Kinerja pegawai di sektor perbankan syariah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kecerdasan emosional, komitmen terhadap organisasi, dan perilaku sukarela di tempat kerja. Temuan ini disampaikan oleh Khairul Bahrun bersama tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Bengkulu melalui riset yang dilakukan pada Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Bengkulu Panorama dan dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Finance and Business Management.
Penelitian ini menjadi penting karena industri perbankan syariah menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas layanan dan produktivitas sumber daya manusia, terutama di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks dan berorientasi pada pelayanan nasabah. Hasil riset menunjukkan bahwa faktor psikologis dan sikap kerja pegawai memiliki peran nyata dalam mendorong kinerja yang optimal.
Tantangan SDM di Perbankan Syariah
Dalam praktik sehari-hari, manajemen perbankan syariah sering dihadapkan pada persoalan kinerja pegawai yang tidak selalu berkaitan dengan keterampilan teknis. Wawancara awal yang dilakukan peneliti dengan pimpinan dan staf BSI KCP Bengkulu Panorama mengungkap adanya sejumlah persoalan, mulai dari pekerjaan yang tidak selesai tepat waktu, stres kerja yang memengaruhi emosi pegawai, hingga rendahnya kepedulian terhadap masalah organisasi.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada loyalitas pegawai, kualitas kerja, dan hubungan antar rekan kerja. Situasi ini mendorong tim peneliti untuk menelusuri lebih jauh faktor-faktor nonteknis yang berkontribusi terhadap kinerja pegawai, khususnya kecerdasan emosional, komitmen organisasi, dan organizational citizenship behavior (OCB) atau perilaku kerja sukarela.
Cara Penelitian Dilakukan
Penelitian ini melibatkan 38 pegawai BSI KCP Bengkulu Panorama, yang seluruhnya dijadikan responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan skala penilaian lima poin, dilengkapi dengan observasi dan wawancara singkat. Analisis data dilakukan dengan metode statistik untuk melihat pengaruh masing-masing faktor terhadap kinerja pegawai, baik secara terpisah maupun bersamaan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggambarkan kondisi nyata di lapangan secara objektif dan terukur, tanpa menggunakan istilah teknis yang sulit dipahami oleh praktisi.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga faktor yang diteliti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Secara ringkas, temuan utamanya adalah sebagai berikut:
- Kecerdasan emosional berkontribusi nyata terhadap peningkatan kinerja. Pegawai yang mampu mengelola emosi, mengendalikan stres, dan memahami perasaan rekan kerja cenderung bekerja lebih efektif dan profesional.
- Komitmen organisasi menjadi faktor dengan pengaruh paling kuat. Pegawai yang merasa terikat secara emosional dengan organisasi dan melihat masa depan kariernya di perusahaan menunjukkan kinerja yang lebih tinggi.
- Perilaku sukarela (OCB), seperti membantu rekan kerja tanpa diminta dan menjaga citra positif organisasi, turut mendorong produktivitas dan suasana kerja yang kondusif.
Secara simultan, ketiga faktor ini menjelaskan sekitar 44 persen variasi kinerja pegawai, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain seperti gaya kepemimpinan, sistem penghargaan, dan budaya organisasi.
Komitmen Tinggi, Tapi Masih Menjadi Titik Lemah
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara pengaruh dan kondisi nyata komitmen organisasi. Meskipun komitmen terbukti sebagai faktor paling menentukan kinerja, tingkat komitmen pegawai justru tercatat paling rendah dibandingkan kecerdasan emosional dan OCB.
Peneliti mencatat bahwa sebagian pegawai belum sepenuhnya merasa memiliki keterikatan emosional dengan organisasi, terutama terkait kerja tim dan peluang pengembangan karier. Menurut Khairul Bahrun, kondisi ini menunjukkan adanya “ruang perbaikan yang besar” bagi manajemen untuk membangun loyalitas dan rasa memiliki pegawai secara lebih berkelanjutan.
Implikasi bagi Dunia Usaha dan Kebijakan SDM
Temuan ini memberikan pesan jelas bagi manajemen perbankan syariah dan dunia usaha secara umum. Peningkatan kinerja tidak cukup dicapai melalui pelatihan teknis semata, tetapi perlu diimbangi dengan:
- Pelatihan kecerdasan emosional dan komunikasi interpersonal,
- Penciptaan iklim kerja yang mendukung loyalitas dan rasa aman berkarier,
- Serta penghargaan terhadap perilaku kerja sukarela yang mendukung tujuan organisasi.
Dalam konteks perbankan syariah yang menjunjung nilai kebersamaan dan etika, penguatan aspek-aspek ini dinilai selaras dengan prinsip dasar operasional lembaga keuangan syariah.
Profil Singkat Penulis
Khairul Bahrun, seorang peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Bengkulu Penelitian ini ditulis bersama Dinda Salsabila Kenedi, Eti Arini, Hernadianto, dan Budi Astuti, yang juga berasal dari institusi yang sama dan memiliki fokus kajian pada manajemen dan perilaku organisasi.

0 Komentar