Membangun Organisasi Pembelajaran: Peran Pembagian Pengetahuan, Iklim Komunikasi, dan Kepercayaan Antarpersonal di Badan Transportasi Kota Ambon

Ilusstrasi by AI

Maluku Tiga Kunci Dinas Perhubungan Ambon Jadi “Learning Organization”: Berbagi Pengetahuan, Iklim Komunikasi, dan Kepercayaan. Penelitian uyang dilakukan oleh Felix Chandra dan Nurul Maghfirah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pattimura yang dipublikasikan pada Januari 2026 International Journal of Management Analytics (IJMA).

Penelitian uyang dilakukan oleh Felix Chandra dan Nurul Maghfirah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pattimura menegaskan bahwa Kemampuan instansi pemerintah untuk belajar cepat kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut bukan hanya berpengaruh, tetapi menjadi fondasi penting agar organisasi publik bisa beradaptasi, memperbaiki layanan, dan tidak terjebak dalam budaya kerja “jalan sendiri-sendiri”.

Masalah Utama: Teknologi Ada, Tapi Pengetahuan Tidak Mengalir

Penelitian ini menyoroti situasi yang cukup umum di birokrasi: fasilitas dan teknologi komunikasi sudah tersedia, tetapi budaya kerja belum mendukung proses belajar bersama.

Melalui wawancara awal, peneliti menemukan adanya mentalitas “silo”, yaitu kondisi ketika pegawai bekerja sendiri-sendiri tanpa memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan kolektif. Akibatnya, banyak pengetahuan hanya berhenti sebagai tacit knowledge (tersimpan di kepala individu), bukan berubah menjadi aset organisasi yang bisa dipakai bersama.

Penelitian ini menegaskan bahwa learning organization bukan sekadar konsep pelatihan atau workshop, melainkan kebiasaan kerja sehari-hari: saling berbagi, berdiskusi terbuka, dan percaya satu sama lain.

Apa Itu Learning Organization dan Mengapa Penting?

Dalam riset ini, Learning Organization dijelaskan sebagai organisasi yang mampu belajar secara terus-menerus sehingga bisa berpikir dan bertindak cepat menghadapi perubahan.

Peneliti mengutip gagasan Peter Senge bahwa Learning Organization adalah “wadah” bagi individu untuk terus mengembangkan kapasitas, membangun pola pikir baru, dan menguatkan aspirasi kolektif. Namun, dalam praktiknya, birokrasi sering terkendala budaya individualistis dan kekakuan sistem.

Untuk instansi seperti Dinas Perhubungan, kemampuan belajar ini sangat penting karena tantangan transportasi bersifat dinamis: masalah kemacetan, keselamatan, kebijakan lalu lintas, dan koordinasi lapangan selalu berubah.

Fokus Penelitian: Tiga Faktor Penentu Organisasi Pembelajar

Felix Chandra dan Nurul Maghfirah memusatkan perhatian pada tiga faktor internal yang sering diabaikan dalam reformasi birokrasi:

1) Knowledge Sharing (Berbagi Pengetahuan)

Penelitian memandang knowledge sharing sebagai aktivitas terstruktur untuk membagikan pengalaman, wawasan, dan konteks kerja dari satu pegawai ke pegawai lain.

Di lapangan, peneliti menemukan bahwa minimnya sistem penghargaan untuk berbagi informasi membuat pegawai kurang termotivasi membagikan pengetahuan.

2) Communication Climate (Iklim Komunikasi)

Iklim komunikasi dipahami sebagai persepsi bersama tentang apakah komunikasi dalam organisasi berlangsung terbuka, suportif, dan transparan.

Ketika iklim komunikasi buruk, pegawai cenderung enggan berdiskusi lintas bagian karena merasa ada hambatan psikologis dan ketakutan.

3) Interpersonal Trust (Kepercayaan Antarpegawai)

Kepercayaan interpersonal adalah keyakinan bahwa rekan kerja dapat dipercaya dan tidak menyalahgunakan informasi.

Penelitian menyoroti bahwa rendahnya trust membuat pegawai cenderung menyimpan informasi, karena takut disalahgunakan atau merasa rekan kerja tidak punya integritas.

Metode Penelitian: Survei Pegawai dan Analisis Statistik

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori, dengan data yang dikumpulkan melalui kuesioner.

  • Populasi: 62 pegawai Dinas Perhubungan
  • Sampel: 38 pegawai
  • Teknik sampling: simple random sampling
  • Perhitungan sampel: rumus Slovin
  • Analisis: regresi linear berganda menggunakan SPSS

Variabel-variabel diukur dengan indikator yang sudah umum digunakan dalam studi organisasi, misalnya:

  • knowledge donating dan knowledge collecting untuk knowledge sharing,
  • trust, openness, support, shared decision-making untuk iklim komunikasi,
  • reliability, emotionality, honesty untuk interpersonal trust,
  • indikator Marsick & Watkins untuk learning organization.

Hasil Utama: Ketiganya Berpengaruh Positif dan Signifikan

Hasil statistik menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap pembentukan Learning Organization.

Pengaruh Bersama (Uji F)

Secara simultan, ketiga variabel memberi pengaruh signifikan:

  • F hitung = 58,581
  • signifikansi = 0,000

Ini berarti peningkatan knowledge sharing, iklim komunikasi, dan kepercayaan interpersonal secara bersamaan akan memperkuat budaya organisasi pembelajar.

Pengaruh Parsial (Uji t)

1) Knowledge Sharing → Learning Organization

  • t hitung = 2,032
  • signifikansi = 0,050

2) Communication Climate → Learning Organization

  • t hitung = 2,275
  • signifikansi = 0,029

3) Interpersonal Trust → Learning Organization

  • t hitung = 2,141
  • signifikansi = 0,039

Ketiganya terbukti signifikan. Artinya, tidak ada faktor yang bisa diabaikan.

Persamaan Regresi: Trust Paling Besar Dampaknya

Penelitian juga menghasilkan persamaan regresi:

Y = 2,092 + 0,234X1 + 0,354X2 + 0,560X3

Keterangan:

  • X1 = Knowledge Sharing
  • X2 = Communication Climate
  • X3 = Interpersonal Trust
  • Y = Learning Organization

Dari angka koefisiennya, terlihat bahwa Interpersonal Trust (0,560) menjadi faktor dengan pengaruh paling besar.

Dengan kata lain: organisasi bisa punya forum sharing dan saluran komunikasi, tetapi jika pegawai tidak saling percaya, proses belajar kolektif akan tetap macet.

Penjelasan Temuan: Mengapa Tiga Faktor Ini Menentukan?

Knowledge Sharing: Pengalaman Kerja Jadi Aset Bersama

Peneliti menegaskan bahwa berbagi pengetahuan membantu pegawai memahami tugas lintas fungsi, meningkatkan kemauan belajar, serta menciptakan kebiasaan diskusi terbuka.

Dalam organisasi publik, hal ini penting karena pelayanan masyarakat membutuhkan koordinasi yang tidak bisa dikerjakan satu bagian saja.

Iklim Komunikasi: Transparansi Membuka Dialog Lintas Bagian

Iklim komunikasi yang baik menciptakan ruang aman untuk berdiskusi, memberi umpan balik, dan ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Penelitian menegaskan bahwa ketika pegawai merasa dihargai dan didengar, proses belajar muncul secara alami dan berkelanjutan.

Kepercayaan Interpersonal: “Lem” yang Menyatukan Proses Belajar

Trust menjadi fondasi psikologis yang memungkinkan pegawai berbagi informasi tanpa takut disalahgunakan.

Kepercayaan juga membuat pegawai berani mengakui kesalahan, menerima kritik, dan melihat umpan balik sebagai peluang perbaikan—bukan ancaman.

Dampak Praktis: Pelajaran untuk Banyak Instansi Pemerintah

Temuan ini memiliki dampak yang luas, bukan hanya untuk Dinas Perhubungan Kota Ambon.

1) Reformasi birokrasi tidak cukup dengan teknologi

Banyak instansi fokus pada digitalisasi, tetapi lupa membangun budaya berbagi dan trust. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi tanpa budaya hanya menjadi “alat yang sepi”.

2) Forum lintas bidang harus dibuat rutin

Peneliti merekomendasikan forum diskusi lintas sektor sebagai strategi konkret untuk mendorong knowledge sharing dan koordinasi.

3) Pemimpin harus menjaga transparansi

Keterbukaan informasi dari pimpinan menjadi kunci iklim komunikasi yang sehat. Ini juga berdampak langsung pada kepercayaan antarpegawai.

4) Trust adalah investasi jangka panjang

Kepercayaan tidak bisa dibangun lewat instruksi formal. Ia terbentuk melalui konsistensi, kejujuran, dan interaksi kerja yang adil.

Profil Singkat Penulis

  • Felix Chandra - Universitas Pattimura
  • Nurul Maghfirah - Universitas Pattimura

Sumber Penelitian

Felix, Nurul. Building a Learning Organization: The Role of Knowledge Sharing, Communication Climate, and Interpersonal Trust at the Ambon City Transportation Agency International Journal of Management Analytics (IJMA)Vol. 4 No. 1 (Januari 2026), hlm. 87–102

DOI: https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.283                                                                     

URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma


Posting Komentar

0 Komentar