Penelitian yang dilakukan pada semester pertama tahun ajaran 2025/2026 ini menjadi relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Akses informasi kini semakin mudah, tetapi tidak selalu diiringi kemampuan memilah sumber yang akurat dan tepercaya. Dalam konteks itu, perpustakaan sekolah tidak lagi cukup berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan dituntut menjadi pusat literasi digital yang aktif dan adaptif.
Dari Perpustakaan Konvensional ke Digital
Perpustakaan Primabaca berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB), sebuah yayasan pendidikan yang didirikan pada 1991 untuk melayani kebutuhan pendidikan anak-anak karyawan PT Kaltim Prima Coal di Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. Perpustakaan ini melayani satu unit taman kanak-kanak, tiga sekolah dasar, satu SMP, satu SMA, serta terbuka bagi masyarakat umum.
Seiring perkembangan teknologi dan pengalaman selama pandemi Covid-19, layanan perpustakaan mulai beralih ke format digital. Peralihan ini mencakup penggunaan sistem otomasi perpustakaan SLiMS, pengembangan aplikasi YPPSB Smart Library, serta penyediaan lebih dari 1.300 judul koleksi digital. Langkah tersebut bertujuan memperluas akses informasi dan menyesuaikan layanan dengan kebiasaan belajar generasi digital.
Cara Penelitian Dilakukan
Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan telaah dokumen. Narasumbernya meliputi kepala dan staf perpustakaan, guru, kepala sekolah, pengelola yayasan, siswa, hingga orang tua.
Alih-alih membahas istilah teknis, penelitian ini menyoroti praktik nyata pengelolaan perpustakaan digital dalam keseharian. Analisis difokuskan pada empat fungsi manajemen klasik—perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang diterapkan secara kontekstual di lingkungan sekolah.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen perpustakaan digital di Primabaca berjalan sistematis dan relatif efektif. Beberapa temuan kunci antara lain:
- Perencanaan strategis dan partisipatif. Yayasan, sekolah, dan guru terlibat langsung dalam merumuskan visi digitalisasi, pemetaan kebutuhan layanan, serta integrasi program literasi dengan kurikulum.
- Kolaborasi lintas unit. Pengelolaan perpustakaan tidak berdiri sendiri, tetapi melibatkan tim IT, divisi riset, dan multimedia untuk memastikan layanan digital berjalan optimal.
- Program literasi berbasis aktivitas. Perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi digital, tetapi juga mengadakan pelatihan literasi digital, pembuatan video edukasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membuat cerita animasi.
- Pengawasan berkelanjutan. Evaluasi dilakukan secara rutin melalui laporan bulanan, survei pengguna, serta pemantauan kendala teknis seperti jaringan internet dan kapasitas server.
Namun, penelitian juga menemukan tantangan penting. Meski kunjungan fisik ke perpustakaan tergolong tinggi mencapai lebih dari 12 ribu kunjungan dalam satu bulan pemanfaatan layanan digital masih relatif rendah. Rata-rata pengguna aktif layanan digital hanya puluhan orang per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan teknologi belum otomatis diikuti perubahan perilaku pengguna.
Literasi Informasi Lebih dari Sekadar Akses
Menurut Sugeng Bashori, tantangan utama bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia. “Literasi digital tidak cukup hanya bisa membuka aplikasi atau mengunduh buku. Yang lebih penting adalah kemampuan mengevaluasi dan memproduksi informasi,” ujarnya dalam laporan penelitian.
Karena itu, Perpustakaan Primabaca mengembangkan pendekatan “phygital”, menggabungkan layanan fisik dan digital. Program kreatif seperti pelatihan pembuatan konten digital dan penggunaan AI untuk kegiatan literasi terbukti membantu siswa dan guru naik ke level literasi yang lebih tinggi—dari sekadar konsumsi informasi menjadi produksi pengetahuan.
Guru juga dilibatkan sebagai fasilitator literasi. Dalam praktiknya, kualitas tugas siswa meningkat, terutama dalam hal penggunaan sumber tepercaya dan penyusunan daftar pustaka. Peran pustakawan pun bergeser menjadi “Librarian 2.0”, tidak hanya mengelola koleksi, tetapi juga menjadi pendamping belajar digital.
Dampak dan Implikasi Lebih Luas
Temuan ini menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah berbasis yayasan memiliki potensi besar sebagai motor penggerak literasi informasi. Model pengelolaan yang diterapkan di Primabaca dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain, terutama di daerah yang sedang beradaptasi dengan transformasi digital.
Bagi pembuat kebijakan pendidikan, studi ini menegaskan pentingnya investasi berimbang antara infrastruktur teknologi dan pengembangan kompetensi pengguna. Sementara bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini menyoroti perlunya kolaborasi erat antara perpustakaan, guru, dan manajemen sekolah agar literasi digital tidak berhenti sebagai program simbolik.
0 Komentar