Jakarta— Kemitraan
Menentukan Masa Depan Koperasi Susu Indonesia, Studi IJBAE Ungkap Peran SAFA. Budwi
Brontosantoso, peneliti dari Universitas Trisakti Jakarta, melalui
artikel ilmiah yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International
Journal of Business and Applied Economics.
Dalam risetnya, Brontosantoso menunjukkan bahwa banyak koperasi susu terjebak dalam pola kemitraan yang bersifat transaksional—sekadar jual beli susu—tanpa strategi jangka panjang. Akibatnya, koperasi sulit beradaptasi menghadapi fluktuasi harga, ketergantungan pada satu pembeli, serta tuntutan keberlanjutan global yang semakin kuat.
Koperasi Susu di Persimpangan Jalan
Sektor peternakan sapi perah di Indonesia menghadapi
tekanan berlapis. Di satu sisi, kebutuhan susu nasional terus meningkat. Di
sisi lain, sebagian besar koperasi masih bergantung pada satu komoditas dan
satu industri pengolah susu. Struktur ini membuat posisi tawar peternak lemah
dan koperasi rawan guncangan ekonomi.
Menurut Brontosantoso, koperasi seharusnya berfungsi bukan hanya sebagai penyalur susu, tetapi sebagai institusi ekonomi rakyat yang membangun ketahanan usaha, kesejahteraan sosial, dan kepedulian lingkungan. Tantangannya, belum banyak koperasi yang memiliki alat ukur keberlanjutan yang komprehensif untuk menilai kinerja mereka secara menyeluruh.
Menguji Dua Pola Kemitraan Koperasi
Penelitian ini menganalisis dua koperasi susu di
Indonesia—masing-masing mewakili tipe kemitraan yang berbeda. Data dikumpulkan
melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok, observasi lapangan, dan analisis
dokumen, dengan melibatkan pengurus koperasi, peternak, pelaku industri, hingga
pemangku kepentingan sektor persusuan.
Pendekatan ini kemudian dipadukan dengan SAFA
Framework (Sustainability Assessment of Food and Agriculture), sebuah
kerangka penilaian keberlanjutan yang dikembangkan oleh Food and Agriculture
Organization (FAO). SAFA menilai keberlanjutan dari empat dimensi utama: tata
kelola, ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Hasilnya, penelitian ini membedakan Kemitraan Multi-Pihak (KMP) Tipe I yang bersifat transaksional-preskriptif dan KMP Tipe II yang lebih transformatif dan berbasis penguatan kapasitas.
Temuan Utama: Ekonomi Paling Menentukan
Dari keempat dimensi keberlanjutan, aspek ketahanan
ekonomi menjadi pembeda paling tajam antara dua tipe kemitraan tersebut.
Pada KMP Tipe I, koperasi sangat bergantung pada
kontrak pasokan susu segar ke satu pembeli. Nilai tambah hampir tidak
dikembangkan. Produk olahan, diversifikasi pasar, dan investasi sosial berada
pada tingkat rendah. Kondisi ini menciptakan ketergantungan struktural yang
melemahkan posisi koperasi dalam jangka panjang.
Sebaliknya, KMP Tipe II menunjukkan kinerja ekonomi yang lebih seimbang. Koperasi mulai mengembangkan merek, produk olahan, memperluas pasar, dan membangun jejaring usaha. Kemitraan dipandang sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar hubungan jual beli. Pola ini terbukti meningkatkan ketahanan ekonomi koperasi dan anggotanya.
Tata Kelola Cukup Kuat, Tapi Belum Strategis
Dari sisi tata kelola, kedua tipe kemitraan sama-sama
menunjukkan tingkat partisipasi anggota dan akuntabilitas administrasi yang
relatif baik. Namun, pada KMP Tipe I, tata kelola masih berorientasi pada
pemenuhan kewajiban formal terhadap mitra industri.
“Koperasi menjalankan aturan, tapi belum menjadikan keberlanjutan sebagai strategi inti,” tulis Brontosantoso dalam artikelnya. Berbeda dengan KMP Tipe II, yang mulai memandang tata kelola sebagai alat memperkuat posisi tawar, pembelajaran organisasi, dan arah jangka panjang koperasi—meski masih terkendala kapasitas sumber daya manusia.
Lingkungan dan Keselamatan Kerja Masih Tertinggal
Penelitian ini juga mengungkap titik lemah yang sama
pada kedua tipe kemitraan, yakni aspek lingkungan dan keselamatan
kerja. Praktik ramah lingkungan umumnya dilakukan hanya jika berdampak
langsung pada efisiensi biaya, seperti pengolahan limbah menjadi pupuk atau
biogas.
Sementara itu, isu penting seperti konservasi air, kesejahteraan hewan, serta keselamatan dan kesehatan kerja peternak belum menjadi prioritas. Banyak peternak masih menganggap risiko kerja sebagai tanggung jawab pribadi, bukan tanggung jawab koperasi atau kemitraan.
Dampak bagi Kebijakan dan Dunia Usaha
Temuan ini membawa pesan penting bagi pembuat
kebijakan, pelaku industri susu, dan pengelola koperasi. Kemitraan tidak cukup
hanya menjamin penyerapan produk. Tanpa desain yang transformatif, kemitraan
justru bisa memperkuat ketergantungan dan kerentanan ekonomi peternak.
Integrasi SAFA Framework, menurut Brontosantoso, dapat menjadi alat strategis untuk memetakan kelemahan koperasi secara objektif sekaligus merancang perbaikan yang terarah. Pendekatan ini juga relevan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pekerjaan layak.
Profil Penulis
- Budwi Brontosantoso, Ph.D. - Universitas Trisakti Jakarta.
Sumber Penelitian
Brontosantoso.
Integrating SAFA Framework for Optimizing and Strengthening Sustainable
Indonesian Dairy Cooperative.
Business and Applied Economics,
Vol. 5 No. 1, Januari 2026, hlm. 343–358.2026
DOI:https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.571
URLResmi: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae
.png)
0 Komentar