Bengkalis—
CSR Migas Bengkalis Dinilai Selaras SDGs, Tapi Dampaknya Belum Merata. Penelitian
yang dilakukan oleh Rinto dan Emerita Siti Naaishah Hambali dari Universitas
Islam Malaysia, serta DR Hainnur Aqma Rahim dari Universitas Teknologi Mara.
Artikel ini dipublikasikan pada International Journal of Management Analytics
(IJMA), Vol. 4 No. 1, Januari 2026.
Penelitian
yang dilakukan oleh Rinto,Emerita, Dr Hainur Aqma Rahim mengungkap bahwa program
tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di sektor minyak dan gas Kabupaten
Bengkalis, Riau, dinilai sudah mengacu pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(Sustainable Development Goals/SDGs), namun implementasinya masih menghadapi
tantangan keberlanjutan dan pemerataan manfaat.
Mengapa
Bengkalis Jadi Sorotan?
Kabupaten
Bengkalis dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak terbesar di
Indonesia. Kontribusi sektor migas terhadap ekonomi daerah sangat signifikan.
Namun, dominasi industri ekstraktif tidak otomatis berbanding lurus dengan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Data
sosial-ekonomi daerah menunjukkan masih adanya kemiskinan, ketimpangan, serta
risiko ekologis. Di sisi lain, perusahaan migas telah menjalankan berbagai
program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat, dan
lingkungan. Pertanyaannya: apakah program tersebut benar-benar menjawab
kebutuhan prioritas daerah dan selaras dengan SDGs?
Temuan
Utama: SDGs Jadi Rujukan, Tapi Belum Terlembaga Kuat
Penelitian
menemukan adanya kesepahaman lintas aktor bahwa SDGs telah menjadi kerangka
normatif utama dalam perancangan CSR di wilayah operasi migas Bengkalis.
Program
CSR PHR banyak difokuskan pada:
- Penyediaan
air bersih dan sanitasi
- Pencegahan
stunting dan layanan kesehatan
- Dukungan
pendidikan
- Pemberdayaan
UMKM
- Pelatihan
vokasi
- Program
lingkungan
Dari
sisi konsep, CSR tidak lagi diposisikan sekadar sebagai filantropi, melainkan
sebagai strategi shared value antara perusahaan, pemerintah daerah, dan
masyarakat.
Namun,
penelitian juga mengidentifikasi sejumlah celah:
- Distribusi
manfaat program belum merata
- Keberlanjutan
program masih lemah
- Evaluasi
berbasis dampak belum terinstitusionalisasi kuat
- Kolaborasi
multi-pemangku kepentingan belum optimal
Rinto
dan tim menegaskan bahwa integrasi CSR–SDGs di sektor migas masih dalam tahap
transisi. Orientasi strategis sudah ada, tetapi belum sepenuhnya tertanam dalam
sistem tata kelola, indikator kinerja, dan mekanisme evaluasi terukur.
CSR
Harus Sejalan dengan RPJMD dan RPJPD
Analisis
lanjutan menunjukkan bahwa pembangunan Bengkalis berjalan dalam dua kerangka
besar:
- RPJMD
2025–2029 (jangka menengah)
- RPJPD
2025–2045 (jangka panjang)
RPJMD
lebih menekankan penguatan kesehatan, pendidikan, dan kemitraan. Sementara
RPJPD memprioritaskan transformasi struktural seperti keberlanjutan lingkungan,
infrastruktur, tata kelola, dan transformasi ekonomi.
Implikasinya
bagi perusahaan migas jelas:
CSR tidak boleh berdiri sendiri. Program sosial harus sinkron dengan prioritas
pembangunan daerah, baik jangka menengah maupun jangka panjang.
Menurut
para peneliti, CSR yang efektif di Bengkalis harus memenuhi tiga prasyarat:
- Perencanaan
berbasis kebutuhan lokal dan target SDGs
- Sistem
monitoring dan evaluasi yang terukur
- Kolaborasi
inklusif antara perusahaan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat
Tanpa
itu, CSR berisiko menjadi sekadar kepatuhan administratif atau strategi
reputasi, bukan instrumen pemberdayaan berkelanjutan.
Dampak
Lebih Luas bagi Industri Migas Indonesia
Temuan
ini relevan bagi daerah ekstraktif lain di Indonesia. Sektor migas dan tambang
kerap menghadapi konflik sosial dan isu lingkungan. Penyelarasan CSR dengan
SDGs dan kebijakan daerah dapat memperkuat social license to operate
sekaligus meningkatkan legitimasi perusahaan.
Secara
konseptual, studi ini menegaskan perlunya reposisi CSR sektor migas:
dari kepatuhan dan citra menuju tata kelola berbasis dampak dan keberlanjutan.
Model integratif CSR–SDGs yang dianalisis dalam studi Bengkalis berpotensi direplikasi di wilayah ekstraktif lain yang menghadapi tantangan serupa.
Profil
Singkat Penulis
- Rinto_Universitas Islam Malaysia
- Emerita Siti Naaishah Hambali_Universitas Islam Malaysia
- Hainnur Aqma Rahim_Universitas Teknologi Mara
Sumber
Penelitian
Rinto, Hambali, E. S. N., & Rahim, H. A. (2026). Assessing SDG-Aligned CSR Programs for Community Welfare Empowerment: Evidence from Indonesia’s Oil and Gas Sector Bengkalis Regency. International Journal of Management Analytics (IJMA), Vol. 4 No. 1
DOI:https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.304 URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma
.png)
0 Komentar