Strategi Komunikasi Pemerintah Jadi Benteng Pertahanan Informasi di Era Media Global

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta Pemerintah Indonesia membutuhkan strategi komunikasi yang terintegrasi dan adaptif untuk menjaga ketahanan informasi nasional di tengah arus media global yang semakin sulit dikendalikan. Temuan ini disampaikan oleh Didi Hartadi, Totok Imam Santoso, dan Priyanto dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research.

Melalui kajian literatur terhadap dokumen kebijakan, jurnal akademik, dan laporan resmi periode 2019–2024, para peneliti menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah kini tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi telah menjadi instrumen pertahanan non-militer yang krusial. Di era media digital yang serba cepat, informasi dapat berubah menjadi senjata untuk memengaruhi opini publik, merusak kepercayaan masyarakat, bahkan mengganggu stabilitas nasional.

Ancaman Baru di Ruang Digital

Globalisasi media telah menghapus batas negara dalam arus informasi. Media sosial, platform digital, dan jaringan berita internasional memungkinkan pesan menyebar luas dalam hitungan menit. Kondisi ini membuka peluang besar bagi disinformasi, hoaks, propaganda, dan operasi pengaruh yang menyasar masyarakat sipil.

Indonesia, sebagai negara dengan keragaman sosial dan budaya yang tinggi, menghadapi risiko besar jika informasi strategis tidak dikelola dengan baik. Informasi yang keliru atau manipulatif dapat memicu polarisasi sosial, menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah, dan melemahkan semangat kebangsaan. Dalam konteks inilah, ketahanan informasi menjadi bagian penting dari sistem pertahanan negara.

Komunikasi Pemerintah sebagai Pertahanan Non-Militer

Penelitian ini menempatkan komunikasi pemerintah sebagai bagian dari pertahanan non-militer, sejajar dengan diplomasi, pendidikan, dan penguatan ideologi. Melalui komunikasi yang tepat, pemerintah dapat membangun narasi nasional yang kuat, memperkuat kepercayaan publik, serta menangkal pengaruh negatif dari luar.

Menurut para peneliti, komunikasi strategis pemerintah berfungsi sebagai soft power domestik. Bukan dengan paksaan, melainkan melalui pesan yang transparan, konsisten, dan kredibel, pemerintah dapat mengajak masyarakat terlibat aktif dalam menjaga keamanan informasi nasional.

Metode Penelitian: Membaca Pola dari Berbagai Sumber

Alih-alih melakukan survei lapangan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur. Penulis menganalisis berbagai sumber resmi dan akademik untuk mengidentifikasi pola, tantangan, dan praktik terbaik dalam komunikasi pemerintah terkait ketahanan informasi dan pertahanan negara.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat masalah secara komprehensif, termasuk hubungan antara kebijakan komunikasi, dinamika media global, dan perilaku masyarakat digital.

Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini mengungkap beberapa faktor kunci yang menentukan kuat atau lemahnya ketahanan informasi nasional:

1. Koordinasi antarlembaga
Pesan pemerintah sering kali tidak sinkron antar kementerian dan lembaga. Padahal, komunikasi yang terfragmentasi justru menciptakan kebingungan publik dan membuka celah bagi disinformasi.
2. Pemanfaatan media digital secara strategis
Media sosial dan platform digital perlu dikelola secara aktif, bukan sekadar sebagai saluran informasi satu arah, tetapi juga sebagai ruang dialog dan klarifikasi cepat.
3. Literasi digital masyarakat
Rendahnya kebiasaan verifikasi informasi membuat masyarakat rentan menyebarkan hoaks. Tanpa literasi digital yang kuat, komunikasi pemerintah sulit mencapai dampak maksimal.
4. Keterbukaan dan konsistensi pesan
Kepercayaan publik hanya bisa dibangun melalui komunikasi yang jujur, tepat waktu, dan sejalan dengan tindakan nyata pemerintah.

Para peneliti menegaskan bahwa ketahanan informasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kepercayaan sosial dan partisipasi publik.

Tantangan Besar: Kecepatan vs Kepercayaan

Salah satu tantangan utama yang dihadapi pemerintah adalah ketimpangan antara kecepatan penyebaran hoaks dan lambatnya klarifikasi resmi. Informasi palsu dapat viral dalam hitungan jam, sementara respons birokratis sering membutuhkan waktu lebih lama.

Selain itu, masyarakat Indonesia cenderung lebih mempercayai tokoh lokal, pemuka agama, atau figur media sosial dibandingkan sumber resmi. Jika komunikasi pemerintah terlalu formal dan teknokratis, pesan mudah diabaikan.

Rekomendasi: Komunikasi yang Lebih Manusiawi dan Terpadu

Untuk memperkuat ketahanan informasi nasional, penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis:

  • Membentuk pusat komunikasi strategis nasional untuk menyinkronkan pesan lintas lembaga
  • Melatih aparatur pemerintah dalam komunikasi digital, manajemen krisis, dan analisis media sosial
  • Memanfaatkan kecerdasan buatan dan big data untuk mendeteksi disinformasi sejak dini
  • Melibatkan masyarakat, media, dan influencer positif dalam program literasi digital
  • Mengutamakan transparansi dan empati dalam setiap pesan publik

Dengan pendekatan ini, komunikasi pemerintah tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kedaulatan informasi.

Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat

Hasil penelitian ini relevan bagi pembuat kebijakan, praktisi komunikasi publik, dunia pendidikan, dan masyarakat luas. Di tengah meningkatnya ancaman non-militer, komunikasi yang kuat dan dipercaya publik dapat menjadi benteng pertama dalam menjaga stabilitas nasional.

Seperti ditegaskan para peneliti, pertahanan negara di era digital tidak lagi hanya soal senjata, tetapi juga soal narasi, kepercayaan, dan kecerdasan mengelola informasi.

Profil Penulis

Didi Hartadi, S.Sos., M.Si.
Dosen dan peneliti di Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Bidang keahlian: komunikasi strategis, pertahanan non-militer, dan keamanan informasi.
Totok Imam Santoso, S.IP., M.Si.
Akademisi Universitas Pertahanan RI dengan fokus pada kebijakan publik dan komunikasi pemerintahan.
Priyanto, S.H., M.H.
Peneliti di bidang pertahanan negara dan tata kelola informasi strategis.

Sumber Penelitian

Hartadi, D., Santoso, T. I., & Priyanto. (2026). Government Communication Strategy in Building National Defense Information Resilience in the Era of Media Globalization.
Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 297–314.
DOI: 10.55927/fjmr.v5i1.699
Penerbit: Formosa Publisher.

Posting Komentar

0 Komentar