Guru SMA Mulai Beradaptasi dengan AI, Tapi Masih Terjebak Fungsi Teknis

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Makassar - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sekolah menengah sudah berjalan, namun sebagian besar guru masih menggunakannya sebatas alat bantu teknis, belum sebagai dasar pengambilan keputusan pedagogis. Temuan ini diungkapkan dalam riset terbaru Syarifuddin dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar bersama Pierre Marcello Lopulalan dan Rudi Harun dari Politeknik Pelayaran Banten, yang dipublikasikan pada 2026 di Asian Journal of Applied Education (AJAE). Studi ini penting karena menunjukkan bahwa keberhasilan AI di kelas sangat ditentukan oleh kesiapan guru, bukan semata kecanggihan teknologinya.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana guru sekolah menengah beradaptasi secara pedagogis ketika mulai menggunakan AI dalam pembelajaran. Adaptasi pedagogis di sini mencakup cara guru merancang strategi belajar, melakukan penilaian, mengelola kelas, serta mengambil keputusan berbasis data. Di tengah derasnya promosi AI sebagai solusi pendidikan, riset ini memberi gambaran realistis tentang apa yang benar-benar terjadi di ruang kelas.

AI Sudah Masuk Kelas, Tapi Belum Sepenuhnya Mengubah Cara Mengajar

Dalam beberapa tahun terakhir, AI semakin sering hadir di sekolah melalui platform pembelajaran adaptif, kuis daring otomatis, analisis hasil belajar, hingga asisten virtual. Di tingkat sekolah menengah, teknologi ini dinilai potensial karena siswa berada pada fase perkembangan kognitif yang membutuhkan pendekatan personal dan umpan balik cepat.

Namun, menurut para peneliti, teknologi tidak bekerja sendirian. Guru tetap menjadi aktor utama yang menentukan apakah AI benar-benar memperkaya pembelajaran atau hanya menjadi alat tambahan tanpa dampak signifikan.

“AI bisa membantu personalisasi belajar, tetapi tanpa penyesuaian cara mengajar, manfaatnya tidak akan maksimal,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Metode Campuran untuk Membaca Realitas Lapangan

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan survei kuantitatif dengan wawancara mendalam dan observasi kelas. Respondennya adalah guru sekolah menengah dari berbagai mata pelajaran yang telah menggunakan atau setidaknya terlibat dalam pemanfaatan AI di sekolahnya.

Melalui kuesioner berskala Likert, peneliti memetakan tingkat adaptasi pedagogis guru dalam empat aspek utama: strategi pembelajaran berbasis AI, penilaian, manajemen kelas, dan kesiapan profesional. Wawancara dan observasi kemudian digunakan untuk memperdalam temuan angka-angka tersebut.

Strategi Belajar Paling Siap, Pengambilan Keputusan Masih Lemah

Hasilnya menunjukkan tingkat adaptasi pedagogis guru berada pada kategori sedang hingga tinggi, dengan skor rata-rata 3,45 dari skala 5. Aspek yang paling menonjol adalah penggunaan AI dalam strategi pembelajaran, dengan skor rata-rata 3,82. Artinya, banyak guru sudah memanfaatkan AI untuk membuat pembelajaran lebih variatif dan berpusat pada siswa.

Sebaliknya, penggunaan AI untuk manajemen kelas dan pengambilan keputusan pedagogis berbasis data masih relatif rendah, masing-masing berada di kisaran skor 3,21 dan 3,08. Ini menandakan bahwa AI lebih sering dipakai untuk kebutuhan operasional, seperti menyiapkan materi atau mengoreksi tugas, dibandingkan untuk menganalisis pola belajar siswa secara mendalam.

Peneliti mencatat bahwa hanya sebagian kecil guru yang sudah memanfaatkan AI untuk pembelajaran adaptif, diferensiasi materi, atau perencanaan berbasis data.

Kompetensi Digital dan Dukungan Sekolah Jadi Kunci

Salah satu temuan terpenting penelitian ini adalah peran kompetensi digital guru. Guru dengan kemampuan digital yang lebih baik cenderung lebih percaya diri dan kreatif dalam memanfaatkan AI sebagai bagian dari strategi mengajar.

Seorang guru peserta penelitian menyebutkan, pelatihan teknologi yang pernah diikutinya membuat AI tidak lagi dipandang sekadar alat, melainkan bagian dari strategi pembelajaran. Guru lain mengungkapkan bahwa pelatihan AI membuka wawasannya tentang bagaimana teknologi bisa menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa.

Selain faktor individu, dukungan institusi sekolah juga sangat berpengaruh. Sekolah yang menyediakan kebijakan jelas, pelatihan berkelanjutan, dan infrastruktur memadai mendorong guru untuk bereksperimen dengan AI tanpa rasa takut melanggar aturan.

Sebaliknya, guru yang minim dukungan mengaku hanya menggunakan AI secara terbatas, misalnya untuk membantu menyiapkan materi, bukan untuk merancang pembelajaran secara utuh.

Peran Guru Mulai Bergeser, Tapi Belum Merata

Observasi kelas menunjukkan tanda-tanda awal perubahan peran guru. Sebagian guru mulai berperan sebagai fasilitator dan perancang pengalaman belajar, sementara AI digunakan untuk memicu diskusi, refleksi, dan pemantauan perkembangan siswa.

Namun perubahan ini belum merata. Masih banyak guru yang memanfaatkan AI sebatas untuk otomatisasi tugas administratif. Menurut peneliti, kondisi ini menunjukkan spektrum adaptasi yang lebar, dari penggunaan teknis hingga upaya transformasi pedagogis.

Tantangan Etika dan Ketimpangan Akses

Penelitian ini juga menyoroti tantangan etika, seperti privasi data siswa, transparansi algoritma, dan potensi bias AI. Guru berada di posisi strategis untuk memastikan penggunaan AI tetap berlandaskan nilai kemanusiaan, tetapi hal ini membutuhkan literasi AI yang memadai.

Ketimpangan akses teknologi antar sekolah turut memperlebar jarak adaptasi. Tanpa kebijakan dan dukungan sistemik, AI justru berisiko memperkuat kesenjangan pendidikan.

Implikasi bagi Dunia Pendidikan

Temuan ini memberi pesan jelas bagi pembuat kebijakan dan pengelola pendidikan: investasi AI harus diiringi pengembangan kapasitas guru. Pelatihan tidak cukup fokus pada cara menggunakan aplikasi, tetapi harus menyentuh aspek pedagogi dan etika.

Bagi masyarakat dan orang tua, riset ini menegaskan bahwa guru tidak akan tergantikan oleh AI. Justru sebaliknya, peran guru menjadi semakin penting sebagai pengarah, penilai, dan penjaga nilai dalam pembelajaran berbasis teknologi.

Profil Singkat Penulis

Syarifuddin, M.Pd. adalah dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar dengan keahlian di bidang pedagogi digital dan inovasi pembelajaran.
Pierre Marcello Lopulalan, M.Pd. dan Rudi Harun, M.Pd. merupakan dosen di Politeknik Pelayaran Banten yang menaruh perhatian pada pengembangan pendidikan berbasis teknologi dan kompetensi profesional guru.

Sumber Penelitian

Syarifuddin, Lopulalan, P. M., & Harun, R. (2026). Teachers' Pedagogical Adaptation in the Use of Artificial Intelligence in Secondary School Learning. Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, hlm. 79–92.

DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.16040

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae

Posting Komentar

0 Komentar