleh Galih Gandara, Mohamad Rizan, dan Indra Pahala, dan dipublikasikan pada Januari 2026 dalam jurnal International Journal of Integrated Science and Technology.

Penelitian yang dilakukan oleh Galih Gandara, Mohamad Rizan, dan Indra Pahala menemukan bahwa penerapan tata kelola yang baik dan kepemimpinan transformasional berperan besar dalam meningkatkan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Riset ini mengungkap bahwa organisasi publik akan bekerja lebih efektif ketika dipimpin oleh pemimpin yang visioner, memiliki budaya kerja yang kuat, serta menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang transparan dan akuntabel. Di tengah tantangan rendahnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara, temuan ini memberikan arah baru bagi reformasi birokrasi.

Korupsi, Kepercayaan Publik, dan Kinerja Lembaga Negara

Korupsi masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi tahun 2023 yang dirilis Transparency International, Indonesia menempati peringkat ke-114 dari 180 negara dengan skor 34 dari 100. Data ini menunjukkan bahwa masalah tata kelola dan integritas masih menjadi tantangan besar.

Sebagai lembaga utama pemberantasan korupsi, KPK memegang peran strategis dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Kinerja KPK tidak hanya memengaruhi penegakan hukum, tetapi juga stabilitas politik dan legitimasi pemerintah.

Dalam konteks ini, kualitas kepemimpinan, budaya organisasi, dan sistem tata kelola menjadi faktor kunci. Namun, masih sedikit penelitian yang secara khusus mengkaji bagaimana faktor-faktor tersebut bekerja di dalam tubuh KPK. Penelitian ini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Metode Penelitian: Survei terhadap 300 Pegawai KPK

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei. Para peneliti mengumpulkan data dari 300 pegawai tetap KPK sebagai responden.

Responden mengisi kuesioner dengan skala lima poin, mulai dari “sangat tidak setuju” hingga “sangat setuju”. Kuesioner tersebut mengukur lima aspek utama, yaitu:

  • Kepemimpinan transformasional
  • Budaya organisasi
  • Penerapan prinsip good governance
  • Komitmen organisasi
  • Kinerja organisasi

Untuk mengukur kinerja, peneliti menggunakan pendekatan Balanced Scorecard yang mencakup empat perspektif: pemangku kepentingan, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan pengembangan.

Data kemudian dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan perangkat lunak LISREL. Metode ini memungkinkan peneliti melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel secara akurat.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa data penelitian valid dan reliabel, sehingga kesimpulan yang dihasilkan dapat dipercaya.

Temuan Utama: Tata Kelola Menjadi Faktor Penentu

Analisis data menghasilkan empat temuan utama.

1. Kepemimpinan Transformasional Meningkatkan Kinerja

Penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja organisasi.

Pemimpin yang mampu memberi inspirasi, membangun visi bersama, mendorong inovasi, dan memperhatikan pengembangan pegawai terbukti mampu meningkatkan efektivitas lembaga.

Dengan kata lain, gaya kepemimpinan yang partisipatif dan visioner membuat organisasi lebih adaptif dan profesional.

2. Budaya Organisasi Memperkuat Performa

Budaya organisasi juga terbukti berperan penting. Lembaga yang menanamkan nilai profesionalisme, kerja sama tim, integritas, dan orientasi hasil cenderung memiliki kinerja lebih baik.

Budaya kerja yang sehat menjadi pedoman perilaku pegawai dan memperkuat komitmen terhadap tujuan organisasi.

3. Good Governance Memberi Dampak Terbesar

Di antara semua variabel yang diteliti, penerapan prinsip good governance memiliki pengaruh paling kuat terhadap kinerja organisasi.

Prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, keterbukaan, dan kepatuhan terhadap hukum terbukti menjadi pendorong utama efektivitas lembaga publik.

Setiap peningkatan dalam penerapan tata kelola yang baik secara langsung meningkatkan kualitas kinerja organisasi.

4. Komitmen Pegawai Tidak Menjadi Faktor Utama

Temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa komitmen organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja.

Loyalitas, rasa memiliki, dan keterikatan emosional pegawai tidak terbukti menjadi penentu utama keberhasilan organisasi. Selain itu, komitmen juga tidak berperan sebagai variabel perantara antara kepemimpinan, budaya, dan tata kelola dengan kinerja.

Artinya, semangat kerja tinggi saja tidak cukup jika tidak didukung sistem dan manajemen yang kuat.

Makna Temuan bagi Pengelolaan Lembaga Publik

Hasil penelitian ini menantang pandangan umum bahwa loyalitas pegawai merupakan faktor utama keberhasilan organisasi. Dalam lembaga publik yang sangat diatur seperti KPK, sistem dan tata kelola justru lebih menentukan.

Para peneliti menegaskan bahwa kinerja lembaga penegak hukum sangat bergantung pada:

  • Aturan kerja yang jelas
  • Sistem pengawasan yang kuat
  • Kepemimpinan yang konsisten
  • Budaya kerja yang berintegritas

Faktor psikologis individu tidak dapat menggantikan kelemahan struktural.

Dampak bagi Reformasi Birokrasi

Penelitian ini memberikan sejumlah implikasi penting bagi reformasi sektor publik.

Bagi Lembaga Pemerintah

Instansi pemerintah perlu memprioritaskan penguatan sistem tata kelola, antara lain melalui:

  • Transparansi anggaran dan pengadaan
  • Penguatan sistem pengawasan internal
  • Penegakan kode etik
  • Peningkatan akuntabilitas pimpinan

Langkah-langkah ini secara langsung berdampak pada peningkatan kinerja dan kepercayaan publik.

Bagi Para Pemimpin

Pimpinan lembaga didorong untuk mengembangkan kepemimpinan transformasional melalui:

  • Pelatihan kepemimpinan
  • Program mentoring
  • Evaluasi kinerja berbasis integritas dan inovasi

Pemimpin yang kuat akan membentuk organisasi yang tangguh.

Bagi Manajemen SDM

Meski komitmen pegawai bukan faktor utama, pengelolaan SDM tetap penting. Namun, upaya peningkatan motivasi harus dibarengi dengan perbaikan sistem dan tata kelola.

Pelatihan pegawai sebaiknya tidak hanya fokus pada semangat kerja, tetapi juga pada kepatuhan, profesionalisme, dan nilai institusi.

Pandangan Para Peneliti

Para penulis menyimpulkan bahwa model hubungan langsung antara kepemimpinan, budaya, tata kelola, dan kinerja lebih relevan dibandingkan model yang mengandalkan variabel perantara.

Dalam konteks lembaga antikorupsi, pendekatan manajemen harus menekankan sistem yang kuat, bukan hanya mengandalkan loyalitas personal.

Mereka juga menegaskan bahwa lembaga penegak hukum membutuhkan standar tata kelola yang lebih ketat karena berhadapan dengan risiko hukum dan politik yang tinggi.

Profil Singkat Penulis

  • Galih Gandara, S.E., M.M : Universitas Negeri Jakarta.
  • Mohamad Rizan, S.E., M.Si., Ph.D. : Universitas Negeri Jakarta.
  • Indra Pahala, S.E., M.M. : Universitas Negeri Jakarta.

Sumber Penelitian

Galih, Rizan, Indra. The Effect of Transformational Leadership, Organizational Culture, and Good Governance Principles on Organizational Performance with Organizational Commitment as a Mediating Variable
 International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST)Volume 4, Nomor 1, 2026, Halaman 34–49
DOI:
https://doi.org/10.59890/ijist.v4i1.261                                                                                        URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijist


Posting Komentar

0 Komentar