Peer Support dan Iklim Sekolah Dinilai Kunci Bangun Budaya Anti-Bullying di Sekolah Menengah


Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Sulawesi Selatan - Peer Support dan Iklim Sekolah Dinilai Kunci Bangun Budaya Anti-Bullying di Sekolah Menengah. Penelitian ini dilakukan oleh Muh. Amar, Andi Kasmawati, Mustaring, Najamuddin, Bakhtiar, dan Fitriani K dari Universitas Negeri Makassar dalam artikel ilmiah yang terbit di Asian Journal of Management Analytics (AJMA) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Penelitian ini menyoroti bahwa sistem dukungan teman sebaya (peer support system) dan manajemen iklim sekolah yang inklusif berperan strategis dalam membangun budaya anti-bullying yang berkelanjutan.

Perundungan Berakar pada Budaya dan Iklim Sekolah

Para peneliti menemukan bahwa perundungan di sekolah bukan sekadar tindakan individu, melainkan berkaitan erat dengan iklim sosial sekolah dan nilai budaya patriarkal yang masih kuat. Anak laki-laki yang dianggap “tidak cukup maskulin” dan anak perempuan yang dinilai “terlalu aktif” atau melanggar norma sosial lebih rentan menjadi sasaran ejekan, pengucilan, hingga kekerasan simbolik.

Di banyak kasus, perundungan tidak dilaporkan karena adanya budaya diam, baik di kalangan siswa maupun orang tua. Perilaku mengejek, memberi label negatif, hingga mempermalukan korban di media sosial sering dianggap sebagai hal wajar dalam pergaulan remaja. Akibatnya, sekolah kerap terlambat merespons atau hanya bertindak reaktif ketika kasus sudah membesar.

Empat Bentuk Perundungan yang Paling Dominan

Studi ini mengidentifikasi empat bentuk perundungan yang paling sering terjadi di sekolah menengah Jeneponto, yaitu:

  • Perundungan fisik, seperti mendorong atau memukul siswa yang dianggap lemah.
  • Perundungan verbal, berupa ejekan, hinaan, dan pelabelan negatif, baik di kelas maupun grup WhatsApp.
  • Perundungan sosial atau relasional, seperti pengucilan dari kelompok belajar atau penyebaran gosip.
  • Perundungan siber, termasuk body-shaming dan penyebaran foto atau rumor melalui media sosial.

Keempat bentuk ini saling terkait dan diperkuat oleh norma sosial yang menekan siswa agar menyesuaikan diri dengan ekspektasi gender dan perilaku tertentu.

Teman Sebaya Jadi Kunci Dukungan Emosional

Salah satu temuan paling menonjol adalah peran peer support system sebagai jaringan dukungan emosional yang efektif. Dalam praktiknya, banyak siswa lebih nyaman menceritakan pengalaman perundungan kepada teman sebaya dibandingkan kepada guru atau konselor sekolah.

“Teman sebaya memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan yang lebih kuat, sehingga sering menjadi tempat pertama siswa mencari pertolongan,” tulis Muh. Amar dan tim dalam artikelnya. Dukungan ini membantu korban merasa didengar, tidak sendirian, dan lebih berani menghadapi situasi sulit.

Namun, penelitian juga mencatat bahwa sistem dukungan ini masih bersifat informal dan belum terstruktur. Tanpa pelatihan, pendampingan, dan kebijakan sekolah yang jelas, peran teman sebaya sulit bertahan dalam jangka panjang.

Implikasi bagi Pendidikan dan Kebijakan Publik

Penelitian ini memberikan pesan jelas bagi dunia pendidikan Indonesia: mencegah perundungan tidak cukup dengan aturan dan sanksi. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang melibatkan siswa, guru, pimpinan sekolah, orang tua, dan komunitas.

Integrasi sistem dukungan teman sebaya dengan pengelolaan iklim sekolah yang inklusif dinilai sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 5 tentang kesetaraan gender. Pendekatan ini juga relevan untuk merespons meningkatnya kasus perundungan siber, yang menuntut penguatan literasi digital dan empati di ruang daring.

Profil Singkat Penulis
Muh. Amar, M.Pd. – Universitas Negeri Makassar,
Keahlian: manajemen pendidikan dan pendidikan karakter.

Andi Kasmawati, M.Pd. – Universitas Negeri Makassar,
Keahlian: bimbingan dan konseling pendidikan.

Mustaring, M.Pd. – Universitas Negeri Makassar,
Keahlian: kepemimpinan dan iklim sekolah.

Najamuddin, M.Pd. – Universitas Negeri Makassar,
Keahlian: Pendidikan sosial dan budaya.

Bakhtiar, M.Pd. – Universitas Negeri Makassar,
Keahlian: Manajemen pendidikan.

Fitriani K., M.Pd. – Universitas Negeri Makassar, studi gender dan pendidikan.

Sumber penelitian

Amar, M., Kasmawati, A., Mustaring, Najamuddin, Bakhtiar, & Fitriani, K. (2026). Peer Support System and School Climate Management: A Strategic Approach to Building an Anti-Bullying Culture. Asian Journal of Management Analytics, Vol. 5 No. 1, hlm. 73–92.

DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i1.15967

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma

Posting Komentar

0 Komentar