Owerri- Konsumsi energi selama hampir empat dekade terakhir belum mampu mendorong pembangunan manusia di Nigeria. Temuan ini disampaikan oleh Aham Ikwumezie, Ogu Callistus, Neheh Patrick Emeka, Akamike Okechukwu Joseph, dan Opara Peterdamian dari Imo State University, Nigeria, dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR). Dengan menganalisis data nasional periode 1986–2024, para peneliti menemukan bahwa pendapatan minyak dan konsumsi energi rata-rata justru berkorelasi negatif dengan Human Development Index (HDI), indikator utama kesejahteraan manusia.
Hasil ini penting karena Nigeria dikenal sebagai negara kaya energi, khususnya minyak dan gas, namun masih bergulat dengan kemiskinan, pengangguran, dan keterbatasan akses listrik. Penelitian ini menunjukkan bahwa persoalan utama Nigeria bukan sekadar kekurangan energi, melainkan kegagalan mengubah kekayaan energi menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Energi Melimpah, Manfaat Tidak Merata
Secara umum, energi merupakan fondasi pembangunan ekonomi modern. Listrik menopang industri, pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Namun kondisi Nigeria menunjukkan ironi. Meski menjadi salah satu produsen minyak terbesar di Afrika dan memiliki potensi energi terbarukan yang besar, negara ini masih mengalami krisis listrik berkepanjangan.
Sejak akhir 1980-an, ketika Nigeria mulai menerapkan kebijakan ekonomi liberal, ketergantungan pada minyak semakin menguat. Sektor manufaktur dan pertanian melemah, sementara pendapatan negara sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak global. Hingga kini, pasokan listrik nasional belum mencukupi kebutuhan penduduk dan dunia usaha, memaksa rumah tangga dan industri menggunakan generator berbahan bakar fosil yang mahal dan mencemari lingkungan.
Cara Penelitian Dilakukan
Penelitian ini menggunakan data tahunan resmi Nigeria selama 38 tahun yang bersumber dari lembaga nasional dan internasional. Analisis difokuskan pada hubungan antara empat indikator energi dengan pembangunan manusia, yang diukur melalui HDI.
Keempat indikator energi tersebut meliputi pembangkit listrik, konsumsi energi per kapita, pendapatan minyak, dan total konsumsi energi nasional. Dengan pendekatan statistik yang mampu membaca dampak jangka pendek dan jangka panjang, peneliti menilai apakah peningkatan energi benar-benar berujung pada perbaikan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan masyarakat.
Pendekatan ini memberikan gambaran utuh tentang bagian mana dari sistem energi Nigeria yang berkontribusi positif, serta bagian mana yang justru menjadi penghambat pembangunan manusia.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis menunjukkan hubungan yang tidak sederhana antara energi dan pembangunan manusia di Nigeria.
Pertama, pendapatan minyak terbukti memiliki dampak negatif dan signifikan terhadap HDI dalam jangka panjang. Ketika penerimaan negara dari minyak meningkat, kualitas pembangunan manusia justru cenderung menurun. Temuan ini memperkuat fenomena resource curse, di mana kekayaan sumber daya alam tidak diikuti oleh peningkatan kesejahteraan akibat lemahnya tata kelola dan distribusi anggaran publik.
Kedua, konsumsi energi per kapita juga menunjukkan hubungan negatif dengan HDI. Artinya, peningkatan rata-rata konsumsi energi masyarakat tidak otomatis meningkatkan kualitas hidup. Kondisi ini mencerminkan ketimpangan akses energi dan penggunaan energi yang belum produktif, terutama bagi sektor pendidikan dan kesehatan.
Ketiga, total konsumsi energi nasional justru memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembangunan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa ketika energi digunakan secara luas untuk kegiatan ekonomi dan industri, manfaatnya tetap terasa pada tingkat nasional.
Keempat, pembangkit listrik hanya menunjukkan pengaruh positif yang lemah dan tidak signifikan secara statistik dalam jangka panjang. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan produksi listrik saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan sistem distribusi yang andal dan terjangkau.
Tiga Paradoks Energi Nigeria
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa sektor energi Nigeria menghadapi tiga paradoks utama. Pertama, kekayaan minyak justru berkorelasi dengan melemahnya pembangunan manusia. Kedua, konsumsi energi rata-rata tidak menjamin peningkatan kesejahteraan karena distribusi yang timpang. Ketiga, peningkatan kapasitas listrik nasional gagal berdampak nyata akibat lemahnya infrastruktur dan tata kelola.
Ogu Callistus dari Imo State University menegaskan bahwa tantangan utama Nigeria terletak pada pengelolaan energi, bukan ketersediaannya. Energi yang tidak dikelola secara efektif cenderung memperbesar ketimpangan sosial dan menghambat perbaikan kualitas hidup.
Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat
Temuan ini memberikan pesan kuat bagi pembuat kebijakan. Reformasi tata kelola pendapatan minyak menjadi kebutuhan mendesak agar dana energi benar-benar dialokasikan untuk sektor yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.
Selain itu, kebijakan energi perlu bergeser dari fokus produksi menuju akses yang adil dan penggunaan produktif. Perbaikan sektor kelistrikan harus mencakup seluruh rantai sistem, mulai dari pembangkit hingga distribusi, agar listrik dapat dinikmati secara stabil oleh rumah tangga dan pelaku usaha.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya diversifikasi energi, termasuk pengembangan energi terbarukan, sebagai jalan menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Profil Singkat Penulis
Penelitian ini ditulis oleh Aham Ikwumezie, Ogu Callistus, Neheh Patrick Emeka, Akamike Okechukwu Joseph, dan Opara Peterdamian, akademisi dari Imo State University, Nigeria. Mereka memiliki keahlian di bidang ekonomi pembangunan, ekonomi energi, dan kebijakan publik, dengan fokus pada tantangan struktural negara berkembang.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Energy Consumption and Nigeria’s Economic Development
Penulis: Aham Ikwumezie; Ogu Callistus; Neheh Patrick Emeka; Akamike Okechukwu Joseph; Opara Peterdamian
Afiliasi: Imo State University, Nigeria
Jurnal: International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR)
Volume & Nomor: Vol. 4, No. 1
Tahun: 2026
Halaman: 1–16
0 Komentar