Penelitian
tersebut menyoroti bagaimana guru sekolah menengah beradaptasi secara pedagogis
ketika mulai menggunakan AI dalam pembelajaran. Adaptasi pedagogis di sini
mencakup cara guru merancang strategi belajar, melakukan penilaian, mengelola
kelas, serta mengambil keputusan berbasis data. Di tengah derasnya promosi AI
sebagai solusi pendidikan, riset ini memberi gambaran realistis tentang apa
yang benar-benar terjadi di ruang kelas.
AI Sudah
Masuk Kelas, Tapi Belum Sepenuhnya Mengubah Cara Mengajar
Dalam
beberapa tahun terakhir, AI semakin sering hadir di sekolah melalui platform
pembelajaran adaptif, kuis daring otomatis, analisis hasil belajar, hingga
asisten virtual. Di tingkat sekolah menengah, teknologi ini dinilai potensial
karena siswa berada pada fase perkembangan kognitif yang membutuhkan pendekatan
personal dan umpan balik cepat.
Namun,
menurut para peneliti, teknologi tidak bekerja sendirian. Guru tetap menjadi
aktor utama yang menentukan apakah AI benar-benar memperkaya pembelajaran atau
hanya menjadi alat tambahan tanpa dampak signifikan.
“AI bisa
membantu personalisasi belajar, tetapi tanpa penyesuaian cara mengajar,
manfaatnya tidak akan maksimal,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Metode
Campuran untuk Membaca Realitas Lapangan
Penelitian
ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan survei
kuantitatif dengan wawancara mendalam dan observasi kelas. Respondennya adalah
guru sekolah menengah dari berbagai mata pelajaran yang telah menggunakan atau
setidaknya terlibat dalam pemanfaatan AI di sekolahnya.
Melalui
kuesioner berskala Likert, peneliti memetakan tingkat adaptasi pedagogis guru
dalam empat aspek utama: strategi pembelajaran berbasis AI, penilaian,
manajemen kelas, dan kesiapan profesional. Wawancara dan observasi kemudian
digunakan untuk memperdalam temuan angka-angka tersebut.
Strategi
Belajar Paling Siap, Pengambilan Keputusan Masih Lemah
Hasilnya
menunjukkan tingkat adaptasi pedagogis guru berada pada kategori sedang hingga
tinggi, dengan skor rata-rata 3,45 dari skala 5. Aspek yang paling menonjol
adalah penggunaan AI dalam strategi pembelajaran, dengan skor rata-rata 3,82.
Artinya, banyak guru sudah memanfaatkan AI untuk membuat pembelajaran lebih
variatif dan berpusat pada siswa.
Sebaliknya,
penggunaan AI untuk manajemen kelas dan pengambilan keputusan pedagogis
berbasis data masih relatif rendah, masing-masing berada di kisaran skor 3,21
dan 3,08. Ini menandakan bahwa AI lebih sering dipakai untuk kebutuhan
operasional, seperti menyiapkan materi atau mengoreksi tugas, dibandingkan
untuk menganalisis pola belajar siswa secara mendalam.
Peneliti
mencatat bahwa hanya sebagian kecil guru yang sudah memanfaatkan AI untuk
pembelajaran adaptif, diferensiasi materi, atau perencanaan berbasis data.
Kompetensi
Digital dan Dukungan Sekolah Jadi Kunci
Salah
satu temuan terpenting penelitian ini adalah peran kompetensi digital guru.
Guru dengan kemampuan digital yang lebih baik cenderung lebih percaya diri dan
kreatif dalam memanfaatkan AI sebagai bagian dari strategi mengajar.
Seorang
guru peserta penelitian menyebutkan, pelatihan teknologi yang pernah diikutinya
membuat AI tidak lagi dipandang sekadar alat, melainkan bagian dari strategi
pembelajaran. Guru lain mengungkapkan bahwa pelatihan AI membuka wawasannya
tentang bagaimana teknologi bisa menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa.
Selain
faktor individu, dukungan institusi sekolah juga sangat berpengaruh. Sekolah
yang menyediakan kebijakan jelas, pelatihan berkelanjutan, dan infrastruktur
memadai mendorong guru untuk bereksperimen dengan AI tanpa rasa takut melanggar
aturan.
Sebaliknya,
guru yang minim dukungan mengaku hanya menggunakan AI secara terbatas, misalnya
untuk membantu menyiapkan materi, bukan untuk merancang pembelajaran secara
utuh.
Peran
Guru Mulai Bergeser, Tapi Belum Merata
Observasi
kelas menunjukkan tanda-tanda awal perubahan peran guru. Sebagian guru mulai
berperan sebagai fasilitator dan perancang pengalaman belajar, sementara AI
digunakan untuk memicu diskusi, refleksi, dan pemantauan perkembangan siswa.
Namun
perubahan ini belum merata. Masih banyak guru yang memanfaatkan AI sebatas
untuk otomatisasi tugas administratif. Menurut peneliti, kondisi ini
menunjukkan spektrum adaptasi yang lebar, dari penggunaan teknis hingga upaya
transformasi pedagogis.
Tantangan
Etika dan Ketimpangan Akses
Penelitian
ini juga menyoroti tantangan etika, seperti privasi data siswa, transparansi
algoritma, dan potensi bias AI. Guru berada di posisi strategis untuk
memastikan penggunaan AI tetap berlandaskan nilai kemanusiaan, tetapi hal ini
membutuhkan literasi AI yang memadai.
Ketimpangan
akses teknologi antar sekolah turut memperlebar jarak adaptasi. Tanpa kebijakan
dan dukungan sistemik, AI justru berisiko memperkuat kesenjangan pendidikan.
Implikasi
bagi Dunia Pendidikan
Temuan
ini memberi pesan jelas bagi pembuat kebijakan dan pengelola pendidikan:
investasi AI harus diiringi pengembangan kapasitas guru. Pelatihan tidak cukup
fokus pada cara menggunakan aplikasi, tetapi harus menyentuh aspek pedagogi dan
etika.
Bagi
masyarakat dan orang tua, riset ini menegaskan bahwa guru tidak akan
tergantikan oleh AI. Justru sebaliknya, peran guru menjadi semakin penting
sebagai pengarah, penilai, dan penjaga nilai dalam pembelajaran berbasis
teknologi.
Profil
Singkat Penulis
Syarifuddin,
M.Pd. adalah
dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar dengan keahlian di bidang
pedagogi digital dan inovasi pembelajaran.
Pierre Marcello Lopulalan, M.Pd. dan Rudi Harun, M.Pd. merupakan
dosen di Politeknik Pelayaran Banten yang menaruh perhatian pada pengembangan
pendidikan berbasis teknologi dan kompetensi profesional guru.
Sumber
Penelitian
Syarifuddin, Lopulalan, P. M., & Harun, R. (2026). Teachers' Pedagogical Adaptation in the Use of Artificial Intelligence in Secondary School Learning. Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, hlm. 79–92.

0 Komentar