Indonesia— Kunci Pengalaman Pelanggan Omni-Channel
INJOURNEY Ada pada Integrasi IT, Bukan Sekadar Banyak Aplikasi. Penelitian
uyang dilakukan oleh Dedy Pranata Simangunsong dan Lijan Poltak
Sinambela dari Universitas Nasional, Indonesia, yang dipublikasikan
pada Januari 2026 di International Journal of Management Analytics
(IJMA).
Penelitian uyang dilakukan oleh Dedy
Pranata Simangunsong dan Lijan Poltak Sinambela menegaskan bahwa
pengalaman pelanggan yang mulus dari online ke offline ternyata bukan hasil
“punya banyak kanal”, melainkan hasil integrasi teknologi informasi (IT) yang
rapi di belakang layar.
Melalui kajian tentang ekosistem INJOURNEY (holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata), kedua peneliti menunjukkan bahwa pengalaman pelanggan omni-channel muncul ketika perusahaan mampu mengorkestrasi IT lintas anak usaha secara sistematis. Hasilnya penting karena INJOURNEY mengelola layanan yang sangat kompleks: bandara, penerbangan, pariwisata, hotel, retail, hingga destinasi budaya—semuanya berhubungan langsung dengan pelanggan yang berpindah kanal secara cepat.
Mengapa
Omni-Channel Sering Gagal Meski Perusahaan Sudah “Go Digital”?
Dalam
banyak kasus, perusahaan sudah punya aplikasi, website, media sosial, dan
layanan offline. Namun pelanggan tetap merasa:
- informasi
berbeda antara aplikasi dan loket
- harga
dan ketersediaan tidak sinkron
- proses
transaksi berbeda-beda
- layanan
terasa “pecah”, tidak menyatu
Penelitian
ini menjelaskan bahwa masalah utama bukan pada kurangnya aplikasi, melainkan sistem
yang tidak terintegrasi. Ketika data dan proses tidak terhubung, pelanggan
akan merasakan pengalaman yang tidak konsisten.
Inilah
yang kemudian dikaitkan oleh peneliti dengan teori manajemen strategis bernama Resource
Orchestration Theory: keunggulan perusahaan bukan hanya ditentukan oleh
“punya sumber daya”, tetapi oleh kemampuan manajemen dalam menyusun,
menggabungkan, dan memanfaatkan sumber daya itu.
Dalam
konteks ekosistem digital, sumber daya paling penting adalah IT.
Apa
yang Diteliti Simangunsong dan Sinambela?
Simangunsong
dan Sinambela menganalisis bagaimana IT orchestration (pengelolaan
integrasi IT lintas unit) dapat menghasilkan omni-channel customer
experience sebagai hasil strategis.
Mereka
fokus pada INJOURNEY sebagai contoh nyata karena INJOURNEY merupakan ekosistem
layanan yang terdiri dari banyak entitas dan anak perusahaan, dengan sistem
yang beragam.
Metode
Penelitian: Kajian Literatur + Data Resmi Laporan Tahunan INJOURNEY
Penelitian
ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan:
- Library
research (kajian
literatur sistematis)
- Descriptive-analytical
method (analisis
deskriptif dan interpretatif)
- Data
sekunder dari Laporan
Tahunan INJOURNEY 2024 sebagai rujukan empiris utama
Dengan
cara ini, peneliti tidak melakukan survei pelanggan, tetapi menelusuri
bagaimana orkestrasi IT terjadi secara nyata melalui kebijakan, tata kelola,
konsolidasi aplikasi, implementasi ERP, dan hasil efisiensi biaya.
Temuan
Utama: Omni-Channel Muncul Karena Integrasi Ekosistem, Bukan Inisiatif Kanal
Terpisah
Salah
satu kesimpulan paling kuat dalam studi ini adalah:
Omni-channel
customer experience di INJOURNEY muncul sebagai hasil integrasi IT lintas
ekosistem, bukan karena setiap kanal bekerja sendiri-sendiri.
Artinya,
bukan karena bandara punya aplikasi sendiri, hotel punya sistem sendiri, atau
retail punya platform sendiri. Yang menentukan adalah: apakah semuanya
tersambung dan konsisten.
Angka
Kunci dari INJOURNEY yang Diungkap Penelitian
Penelitian
ini menampilkan beberapa angka penting yang memperkuat argumen bahwa orkestrasi
IT adalah inti strategi omni-channel:
1)
INJOURNEY mengelola 165 aplikasi lintas anak usaha
Namun,
INJOURNEY menargetkan konsolidasi menjadi 45 aplikasi inti pada 2027.
Ini
menunjukkan bahwa transformasi digital yang efektif bukan memperbanyak
aplikasi, tetapi mengurangi fragmentasi.
2)
Peningkatan IT Maturity Level
Skor
kematangan IT INJOURNEY meningkat dari:
- 2,86
(2023)
- menjadi
3,15 (2024)
Peningkatan
ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam tata kelola, standar, dan
pengelolaan IT secara institusional.
3)
Implementasi ERP lintas entitas menghasilkan efisiensi biaya
INJOURNEY
mengimplementasikan sistem ERP grup yang mencakup 26 blok proses bisnis.
Hasilnya:
efisiensi biaya sebesar Rp27,03 miliar pada 2024.
Contoh
Nyata: Integrasi Platform Pariwisata INJOURNEY
Penelitian
juga menyoroti langkah konkret berupa pengembangan Tourism Collaborative
Platform (TCP).
Pada
2024, TCP berhasil mengintegrasikan data inventori dari seluruh sub-holding
INJOURNEY. TCP kemudian terhubung dengan super app Livin by Mandiri,
yang mulai aktif pada 17 Desember 2024 untuk transaksi real-time
seperti:
- reservasi
hotel
- tiket
atraksi budaya
Ini
menjadi contoh jelas bagaimana integrasi IT langsung berdampak pada pengalaman
pelanggan lintas kanal.
Kenapa
Integrasi IT Bisa Mengubah Pengalaman Pelanggan?
Peneliti
merangkum bahwa omni-channel customer experience bukan hanya soal tampilan
aplikasi, tetapi terbentuk dari 5 elemen integrasi:
- Integrasi
kanal
(online-offline tersambung)
- Konsistensi
konten
(informasi sama di semua kanal)
- Konsistensi
proses (alur
transaksi seragam)
- Integrasi
touchpoint
(pembayaran, booking, layanan menyatu)
- Kontinuitas
pengalaman (data
real-time dan personalisasi)
Jika
salah satu elemen ini tidak terkelola, pelanggan akan merasakan pengalaman yang
“patah-patah”.
Implikasi:
Bukan Hanya Untuk INJOURNEY, Tapi untuk Banyak Perusahaan di Indonesia
Studi
ini membawa pesan yang relevan bagi:
1)
Dunia usaha dan holding company
Perusahaan
besar sering memiliki banyak anak usaha dengan sistem berbeda. Penelitian ini
menegaskan bahwa:
- integrasi
sistem = aset strategis
- konsolidasi
aplikasi = langkah penting
- ERP
grup = bukan sekadar efisiensi, tetapi fondasi pengalaman pelanggan
2)
Kebijakan publik dan BUMN
Penelitian
menyebut bahwa INJOURNEY mengadopsi pendekatan IT governance yang selaras
dengan regulasi BUMN, termasuk kebijakan integrasi arsitektur IT.
Ini berarti digitalisasi BUMN idealnya tidak dinilai dari “berapa aplikasi diluncurkan”, tetapi dari seberapa terorkestrasi sistemnya.
3)
Pendidikan dan riset manajemen
Penelitian
ini memperluas penggunaan Resource Orchestration Theory ke konteks baru:
ekosistem digital.
Menurut
peneliti, IT tidak lagi hanya alat operasional, melainkan mekanisme strategis
untuk:
- menyusun
sumber daya digital (structuring)
- menggabungkan
sistem (bundling)
- memanfaatkan
platform (leveraging)
Kutipan
Parafrase Akademik (Versi Populer)
Simangunsong
dan Sinambela dari Universitas Nasional menegaskan bahwa pengalaman pelanggan
omni-channel bukan hasil dari “inisiatif kanal” yang berdiri sendiri, tetapi
hasil dari integrasi sistem yang terkoordinasi di tingkat ekosistem.
Profil
Singkat Penulis
- Dedy
Pranata Simangunsong
-Universitas Nasional, Indonesia
- Lijan
Poltak Sinambela -Universitas
Nasional, Indonesia
Sumber
Penelitian
Dedy
Pranata Simangunsong & Lijan Poltak Sinambela . Extending
Resource Orchestration Theory in Digital Ecosystems: Information Technology
Orchestration and Omni-Channel Customer Experience in INJOURNEY International
Journal of Management Analytics (IJMA) Vol. 4, No. 1
DOI:https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.221
.png)
0 Komentar