Efisiensi Usahatani Padi di Indramayu Hampir Optimal, Biaya Produksi Masih Bisa Dipangkas

Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Indramayu - Produktivitas padi di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ternyata sudah mendekati titik optimal dari sisi teknis. Namun, dari sisi biaya, para petani masih memiliki ruang cukup besar untuk berhemat. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis Alfan Naufal Alim bersama Firman Hanafi Alam Syah, Nanda Dwi Putra, dan Siti Aisyah dari Fakultas Agribisnis Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, yang dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR).

Penelitian ini penting karena Indramayu dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama di Jawa Barat. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi padi daerah ini justru menunjukkan tren menurun. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan naiknya biaya input pertanian, efisiensi menjadi kunci untuk menjaga pendapatan petani sekaligus ketahanan pangan.

Produksi Padi Tinggi, Efisiensi Biaya Belum Maksimal

Tim peneliti menganalisis efisiensi usahatani padi di Kecamatan Gantar dengan melibatkan 99 petani sebagai responden. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung di lapangan, dilengkapi data sekunder dari instansi pertanian dan statistik daerah. Analisis difokuskan pada tiga aspek utama: efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi.

Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis petani mencapai 0,974 dari skala 1. Artinya, secara umum petani sudah sangat efisien dalam mengubah input—seperti lahan, benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja—menjadi hasil panen padi. Sebanyak 83 dari 99 petani bahkan berada tepat di garis efisiensi teknis.

Namun, gambaran berbeda muncul ketika biaya diperhitungkan. Efisiensi alokatif—kemampuan petani memilih kombinasi input paling hemat sesuai harga—rata-ratanya hanya 0,875. Ketika efisiensi teknis dan alokatif digabungkan, efisiensi ekonomi petani tercatat 0,829. Angka ini menandakan masih ada potensi penghematan biaya hingga 17,1 persen tanpa harus menurunkan produksi.

Tenaga Kerja Jadi Sumber Pemborosan Terbesar

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah adanya kelebihan penggunaan input tertentu. Tenaga kerja tercatat sebagai input dengan tingkat pemborosan tertinggi. Rata-rata kelebihan tenaga kerja mencapai 0,800 satuan, lebih tinggi dibandingkan input lain seperti pupuk atau pestisida.

Selain tenaga kerja, penggunaan lahan, pupuk organik, pupuk kandang, dan pestisida padat juga menunjukkan kecenderungan berlebih. Sebaliknya, penggunaan benih, pupuk KCl, dan pestisida cair relatif sudah mendekati tingkat optimal.

Menurut para peneliti, kondisi ini menunjukkan bahwa banyak petani sudah mahir dalam teknik budidaya, tetapi belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek biaya. “Efisiensi teknis yang tinggi tidak otomatis berarti keuntungan maksimal jika input yang digunakan tidak disesuaikan dengan harga dan manfaat ekonominya,” tulis Alfan Naufal Alim dan tim dalam artikelnya.

Faktor Sosial Tak Banyak Berpengaruh

Penelitian ini juga menelaah apakah faktor sosial ekonomi petani memengaruhi efisiensi teknis. Variabel yang diuji meliputi tingkat pendidikan, pengalaman bertani, status kepemilikan lahan, keanggotaan kelompok tani, partisipasi penyuluhan, dan akses kredit.

Hasilnya cukup mengejutkan. Tidak satu pun faktor tersebut terbukti berpengaruh signifikan terhadap efisiensi teknis. Pendidikan formal dan pengalaman panjang di sektor pertanian ternyata tidak menjamin pengelolaan input yang lebih efisien. Bahkan keanggotaan kelompok tani dan akses pembiayaan belum menunjukkan dampak nyata.

Satu-satunya variabel yang mendekati signifikan adalah status kepemilikan lahan. Petani pemilik lahan cenderung sedikit lebih efisien dibandingkan petani penggarap, meski pengaruhnya masih lemah secara statistik.

Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan efisiensi lebih ditentukan oleh praktik pengelolaan input di lapangan, bukan semata latar belakang sosial petani.

Implikasi bagi Petani dan Kebijakan Pertanian

Bagi petani, hasil riset ini memberi pesan jelas: peluang peningkatan pendapatan masih terbuka lebar tanpa harus menambah lahan atau input baru. Pengaturan ulang tenaga kerja, pemilihan jenis pupuk yang tepat, serta pengendalian penggunaan pestisida bisa langsung menekan biaya produksi.

Bagi pemerintah daerah dan penyuluh pertanian, temuan ini menyoroti pentingnya program pendampingan yang berfokus pada efisiensi biaya, bukan hanya peningkatan hasil. Pelatihan pemupukan berimbang, manajemen tenaga kerja, dan pemahaman harga input dinilai lebih relevan dibandingkan pendekatan konvensional.

Dalam jangka panjang, efisiensi ekonomi yang lebih baik juga berkontribusi pada keberlanjutan pertanian. Biaya lebih rendah berarti risiko finansial petani menurun, sementara penggunaan input yang lebih rasional membantu menjaga kesehatan tanah dan lingkungan.

Profil Singkat Penulis

Alfan Naufal Alim, S.Agr. Dosen dan peneliti di Fakultas Agribisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon. Bidang keahlian: ekonomi pertanian dan efisiensi usahatani.  Firman Hanafi Alam Syah, S.Agr. Akademisi di Fakultas Agribisnis Universitas Swadaya Gunung Jati dengan fokus riset manajemen produksi pertanian. Nanda Dwi Putra, S.Agr. Peneliti agribisnis yang menaruh perhatian pada analisis biaya dan produktivitas pertanian. Siti Aisyah, S.Agr. Dosen agribisnis dengan minat kajian pada kebijakan pertanian dan pembangunan pedesaan.

Sumber Penelitian

Alim, A. N., Syah, F. H. A., Putra, N. D., & Aisyah, S. (2026). Technical, Allocative, and Economic Efficiency of Rice Farming Using Data Envelopment Analysis (DEA) in Gantar District, Indramayu Regency. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 1, hlm. 117–128.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i1.16106

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar