Memperkuat Karakter Toleransi Beragama dan Komunikasi Antarbudaya di SMP Negeri 1 Sibabangun

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS Sekolah Berperan Kunci Tanamkan Toleransi Beragama dan Komunikasi Antarbudaya pada Siswa SMP

Penelitian terbaru yang ditulis oleh Nurul Mursida Siregar dan Icol Dianto dari Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary menegaskan pentingnya sekolah dalam memperkuat karakter toleransi beragama dan komunikasi antarbudaya di kalangan siswa. Studi yang diterbitkan pada International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) Vol.4 No.1 tahun 2026 ini menyoroti praktik pendidikan di SMP Negeri 1 Sibabangun, sebuah sekolah dengan latar belakang siswa yang beragam secara agama dan budaya. Temuan penelitian menjadi penting karena Indonesia dikenal sebagai negara multikultural, sehingga pendidikan toleransi dinilai sebagai fondasi untuk menjaga harmoni sosial sejak usia remaja. 

Para peneliti menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup diajarkan sebagai teori. Nilai tersebut harus dibiasakan melalui interaksi sehari-hari, keteladanan guru, serta integrasi dalam proses pembelajaran agar siswa tumbuh menjadi individu inklusif dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. 


Sekolah sebagai Miniatur Masyarakat Multikultural

Indonesia memiliki keragaman agama, etnis, bahasa, dan adat yang menjadi kekuatan sekaligus potensi konflik jika tidak dikelola dengan baik. Dalam konteks ini, sekolah berfungsi sebagai ruang sosial tempat siswa belajar menghargai perbedaan sejak dini. 

SMP Negeri 1 Sibabangun dipilih sebagai fokus kajian karena mencerminkan realitas tersebut. Interaksi lintas agama dan budaya terjadi baik di kelas maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler, menjadikannya laboratorium sosial yang ideal untuk menanamkan nilai saling menghormati. Namun, tanpa strategi pendidikan yang tepat, keberagaman juga dapat memicu stereotip atau sikap eksklusif di kalangan remaja. 

Penelitian ini menekankan bahwa masa SMP merupakan fase awal pembentukan identitas sosial. Jika perbedaan dikelola sebagai sumber pembelajaran, siswa berpotensi berkembang menjadi pribadi yang lebih empatik dan terbuka.


Metode Kajian Literatur untuk Memetakan Strategi Pendidikan

Alih-alih melakukan survei lapangan, Siregar dan Dianto menggunakan metode literature review dengan menelaah buku akademik, artikel jurnal, dokumen kebijakan pendidikan, serta penelitian relevan yang terbit dalam sekitar sepuluh tahun terakhir. Pendekatan ini memungkinkan peneliti membangun kerangka konseptual yang kuat mengenai pendidikan karakter, toleransi beragama, dan komunikasi antarbudaya. 

Data kemudian dianalisis secara deskriptif dan komparatif untuk menemukan pola, persamaan, serta perbedaan pandangan para ahli sebelum dirumuskan menjadi kesimpulan konseptual yang dapat diterapkan dalam konteks sekolah menengah pertama. 


Temuan Utama Penelitian

Studi ini menghasilkan sejumlah temuan penting yang relevan bagi dunia pendidikan:

1. Toleransi adalah nilai karakter fundamental
Toleransi tidak hanya berarti menerima keberadaan agama lain, tetapi juga menghormati praktik keagamaan dan menghindari diskriminasi. Nilai ini menjadi indikator keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. 

2. Komunikasi antarbudaya memperkuat empati siswa
Komunikasi yang terbuka membantu siswa memahami perspektif berbeda, mengurangi prasangka, dan mendorong hubungan sosial yang sehat. 

3. Keteladanan guru sangat menentukan
Guru berperan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga model perilaku. Sikap adil, terbuka, dan non-diskriminatif terbukti memengaruhi cara siswa memandang perbedaan. 

4. Toleransi harus dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan
Memberi ruang ibadah, menghargai hari besar keagamaan, serta mendorong dialog menjadi contoh konkret pendidikan toleransi di sekolah. 

5. Pendekatan holistik menciptakan lingkungan inklusif
Kolaborasi antara kebijakan sekolah, budaya institusi, dan keterlibatan komunitas membantu membangun suasana belajar yang harmonis. 


Strategi Efektif Menanamkan Toleransi

Penelitian mengidentifikasi beberapa strategi yang dapat diterapkan sekolah:

  • Mengintegrasikan nilai toleransi dalam berbagai mata pelajaran. 
  • Membangun budaya sekolah yang menekankan dialog dan kebersamaan. 
  • Mengadakan proyek kolaboratif lintas budaya agar siswa bekerja menuju tujuan bersama. 
  • Mengelola konflik melalui komunikasi terbuka dan mediasi. 
  • Melibatkan orang tua serta masyarakat agar nilai yang diajarkan di sekolah konsisten di luar lingkungan pendidikan. 

Di era digital, sekolah juga perlu memperkuat literasi media agar siswa mampu menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh narasi intoleransi atau ujaran kebencian. 


Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski penting, implementasi pendidikan toleransi tidak selalu mudah. Peneliti mencatat beberapa hambatan utama, antara lain perbedaan nilai yang dibawa siswa dari keluarga, keterbatasan keterampilan komunikasi, kurikulum yang padat, serta kurangnya pelatihan guru terkait pendidikan multikultural. 

Selain itu, paparan informasi di media digital dapat memengaruhi cara pandang siswa terhadap perbedaan jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. 

Namun demikian, keberhasilan menanamkan toleransi terbukti berdampak luas. Siswa yang terbiasa hidup dalam lingkungan inklusif menunjukkan empati lebih tinggi, kemampuan kerja sama yang lebih baik, serta kecakapan menyelesaikan konflik secara damai. 


Dampak Jangka Panjang bagi Masyarakat

Menurut Siregar dan Dianto, pendidikan toleransi tidak hanya berpengaruh pada hubungan sosial di sekolah, tetapi juga membentuk warga negara yang demokratis dan menghargai keberagaman. Sekolah menjadi titik awal pembentukan generasi yang mampu menjaga persatuan di tengah masyarakat plural. 

Lingkungan belajar yang aman dan nyaman juga mendukung pencapaian akademik secara keseluruhan. Dengan kata lain, toleransi bukan sekadar nilai moral, melainkan investasi sosial jangka panjang.


Profil Penulis

Nurul Mursida Siregar merupakan akademisi di Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary yang menaruh perhatian pada pendidikan karakter, toleransi beragama, dan komunikasi pendidikan.

Icol Dianto adalah dosen di universitas yang sama dengan fokus kajian pada pendidikan, moderasi beragama, serta pengembangan nilai sosial dalam lingkungan sekolah.

Keduanya aktif meneliti isu pendidikan inklusif sebagai bagian dari upaya memperkuat harmoni di masyarakat multikultural.


Sumber Penelitian

Siregar, Nurul Mursida & Dianto, Icol. “Strengthening the Character of Religious Tolerance and Intercultural Communication at SMP Negeri 1 Sibabangun.” International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol.4 No.1, 2026. Open-access di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0. 

Posting Komentar

0 Komentar