Riset yang dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics ini menyoroti bagaimana petani kecil membangun strategi adaptasi bukan hanya melalui teknologi, tetapi juga lewat diversifikasi usaha tani, penguatan kelompok tani, serta dukungan aktif dari penyuluh dan institusi desa. Hasilnya relevan bagi Indonesia sebagai negara agraris yang sangat bergantung pada peran petani kecil dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Tantangan Petani Kecil di Tengah Krisis Iklim
Perubahan cuaca ekstrem, ketidakpastian musim tanam, fluktuasi harga hasil pertanian, serta akses terbatas terhadap teknologi menjadi tantangan sehari-hari petani kecil. Kondisi ini meningkatkan kerentanan ekonomi dan sosial, terutama di wilayah pedesaan yang masih mengandalkan tenaga keluarga dan input lokal.
Di Poncokusumo, wilayah pertanian dataran tinggi yang bergantung pada komoditas hortikultura, perubahan pola hujan dan suhu berdampak langsung pada hasil panen. Ketika gagal panen terjadi, petani dengan satu jenis komoditas menjadi kelompok paling rentan. Situasi inilah yang mendorong munculnya strategi adaptasi berbasis komunitas.
Diversifikasi Usaha Tani: Strategi Bertahan dan Berkembang
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah diversifikasi usaha tani sebagai jalur utama ketahanan komunitas. Petani tidak lagi bergantung pada satu jenis tanaman, tetapi mengombinasikan sayuran dataran tinggi, hortikultura, dan tanaman tahunan untuk menekan risiko kerugian.
Diversifikasi ini bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan hasil dari pengalaman kolektif dan pembelajaran sosial di tingkat komunitas. Petani saling berbagi praktik tanam yang lebih aman dan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Pendekatan ini terbukti membantu menjaga stabilitas pendapatan sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem pertanian.
Kelompok Tani sebagai Tulang Punggung Ketahanan Sosial
Penelitian ini juga menemukan bahwa modal sosial dalam kelompok tani memainkan peran krusial. Kelompok tani berfungsi sebagai ruang berbagi informasi, diskusi solusi ketika menghadapi hama atau gagal panen, hingga akses terhadap informasi harga dan bantuan pertanian.
Melalui pertemuan rutin dan komunikasi informal, petani dapat mengambil keputusan lebih cepat dan kolektif. Ketika satu petani mengalami masalah, kelompok menjadi tempat pertama untuk mencari solusi sebelum bergantung pada bantuan eksternal. Kondisi ini memperkuat solidaritas dan mengurangi rasa ketergantungan individual.
Menurut Rita Parmawati, kekuatan utama ketahanan komunitas terletak pada hubungan sosial yang solid. “Kelompok tani bukan hanya wadah administratif, tetapi menjadi pusat pembelajaran dan adaptasi bersama,” tulisnya dalam artikel tersebut.
Peran Strategis Penyuluh dan Institusi Desa
Akses terhadap informasi dan inovasi menjadi faktor penentu lain dalam jalur ketahanan komunitas. Penyuluh pertanian lapangan berperan sebagai penghubung antara pengetahuan teknis dan praktik di lapangan. Melalui pendampingan langsung, petani mulai mengenal teknik irigasi yang lebih efisien, penggunaan pestisida nabati, hingga praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Institusi desa juga berperan penting dalam memfasilitasi pelatihan, distribusi benih unggul, serta menghubungkan petani dengan program pemerintah. Kolaborasi antara desa, penyuluh, dan kelompok tani mempercepat adopsi praktik pertanian berkelanjutan tanpa memutus konteks lokal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi pertanian tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang didukung oleh institusi yang responsif dan inklusif.
Dampak bagi Kebijakan dan Pembangunan Pertanian
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi kebijakan publik dan pembangunan pertanian. Pendekatan berbasis komunitas terbukti lebih efektif dibandingkan intervensi teknis semata. Penguatan kelompok tani, peningkatan kapasitas penyuluh, serta fleksibilitas program desa menjadi kunci keberhasilan transformasi pertanian berkelanjutan.
Bagi pembuat kebijakan, riset ini menegaskan bahwa ketahanan petani kecil tidak bisa dibangun hanya melalui subsidi atau bantuan jangka pendek. Investasi pada modal sosial, sistem informasi pertanian berbasis komunitas, dan institusi lokal yang kuat justru memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan pangan.
Di tengah ancaman krisis iklim dan tekanan global terhadap sistem pangan, jalur ketahanan komunitas yang ditemukan di Poncokusumo memberikan gambaran nyata bahwa transformasi pertanian berkelanjutan dapat dimulai dari bawah—dari petani, kelompok, dan desa.

0 Komentar