Naturalisme dalam Drama Shakespeare: Coriolanus



Shakespeare Terbaca Ulang: Studi UNIMED Ungkap Jejak Naturalisme dalam Tragedi Politik Coriolanus

Sebuah kajian baru dari Universitas Negeri Medan (UNIMED) menunjukkan bahwa drama Coriolanus karya William Shakespeare—ditulis pada 1608—menyimpan ciri-ciri kuat naturalisme, meskipun ditulis jauh sebelum aliran ini resmi muncul pada akhir abad ke-19. Penelitian yang dipimpin Syamsul Bahri bersama Syifa Inayah Hanani Zulfa, Nadia Kumari, Steffani Trifena Napitupulu, dan Jessica Hotnida Nainggolan menganalisis naskah Coriolanus dengan kacamata teori naturalisme Vernon L. Parrington. Temuan mereka, yang terbit pada 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), menegaskan bahwa nasib tragis Coriolanus bukan sekadar hasil kesalahan pribadi, melainkan produk tekanan sosial, politik, dan lingkungan yang mengikat manusia.

Penelitian ini penting karena menggeser cara kita membaca Shakespeare. Alih-alih melihat Coriolanus hanya sebagai tragedi tentang kesombongan atau ambisi politik, tim UNIMED menunjukkan bahwa drama ini sudah memotret manusia sebagai makhluk yang “terkurung” oleh struktur sosial dan dorongan naluriah—inti dari naturalisme modern. Dengan kata lain, Shakespeare secara intuitif telah menggambarkan dunia yang kelak menjadi ciri utama sastra naturalis: dunia yang dingin, tidak sentimental, dan sangat ditentukan oleh kondisi di luar kendali individu.

Mengapa Coriolanus?

Coriolanus mengisahkan seorang jenderal Romawi yang sangat berbakat di medan perang, tetapi gagal berpolitik karena sikapnya yang kaku dan merendahkan rakyat jelata. Ketika ia menolak merendahkan diri demi dukungan publik, ia diusir dari Roma, bersekutu dengan musuhnya sendiri, lalu akhirnya tewas dibunuh.

Menurut tim peneliti, alur ini ideal untuk menguji naturalisme karena memperlihatkan benturan antara:

-kelas elite vs rakyat,

-kehormatan pribadi vs tuntutan publik,

-kebanggaan vs kelangsungan hidup politik.

“Coriolanus tampak memilih jalannya sendiri, tetapi sebenarnya ia digiring oleh struktur sosial, ekspektasi keluarga, dan logika kekuasaan yang tak bisa ia kendalikan,” kata Syamsul Bahri.

Bagaimana penelitian dilakukan?

Tim menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis teks. Mereka membaca seluruh naskah Coriolanus, lalu memilih 25 dialog kunci yang mewakili tujuh prinsip naturalisme Vernon L. Parrington:

-Objektivitas – penggambaran realitas tanpa penghakiman moral

-Keterbukaan (frankness) – bahasa lugas tentang hasrat dan konflik manusia

-Sikap amoral terhadap materi – ketidakpedulian pada harta

-Determinisme – nasib ditentukan faktor eksternal

-Kecenderungan pada detail negatif – fokus pada sisi gelap kehidupan

-Kerentanan terhadap godaan tertentu – manusia mudah dipengaruhi

-Pesimisme – pandangan hidup yang suram

Alih-alih menghitung angka semata, mereka menafsirkan bagaimana setiap adegan memperlihatkan manusia sebagai makhluk yang dibentuk oleh lingkungan dan kekuasaan, bukan oleh “kehendak bebas” murni.

Temuan utama (dalam angka)

Dari 25 dialog yang dianalisis, distribusi unsur naturalisme dalam Coriolanus adalah:

-Kecenderungan pada detail negatif28% (paling dominan)

Shakespeare sering memilih detail yang keras, menghina, dan gelap untuk menggambarkan relasi kelas, terutama lewat ucapan Coriolanus terhadap rakyat.

-Objektivitas16%

Konflik rakyat vs elite digambarkan apa adanya: kelaparan, ketimpangan, dan kemarahan tanpa narasi moral yang menggurui.

-Sikap amoral terhadap materi16%

Coriolanus digambarkan tidak mengejar harta atau popularitas, tetapi bertindak berdasarkan kebanggaan dan temperamen.

-Determinisme12%

Keputusan Coriolanus—terutama saat ia akhirnya tunduk pada ibunya, Volumnia—dibaca sebagai hasil tekanan keluarga dan negara, bukan pilihan bebas.

-Keterbukaan (frankness)12%

Bahasa kasar, penghinaan, dan sindiran seksual muncul tanpa disensor, menegaskan pandangan naturalis tentang manusia sebagai makhluk biologis.

-Kerentanan terhadap godaan8%

Massa rakyat mudah dipengaruhi elite; Coriolanus mudah terpancing oleh harga diri.

-Pesimisme8% (paling sedikit, tetapi krusial)

Muncul terutama di akhir tragedi, saat Coriolanus menerima kematiannya sebagai sesuatu yang tak terelakkan.

Apa artinya bagi pembaca hari ini?

Studi ini menunjukkan bahwa Coriolanus sangat relevan untuk memahami politik modern. Drama ini memperlihatkan bagaimana:

-elite yang meremehkan publik bisa tumbang,

-opini massa bisa dimanipulasi,

-loyalitas keluarga bisa berbenturan dengan kepentingan negara,

-dan individu sering kalah melawan sistem.

Bagi pendidikan, penelitian ini juga membuka cara baru mengajarkan Shakespeare—bukan hanya sebagai sastra klasik, tetapi sebagai “laboratorium” awal pemikiran naturalis yang masih terasa dalam film, teater, dan sastra kontemporer.

Apa kata peneliti?

Syamsul Bahri menekankan bahwa temuan ini tidak “memaksakan” naturalisme ke Shakespeare, melainkan menunjukkan kemiripan pola pikir. “Shakespeare mungkin tidak mengenal istilah naturalisme, tetapi ia sudah menangkap logika dunia yang deterministik: manusia dibentuk oleh darah, lingkungan, dan kekuasaan,” ujarnya.

Profil singkat penulis

Dr. Syamsul Bahri, M.Hum. – Dosen Sastra Inggris, Universitas Negeri Medan; fokus pada teori sastra, drama Shakespeare, dan kritik naturalis.

Syifa Inayah Hanani Zulfa, S.S. – Peneliti muda di bidang kajian drama dan teori sastra.

Nadia Kumari, S.S. – Minat riset pada teater klasik dan representasi kekuasaan.

Steffani Trifena Napitupulu, S.S. – Mengkaji hubungan sastra dan masyarakat.

Jessica Hotnida Nainggolan, S.S. – Fokus pada analisis teks dan kritik budaya.

Sumber penelitian

Bahri, S., Zulfa, S. I. H., Kumari, N., Napitupulu, S. T., & Nainggolan, J. H. (2026). “Naturalism in Shakespeare’s Drama: Coriolanus.” International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4(1), 1721–1736. DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i1.138


Posting Komentar

0 Komentar