Cimahi— Kinerja Lingkungan dan Beban Utang Menentukan Transparansi Emisi Karbon Perusahaan Indonesia. Temuan ini diungkap dalam reset Aldi Ardiansyah Ramadhan dan HN Hartikayanti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, melalui artikel ilmiah yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International Journal of Business and Applied Economics.
Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) berlokasi di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat, sebuah kota pendidikan dan militer yang berada di kawasan metropolitan Bandung Raya. Kampus ini dikenal aktif dalam riset ekonomi, bisnis, dan keberlanjutan, termasuk kajian akuntansi lingkungan dan transparansi perusahaan. Berbasis di Kota Cimahi, Jawa Barat, Universitas Jenderal Achmad Yani terus memperkuat perannya dalam menghasilkan riset yang relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Salah satu kontribusi terbaru datang dari kajian akademik di bidang akuntansi lingkungan yang mengulas bagaimana perusahaan-perusahaan industri mengungkapkan emisi karbon mereka di tengah tekanan perubahan iklim, regulasi pemerintah, dan tuntutan transparansi publik yang semakin kuat.
Transparansi karbon di tengah krisis iklim
Perubahan iklim kini menjadi isu kebijakan dan ekonomi
yang mendesak. Indonesia tercatat sebagai salah satu penghasil emisi karbon
terbesar di dunia, terutama akibat aktivitas industri, penggunaan energi fosil,
dan ekspansi sektor berbasis sumber daya alam. Pemerintah telah merespons
melalui berbagai regulasi, termasuk kebijakan penurunan emisi gas rumah kaca
dan pengaturan nilai ekonomi karbon.
Namun, pengungkapan emisi karbon oleh perusahaan di
Indonesia masih bersifat sukarela. Akibatnya, kualitas dan kelengkapan laporan
sangat bervariasi. Ada perusahaan yang menyajikan data emisi secara rinci dan
sistematis, tetapi tidak sedikit pula yang hanya memberikan informasi simbolis.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: faktor internal apa yang sebenarnya
mendorong atau menghambat keterbukaan perusahaan dalam melaporkan emisi karbon?
Penelitian Ramadhan dan Hartikayanti berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan memfokuskan perhatian pada sektor basic materials, seperti semen, bahan kimia, dan logam, yang dikenal memiliki intensitas emisi tinggi dan dampak lingkungan signifikan.
Cara penelitian dilakukan
Penelitian ini menganalisis 60 observasi
perusahaan-tahun yang berasal dari 10 perusahaan sektor basic materials
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2019–2024.
Perusahaan yang dipilih adalah perusahaan yang secara konsisten menerbitkan
laporan keberlanjutan dan tercatat dalam program PROPER Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Secara sederhana, pendekatan penelitian mencakup:
- Kinerja lingkungan, diukur menggunakan peringkat PROPER, dari hitam hingga emas.
- Leverage, yang
mencerminkan tingkat ketergantungan perusahaan pada utang.
- Financial slack, yaitu
ketersediaan kas relatif terhadap penjualan.
- Ukuran perusahaan, dilihat dari total aset.
- Pengungkapan emisi karbon, diukur berdasarkan indeks jumlah item pengungkapan yang disajikan
dalam laporan perusahaan.
Untuk melihat hubungan langsung dan peran moderasi ukuran perusahaan, peneliti menggunakan analisis regresi moderasi, metode statistik yang membantu memahami apakah suatu variabel memperkuat atau justru melemahkan pengaruh variabel lain.
Temuan utama penelitian
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup jelas,
meskipun tidak selalu intuitif:
- Kinerja lingkungan mendorong keterbukaan.
Perusahaan dengan kinerja lingkungan yang lebih baik cenderung mengungkapkan informasi emisi karbon lebih luas. - Utang tinggi menghambat pengungkapan.
Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi cenderung mengurangi pengungkapan emisi karbon. - Kelebihan kas tidak otomatis meningkatkan transparansi.
Financial slack tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan emisi karbon. - Ukuran perusahaan mengubah arah pengaruh kinerja lingkungan.
Pada perusahaan besar, pengaruh positif kinerja lingkungan terhadap pengungkapan justru melemah. Sebaliknya, perusahaan kecil dengan kinerja lingkungan baik lebih terdorong untuk terbuka.
Secara keseluruhan, variabel-variabel tersebut menjelaskan 48,3 persen variasi tingkat pengungkapan emisi karbon perusahaan sektor basic materials di Indonesia.
Mengapa kinerja lingkungan paling menentukan
Salah satu pesan terkuat dari penelitian ini adalah
pentingnya kinerja lingkungan sebagai pendorong transparansi. Perusahaan yang
meraih peringkat PROPER lebih tinggi tampak lebih percaya diri dalam
mengungkapkan data emisi karbonnya.
Secara etis, penulis menjelaskan bahwa perusahaan dengan kinerja lingkungan baik cenderung menggunakan pengungkapan emisi karbon sebagai sarana membangun dan mempertahankan legitimasi di mata publik. Dengan kata lain, ketika perusahaan yakin aktivitas lingkungannya dapat dipertanggungjawabkan, keterbukaan menjadi strategi untuk memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan.
Leverage sebagai penghambat transparansi
Sebaliknya, beban utang terbukti menjadi faktor
penghambat. Perusahaan dengan leverage tinggi lebih fokus pada pemenuhan
kewajiban kepada kreditur, sehingga pengungkapan sukarela, termasuk laporan
emisi karbon, sering dianggap sebagai beban tambahan.
Temuan ini mencerminkan realitas banyak perusahaan di negara berkembang, di mana tekanan keuangan jangka pendek sering kali lebih dominan dibandingkan komitmen jangka panjang terhadap transparansi lingkungan.
Peran ukuran perusahaan yang tidak selalu sejalan
dugaan
Secara umum, perusahaan besar diasumsikan lebih
transparan karena berada di bawah sorotan publik. Namun, penelitian ini
menunjukkan hasil yang lebih kompleks. Ukuran perusahaan justru melemahkan
pengaruh kinerja lingkungan terhadap pengungkapan emisi karbon.
Perusahaan besar dengan kinerja lingkungan baik cenderung merasa reputasinya sudah mapan, sehingga tidak melihat kebutuhan mendesak untuk mengungkapkan emisi karbon secara detail. Sebaliknya, perusahaan kecil memanfaatkan pengungkapan sebagai alat untuk meningkatkan legitimasi dan visibilitas.
Implikasi bagi kebijakan dan dunia usaha
Temuan ini membawa sejumlah implikasi penting:
- Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan sukarela memiliki
keterbatasan. Perusahaan dengan utang tinggi atau reputasi kuat tetap
berpotensi minim transparansi tanpa dorongan regulasi yang lebih tegas.
- Bagi perusahaan,
kinerja lingkungan yang baik merupakan modal strategis untuk membangun
kepercayaan publik melalui keterbukaan informasi.
- Bagi investor dan analis, tingkat pengungkapan emisi karbon perlu dibaca bersama struktur keuangan perusahaan, bukan semata-mata sebagai indikator kepedulian lingkungan.
Profil penulis
- Aldi Ardiansyah Ramadhan, S.E. - Universitas Jenderal Achmad Yani
- HN Hartikayanti, S.E., M.Si.- Universitas Jenderal Achmad Yani
Sumber Penelitian
Aldi Ardiansyah Ramadhan, HN Hartikayanti. Determinants of Carbon Emission Disclosure and the Moderating Role of Firm Size. Business and Applied Economics, Vol. 5 No. 1, Januari 2026, hlm. 359–378.2026
DOI:https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.568
URL Resmi: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae
.png)
0 Komentar