Penelitian yang dipublikasikan di Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 1 tahun 2026 ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi insektisida nabati dari kulit batang tembakau berbanding lurus dengan penurunan populasi dan intensitas serangan kutu kebul (Bemisia tabaci). Pada saat yang sama, hasil panen kentang meningkat signifikan, baik dari sisi jumlah maupun bobot umbi.
Masalah Kutu Kebul dan Ketergantungan Pestisida Kimia
Kutu kebul merupakan salah satu hama utama tanaman kentang di Indonesia. Hama ini merusak tanaman dengan cara mengisap cairan daun dan menjadi vektor berbagai virus tanaman. Di sentra produksi kentang seperti Sembalun, serangan kutu kebul dapat memangkas hasil panen hingga lebih dari setengahnya jika tidak dikendalikan dengan baik.
Selama ini, petani mengandalkan pestisida sintetis untuk mengatasi masalah tersebut. Cara ini memang cepat, tetapi menimbulkan persoalan baru, mulai dari resistensi hama, kematian musuh alami, pencemaran lingkungan, hingga residu kimia pada hasil panen. Kondisi inilah yang mendorong para peneliti Universitas Mataram mencari alternatif pengendalian hama yang lebih berkelanjutan.
Kulit batang tembakau Virginia dipilih karena mengandung senyawa nikotin dan berbagai fitokimia lain yang bersifat toksik bagi serangga. Di sisi lain, bahan ini melimpah sebagai limbah di daerah penghasil tembakau, sehingga berpotensi memberi nilai tambah ekonomi.
Bagaimana Penelitian Dilakukan
Penelitian dilakukan melalui percobaan lapangan menggunakan enam perlakuan konsentrasi insektisida nabati, mulai dari tanpa perlakuan hingga konsentrasi 10 persen. Tanaman kentang varietas Tedjo MZ ditanam dan dipantau secara rutin. Aplikasi insektisida nabati dilakukan setiap tujuh hari sejak tanaman berumur 28 hari setelah tanam hingga menjelang panen.
Pengamatan difokuskan pada tiga hal utama: jumlah populasi kutu kebul, intensitas serangan pada daun, serta hasil panen kentang yang diukur dari jumlah dan berat umbi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan langsung antara pengendalian hama dan produktivitas tanaman.
Temuan Utama: Hama Turun, Hasil Naik
Hasil penelitian menunjukkan pola yang sangat konsisten. Semakin tinggi konsentrasi insektisida nabati dari kulit batang tembakau, semakin rendah populasi kutu kebul di tanaman kentang.
Beberapa temuan penting antara lain:
· Populasi kutu kebul turun hingga 22,82 persen pada konsentrasi 10 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.
· Intensitas serangan hama menurun hingga 8,92 persen pada konsentrasi tertinggi.
· Setiap tambahan satu individu kutu kebul per tanaman meningkatkan intensitas serangan sekitar 1,27 persen, menegaskan kuatnya hubungan antara populasi hama dan tingkat kerusakan tanaman.
Dampak paling nyata terlihat pada hasil panen. Pada perlakuan insektisida nabati 10 persen, jumlah umbi kentang meningkat 66,67 persen, sementara berat umbi melonjak hingga 82,93 persen dibandingkan kontrol. Korelasi antara penurunan hama dan peningkatan hasil panen tergolong sangat kuat, mendekati hubungan sebab-akibat langsung.
Mengapa Kulit Batang Tembbakau Efektif
Menurut Srilah Nora Wahyuni dan tim, efektivitas insektisida nabati ini berasal dari kombinasi beberapa senyawa aktif. Nikotin bekerja sebagai racun saraf bagi serangga, sementara senyawa lain seperti flavonoid, saponin, dan terpenoid memperkuat efek toksik serta mengganggu perilaku makan hama.
Dengan berkurangnya tekanan hama, tanaman kentang dapat melakukan fotosintesis secara optimal dan menyalurkan energi ke pembentukan umbi. Inilah yang menjelaskan lonjakan hasil panen pada perlakuan dengan konsentrasi insektisida lebih tinggi.
Dampak bagi Petani dan Pertanian Berkelanjutan
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pertanian Indonesia. Bagi petani, insektisida nabati dari kulit batang tembakau menawarkan alternatif pengendalian hama yang lebih aman dan murah, karena bahan bakunya mudah diperoleh di sekitar lahan pertanian. Penggunaan limbah tembakau juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
Dari sisi kebijakan, penelitian ini mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan dan sejalan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Insektisida nabati dapat menjadi pelengkap, bahkan pengganti sebagian pestisida sintetis, sehingga menurunkan risiko resistensi hama dan kerusakan ekosistem.
Para peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengkaji ambang ekonomi penggunaan insektisida nabati ini serta uji coba pada varietas kentang lain dan kondisi agroekologi berbeda.
Profil Penulis
Srilah Nora Wahyuni. adalah mahasiswa dan peneliti pada Program Magister Pertanian Lahan Kering, Pascasarjana Universitas Mataram, dengan fokus pada pengendalian hama ramah lingkungan.
Taufik Fauzi. merupakan dosen dan peneliti Universitas Mataram di bidang proteksi tanaman dan agroekologi.
M. Sarjan. adalah guru besar Universitas Mataram dengan keahlian pertanian berkelanjutan dan sistem produksi tanaman.
Sumber Penelitian
Wahyuni, S. N., Fauzi, M. T., & Sarjan, M. (2026). Effectiveness of Botanical Insecticides from Virginia Tobacco Bark in Controlling Whiteflies and Increasing Potato Plant Productivity. Formosa Journal of Science and Technology,
Vol. 5 No. 1, hlm. 231–242.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.346
0 Komentar