Literasi Digital Milenial Indonesia: Koneksi Meningkat, Kedekatan Emosional Menurun

AI Generated

FORMOSA NEWS - Revolusi teknologi digital mengubah cara generasi milenial Indonesia berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Penelitian yang ditulis Ryna Radiant, Michelle, dan Yohannes Don Bosco Doho dari LSPR Institute of Communication and Business ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI). Studi ini menyoroti kesenjangan antara kemampuan teknis milenial dalam menggunakan teknologi dan kemampuan kritis mereka dalam memahami serta mengevaluasi informasi digital. Temuan ini penting karena Indonesia memasuki era bonus demografi dan transformasi digital yang semakin cepat menuju Indonesia Emas 2045.

Indonesia kini memiliki penetrasi internet mencapai 79,3 persen populasi atau sekitar 221,5 juta pengguna pada 2025. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan 7 jam 38 menit per hari di internet, dengan lebih dari 3 jam digunakan untuk media sosial. Generasi milenial—yang lahir antara 1981 hingga 1996—menjadi kelompok paling aktif dalam penggunaan teknologi digital, baik untuk komunikasi, pekerjaan, transaksi ekonomi, maupun ekspresi diri.

Namun, di balik tingginya akses dan penggunaan tersebut, tingkat literasi digital nasional masih berada pada skor 3,47 dari skala 5. Artinya, akses teknologi belum sepenuhnya diimbangi kemampuan berpikir kritis, validasi informasi, dan kesadaran etis dalam ruang digital.

Menelaah Literasi Digital Milenial

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan menganalisis jurnal-jurnal ilmiah terbitan 2021–2025 dari berbagai sumber akademik bereputasi. Para penulis menelaah konsep literasi digital, pola komunikasi, dampak media sosial, serta strategi penguatan literasi dalam konteks Indonesia.

Hasil analisis menunjukkan beberapa temuan utama:

  1. Kemampuan teknis milenial tergolong tinggi. Mereka mahir menggunakan perangkat digital, aplikasi, dan platform media sosial.
  2. Kemampuan evaluatif dan kritis masih lemah. Banyak milenial belum optimal dalam memverifikasi informasi, mengenali hoaks, atau memahami bias algoritma.
  3. Terjadi kesenjangan antara literasi teknis dan literasi substantif. Penguasaan teknologi tidak selalu diiringi pemahaman etika, konteks, dan dampak komunikasi digital.

Menurut Yohannes Don Bosco Doho dan tim dari LSPR, literasi digital tidak boleh dipahami sekadar sebagai kemampuan mengoperasikan gawai. Literasi digital adalah kompetensi multidimensi yang mencakup aspek kognitif, sosial-emosional, dan etis dalam membangun makna di ruang digital.

Pergeseran Pola Komunikasi: Lebih Terhubung, Kurang Intim

Penelitian ini juga mengidentifikasi transformasi besar dalam komunikasi interpersonal milenial. Interaksi tatap muka semakin tergantikan oleh komunikasi berbasis teks, gambar, dan video melalui media sosial serta aplikasi pesan instan.

Mahasiswa Indonesia, misalnya, rata-rata menghabiskan 3–4 jam per hari di media sosial. Komunikasi menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi kehilangan banyak unsur nonverbal seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara yang penting untuk membangun kedekatan emosional.

Fenomena ini menciptakan paradoks:

  • Konektivitas meningkat secara global.
  • Kedalaman relasi interpersonal justru menurun.

Media sosial juga membentuk kebiasaan baru, seperti konstruksi identitas digital. Milenial membangun citra diri melalui unggahan, foto, dan narasi personal. Identitas tidak lagi sepenuhnya privat, melainkan menjadi konsumsi publik.

Dampak Psikologis dan Sosial

Penelitian ini mencatat bahwa intensitas penggunaan media sosial berkaitan dengan sejumlah tantangan psikologis, antara lain:

  • Fear of Missing Out (FoMO) atau kecemasan tertinggal informasi
  • Tekanan sosial untuk tampil sempurna
  • Ketergantungan pada validasi eksternal melalui “like” dan komentar
  • Risiko kecemasan dan depresi akibat perbandingan sosial

Meskipun media sosial memperluas jaringan dan membuka peluang partisipasi sosial maupun politik, kualitas interaksi tidak dapat diukur hanya dari frekuensi komunikasi atau jumlah koneksi digital.

Dalam konteks politik, literasi digital menjadi krusial. Generasi muda yang mendominasi pemilih aktif sangat rentan terhadap disinformasi, polarisasi, dan manipulasi narasi politik di media sosial. Tanpa kemampuan verifikasi dan berpikir kritis, ruang digital dapat menjadi sumber konflik sosial.

Strategi Penguatan Literasi Digital

Penelitian ini menegaskan bahwa solusi tidak cukup hanya dengan pelatihan teknis penggunaan teknologi. Diperlukan pendekatan komprehensif dan berlapis yang melibatkan individu, komunitas, dan institusi pendidikan.

Beberapa rekomendasi strategis yang diusulkan:

  • Integrasi literasi digital dengan pembelajaran kolaboratif dan berpikir kritis di kurikulum pendidikan.
  • Desain pedagogi yang secara sengaja melatih analisis informasi, diskusi daring berbasis argumen, dan produksi konten digital yang bertanggung jawab.
  • Edukasi tentang cara kerja algoritma dan perlindungan data pribadi.
  • Pengelolaan waktu digital melalui pembatasan penggunaan media sosial dan praktik digital detox.
  • Pembangunan budaya komunikasi digital yang empatik dan suportif.

Studi lain yang dianalisis dalam artikel ini menunjukkan bahwa model pembelajaran yang mengintegrasikan literasi digital, kolaborasi, dan berpikir kritis memperoleh skor efektivitas tinggi (rata-rata 4,31 dari 5). Artinya, desain pembelajaran yang tepat mampu membentuk kompetensi abad ke-21 secara nyata.

Menuju Ekosistem Digital yang Sehat

Kesimpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital milenial Indonesia berada dalam fase transisi. Mereka unggul dalam aspek teknis, tetapi masih perlu penguatan pada dimensi reflektif dan etis.

Transformasi komunikasi digital menghadirkan peluang besar untuk kolaborasi global, inovasi ekonomi, dan partisipasi demokratis. Namun tanpa literasi yang kuat, teknologi juga berpotensi menurunkan kualitas hubungan sosial dan kesejahteraan psikologis.

Ryna Radiant, Michelle, dan Yohannes Don Bosco Doho menekankan pentingnya intervensi multi-level untuk membangun ekosistem digital yang sehat—di mana teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber tekanan sosial.

Profil Penulis

Ryna Radiant adalah akademisi di LSPR Institute of Communication and Business dengan fokus pada komunikasi digital dan dinamika media sosial.

Michelle merupakan peneliti di bidang komunikasi dan interaksi sosial digital di LSPR Institute of Communication and Business.

Yohannes Don Bosco Doho, M.I.Kom. adalah dosen dan peneliti komunikasi di LSPR Institute of Communication and Business yang meneliti literasi digital, komunikasi interpersonal, dan transformasi media.

Sumber Penelitian

Radiant, R., Michelle., & Doho, Y. D. B. (2026). Digital Literacy of the Milennial Generation: Transforming Communication and Social Interaction in the Modern Era. International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI), Vol. 4 No. 1, 1–10.

Posting Komentar

0 Komentar