Malang—
Biaya
Lingkungan Tak Otomatis Tingkatkan Laba Perusahaan Manufaktur Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Mega Ayu Sekarwati, Triadi Agung
Sudarto, dan Endang Sri Andayani dari Universitas Negeri Malang,
dan dipublikasikan pada Januari 2026 di International Journal of
Management Analytics.
Penelitian yang dilakukan oleh Mega
Ayu Sekarwati, Triadi Agung Sudarto, dan Endang Sri Andayani mengungkapkan
bahwa pengeluaran lingkungan oleh perusahaan manufaktur di Indonesia belum
terbukti mampu meningkatkan kinerja keuangan, meskipun telah melalui penilaian
resmi pemerintah.
Penelitian
tersebut menelaah hubungan antara biaya lingkungan, kinerja
lingkungan, dan kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan mengikuti program PROPER dari
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hasilnya menunjukkan bahwa
pengeluaran untuk lingkungan, sejauh ini, belum memberikan dampak nyata
terhadap laba perusahaan.
Tekanan
Lingkungan dan Harapan Publik
Dalam
beberapa tahun terakhir, dunia usaha dihadapkan pada tekanan ganda. Di satu
sisi, perusahaan dituntut menjaga profitabilitas. Di sisi lain, mereka
diharapkan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan melalui pengelolaan
limbah, pengendalian polusi, dan pelaporan lingkungan yang transparan.
Investor
pun mulai memperhatikan reputasi “hijau” perusahaan. Namun, riset ini
menunjukkan bahwa dalam praktiknya, hubungan antara kepedulian lingkungan dan
keuntungan finansial tidak sesederhana yang dibayangkan.
“Biaya
lingkungan sering dipersepsikan sebagai investasi jangka panjang, tetapi hasil
penelitian kami menunjukkan bahwa manfaat finansialnya belum terlihat secara
langsung,” tulis para peneliti.
Bagaimana
Penelitian Dilakukan
Studi
ini menggunakan data kuantitatif dari laporan keuangan, laporan
keberlanjutan, dan peringkat PROPER perusahaan manufaktur periode 2018–2022.
Dari proses seleksi data, terkumpul 130 observasi perusahaan-tahun yang
dianalisis.
Untuk
memudahkan pemahaman:
- Biaya
lingkungan
dihitung sebagai persentase pengeluaran lingkungan terhadap laba
perusahaan.
- Kinerja
lingkungan
diukur menggunakan skor PROPER (dari peringkat hitam hingga emas).
- Kinerja
keuangan
diwakili oleh rasio Return on Assets (ROA), yang menunjukkan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari asetnya.
Analisis
dilakukan menggunakan regresi data panel dan uji mediasi untuk melihat apakah
kinerja lingkungan mampu menjadi penghubung antara biaya lingkungan dan kinerja
keuangan.
Temuan
Utama: Tidak Ada Hubungan Signifikan
Hasil
penelitian menunjukkan beberapa poin kunci:
- Biaya
lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja lingkungan.
Perusahaan yang mengeluarkan biaya lebih besar untuk lingkungan tidak otomatis memperoleh peringkat PROPER yang lebih baik. - Kinerja
lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
Perusahaan dengan peringkat lingkungan lebih tinggi belum tentu mencatat laba yang lebih besar. - Biaya
lingkungan tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja keuangan.
Pengeluaran lingkungan belum terbukti meningkatkan profitabilitas perusahaan manufaktur selama periode penelitian. - Kinerja
lingkungan tidak memediasi hubungan biaya lingkungan dan laba.
Artinya, biaya lingkungan tidak mampu meningkatkan laba, baik secara langsung maupun melalui perbaikan kinerja lingkungan.
Secara
statistik, variabel biaya dan kinerja lingkungan hanya mampu menjelaskan
sekitar 3,7 persen variasi kinerja keuangan perusahaan. Sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain seperti strategi bisnis, efisiensi operasional,
inovasi, dan kondisi pasar.
Mengapa
Biaya Lingkungan Belum Berdampak?
Para
peneliti menilai bahwa banyak perusahaan manufaktur masih memandang biaya
lingkungan sebagai beban kepatuhan, bukan sebagai investasi strategis.
Pengeluaran tersebut sering kali dilakukan sebatas memenuhi aturan minimum agar
lolos regulasi, bukan untuk mendorong inovasi ramah lingkungan atau efisiensi
energi.
Dalam
kerangka teori legitimasi, perusahaan cenderung menggunakan pengeluaran
lingkungan untuk menjaga citra dan penerimaan sosial, bukan untuk menghasilkan
dampak lingkungan yang terukur dan bernilai ekonomi.
Selain
itu, manfaat finansial dari kinerja lingkungan umumnya bersifat jangka
menengah hingga panjang. Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia,
pasar dan investor masih lebih fokus pada indikator keuangan jangka pendek,
sehingga perbaikan kinerja lingkungan belum sepenuhnya diapresiasi secara
ekonomi.
Dampak
bagi Dunia Usaha dan Kebijakan
Temuan
ini memberi pesan penting bagi pelaku usaha, regulator, dan pembuat kebijakan.
Bagi perusahaan, sekadar mengalokasikan dana lingkungan tidak cukup. Biaya
tersebut perlu diintegrasikan dengan inovasi proses, teknologi hijau,
dan strategi bisnis agar memberikan manfaat nyata.
Bagi
pemerintah, hasil riset ini menunjukkan bahwa sistem penilaian lingkungan
seperti PROPER perlu terus diperkuat agar tidak hanya mendorong kepatuhan
administratif, tetapi juga perubahan nyata dalam praktik industri.
Sementara
bagi investor dan masyarakat, penelitian ini menjadi pengingat bahwa label
“ramah lingkungan” tidak selalu sejalan dengan kinerja keuangan, setidaknya
dalam jangka pendek.
Profil
Penulis
- Mega
Ayu Sekarwati, S.Ak.
- Universitas Negeri Malang.
- Triadi
Agung Sudarto, S.E., M.Si.
- Universitas Negeri Malang.
- Endang
Sri Andayani, S.E., M.Si., Ak.
- Universitas Negeri Malang.
Sumber
Penelitian
Sekarwati,
M. A., Sudarto, T. A., & Andayani, E. S. (2026).
Environmental Costs and Their Impact on the Financial Performance of
PROPER-Rated Manufacturing Companies: The Mediating Role of Environmental
Performance. International Journal of Management Analytics, Vol. 4
No. 1, 147–162.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.297
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma
.png)
0 Komentar