Menjelajahi Pengalaman Nyata dan Kompetensi Bidan dalam Penggunaan Aspirin Dosis Rendah sebagai Profilaksis untuk Pencegahan Preeklampsia

Gambar illustrasi AI
FORMOSA NEWS- Jember

Pengalaman dan Kompetensi Bidan Menentukan Keberhasilan Aspirin Dosis Rendah Cegah Preeklamsia

Pencegahan preeklamsia di layanan kesehatan primer Indonesia sangat bergantung pada pengalaman dan kompetensi bidan sebagai garda terdepan pelayanan ibu hamil. Hal ini terungkap dalam artikel ilmiah karya Sendy Dwi Pertiwi, Al-Munawir, dan Tecky Indriana dari Universitas Jember yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Contemporary Sciences. Penelitian ini menyoroti bagaimana pengalaman nyata bidan dalam praktik sehari-hari memengaruhi keberhasilan pemberian aspirin dosis rendah sebagai upaya pencegahan preeklamsia, salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia.

Preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan gangguan organ setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini masih menjadi tantangan besar kesehatan ibu, terutama di daerah dengan keterbatasan akses layanan spesialistik. Karena itu, temuan penelitian ini penting untuk memperkuat kebijakan dan praktik pelayanan kebidanan berbasis pencegahan.

Preeklamsia dan Tantangan Layanan Primer

Di tingkat global maupun nasional, gangguan hipertensi dalam kehamilan menyumbang angka kematian ibu yang signifikan. Organisasi kesehatan internasional merekomendasikan aspirin dosis rendah bagi ibu hamil berisiko tinggi untuk menurunkan kemungkinan terjadinya preeklamsia. Namun, keberhasilan rekomendasi ini sangat bergantung pada tenaga kesehatan yang menjalankannya di lapangan.

Di Indonesia, bidan memegang peran sentral dalam pelayanan antenatal, terutama di puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama. Mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan rutin, tetapi juga skrining risiko, edukasi, pemberian obat, dan pemantauan kepatuhan ibu hamil. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek manusia—pengalaman, keyakinan profesional, dan kemampuan komunikasi—menjadi faktor kunci dalam pencegahan preeklamsia yang efektif.

Pendekatan Penelitian yang Digunakan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, yang berfokus pada pengalaman hidup subjek penelitian. Data dikumpulkan di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur, melalui:

  • wawancara mendalam dengan delapan bidan yang aktif memberikan pelayanan antenatal,
  • penggalian pengalaman bidan dalam meresepkan dan memantau penggunaan aspirin dosis rendah,
  • analisis tematik untuk menemukan pola kompetensi, tantangan, dan pengambilan keputusan klinis.

Pendekatan ini memberikan gambaran utuh tentang bagaimana kebijakan pencegahan diterapkan dalam praktik nyata, bukan sekadar di atas kertas.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi bidan dalam pencegahan preeklamsia berkembang secara bertahap dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung di lapangan. Beberapa temuan penting antara lain:

  • Perjalanan dari ragu ke percaya diri, Banyak bidan mengaku awalnya ragu memberikan aspirin pada ibu hamil karena kekhawatiran efek samping dan respons pasien. Seiring waktu, kepercayaan diri meningkat setelah melihat hasil klinis yang positif, seperti tekanan darah yang lebih stabil.
  • Pengalaman klinis memperkuat penilaian risiko, Bidan dengan jam terbang lebih tinggi cenderung lebih cepat mengenali faktor risiko preeklamsia dan lebih mantap mengambil keputusan pencegahan.
  • Komunikasi menentukan kepatuhan ibu hamil, Keberhasilan aspirin dosis rendah tidak hanya bergantung pada resep, tetapi juga pada kemampuan bidan menjelaskan manfaat dan risiko dengan bahasa yang mudah dipahami.
  • Dukungan sistem masih belum merata, Perbedaan akses pelatihan, panduan klinis, dan ketersediaan obat menyebabkan variasi praktik antar fasilitas kesehatan.
  • Dilema etika dalam praktik, Bidan kerap menghadapi situasi ketika ibu hamil menolak obat. Dalam kondisi ini, bidan harus menyeimbangkan prinsip otonomi pasien dan tanggung jawab pencegahan risiko.

Dampak bagi Kebijakan dan Pelayanan Kesehatan

Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pencegahan preeklamsia tidak bisa hanya mengandalkan pedoman klinis. Peningkatan kapasitas bidan menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan kesehatan ibu.

Bagi pembuat kebijakan dan pengelola layanan kesehatan, penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting:

  • perlunya pelatihan berkelanjutan berbasis pengalaman dan studi kasus,
  • penguatan peran bidan sebagai pengambil keputusan klinis di layanan primer,
  • peningkatan kualitas komunikasi kesehatan sebagai bagian dari intervensi pencegahan,
  • penyediaan sistem pendukung yang konsisten, mulai dari ketersediaan obat hingga supervisi profesional.

Dengan dukungan yang tepat, bidan dapat menjadi agen utama pencegahan preeklamsia dan berkontribusi langsung pada penurunan angka kematian ibu.

Perspektif Penulis

Dalam analisisnya, Sendy Dwi Pertiwi dari Universitas Jember menegaskan bahwa kompetensi bidan tidak terbentuk secara instan. Kompetensi tumbuh melalui pengalaman klinis, refleksi praktik, serta dukungan sistem kesehatan yang memadai. Ketika pengalaman lapangan selaras dengan pengetahuan berbasis bukti, kualitas pelayanan ibu hamil meningkat secara nyata.

Profil Penulis

  • Sendy Dwi Pertiwi, M.PH – Dosen dan peneliti di Program Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember. Keahlian pada kesehatan ibu dan anak serta penelitian kualitatif.
  • Al-Munawir, M.PH – Akademisi Universitas Jember dengan fokus pada sistem kesehatan dan pelayanan preventif.
  • Tecky Indriana, M.Kes – Peneliti kesehatan masyarakat Universitas Jember, bidang promosi dan kesehatan komunitas.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Exploring Midwives’ Lived Experience and Competence in Low-Dose Aspirin Prophylaxis for Preeclampsia Prevention
Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences
Tahun: 2026


Posting Komentar

0 Komentar