Para peneliti menemukan bahwa perundungan di sekolah bukan sekadar tindakan individu, melainkan berkaitan erat dengan iklim sosial sekolah dan nilai budaya patriarkal yang masih kuat. Anak laki-laki yang dianggap “tidak cukup maskulin” dan anak perempuan yang dinilai “terlalu aktif” atau melanggar norma sosial lebih rentan menjadi sasaran ejekan, pengucilan, hingga kekerasan simbolik.
Di banyak kasus, perundungan tidak dilaporkan karena adanya budaya diam, baik di kalangan siswa maupun orang tua. Perilaku mengejek, memberi label negatif, hingga mempermalukan korban di media sosial sering dianggap sebagai hal wajar dalam pergaulan remaja. Akibatnya, sekolah kerap terlambat merespons atau hanya bertindak reaktif ketika kasus sudah membesar.
Empat Bentuk Perundungan yang Paling Dominan
Studi ini mengidentifikasi empat bentuk perundungan yang paling sering terjadi di sekolah menengah Jeneponto, yaitu:
- Perundungan fisik, seperti mendorong atau memukul siswa yang dianggap lemah.
- Perundungan verbal, berupa ejekan, hinaan, dan pelabelan negatif, baik di kelas maupun grup WhatsApp.
- Perundungan sosial atau relasional, seperti pengucilan dari kelompok belajar atau penyebaran gosip.
- Perundungan siber, termasuk body-shaming dan penyebaran foto atau rumor melalui media sosial.
Keempat bentuk ini saling terkait dan diperkuat oleh norma sosial yang menekan siswa agar menyesuaikan diri dengan ekspektasi gender dan perilaku tertentu.
Salah satu temuan paling menonjol adalah peran peer support system sebagai jaringan dukungan emosional yang efektif. Dalam praktiknya, banyak siswa lebih nyaman menceritakan pengalaman perundungan kepada teman sebaya dibandingkan kepada guru atau konselor sekolah.
“Teman sebaya memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan yang lebih kuat, sehingga sering menjadi tempat pertama siswa mencari pertolongan,” tulis Muh. Amar dan tim dalam artikelnya. Dukungan ini membantu korban merasa didengar, tidak sendirian, dan lebih berani menghadapi situasi sulit.
Namun, penelitian juga mencatat bahwa sistem dukungan ini masih bersifat informal dan belum terstruktur. Tanpa pelatihan, pendampingan, dan kebijakan sekolah yang jelas, peran teman sebaya sulit bertahan dalam jangka panjang.
Penelitian ini memberikan pesan jelas bagi dunia pendidikan Indonesia: mencegah perundungan tidak cukup dengan aturan dan sanksi. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang melibatkan siswa, guru, pimpinan sekolah, orang tua, dan komunitas.
Integrasi sistem dukungan teman sebaya dengan pengelolaan iklim sekolah yang inklusif dinilai sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 5 tentang kesetaraan gender. Pendekatan ini juga relevan untuk merespons meningkatnya kasus perundungan siber, yang menuntut penguatan literasi digital dan empati di ruang daring.
Keahlian: manajemen pendidikan dan pendidikan karakter.
Keahlian: bimbingan dan konseling pendidikan.
Keahlian: kepemimpinan dan iklim sekolah.
Keahlian: Pendidikan sosial dan budaya.
Keahlian: Manajemen pendidikan.
Sumber penelitian
Amar, M.,
Kasmawati, A., Mustaring, Najamuddin, Bakhtiar, & Fitriani, K. (2026). Peer
Support System and School Climate Management: A Strategic Approach to Building
an Anti-Bullying Culture. Asian Journal of Management Analytics,
Vol. 5 No. 1, hlm. 73–92.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i1.15967

0 Komentar