Aspirin Lebih Hemat Biaya Dibanding Clopidogrel untuk Pasien Stroke Iskemik di RSUD Mataram

ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS -Jawa- Terapi aspirin terbukti lebih hemat biaya dibanding clopidogrel dalam perawatan pasien stroke iskemik rawat inap di RSUD Kota Mataram. Temuan ini dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology (2026) oleh Akhmad Nurfahmi, Lucia Vita Inandha Dewi, dan Gunawan Pramudji Widodo dari Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi, Jawa Tengah. Studi ini penting karena stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan beban biaya kesehatan yang sangat besar.

Penelitian dilakukan pada periode Mei 2023 hingga Mei 2024 dengan menganalisis 78 pasien stroke iskemik yang dirawat menggunakan pembiayaan BPJS. Tim peneliti membandingkan dua obat antiplatelet yang umum digunakan, yaitu aspirin dan clopidogrel, untuk melihat terapi mana yang paling efektif secara klinis sekaligus paling efisien secara ekonomi.

Stroke Iskemik dan Beban Biaya Besar

Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak dan mencakup sekitar 80–88 persen dari seluruh kasus stroke. Penyakit ini tidak hanya berisiko menyebabkan kematian, tetapi juga kecacatan jangka panjang yang membutuhkan rehabilitasi intensif.

Data nasional menunjukkan stroke termasuk dalam kategori penyakit katastropik dengan biaya pengobatan sangat tinggi. Jika terapi yang dipilih kurang tepat, pasien bisa menjalani rawat inap lebih lama, mengalami komplikasi, dan meningkatkan total biaya perawatan.

Karena itu, pertimbangan terapi tidak cukup hanya berdasarkan efektivitas klinis, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek farmakoekonomi.

Cara Penelitian Dilakukan

Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif melalui rekam medis dan data keuangan rumah sakit.

Efektivitas terapi diukur menggunakan skor Glasgow Coma Scale (GCS), yaitu skala neurologis untuk menilai tingkat kesadaran pasien. Semakin tinggi peningkatan skor GCS selama perawatan, semakin baik respons klinis pasien.

Sementara itu, aspek ekonomi dianalisis menggunakan metode Cost Effectiveness Analysis (CEA) dengan dua indikator utama:

  • ACER (Average Cost-Effectiveness Ratio)
  • ICER (Incremental Cost-Effectiveness Ratio)

Perhitungan dilakukan pada empat kelas perawatan: VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III.

Profil Pasien: Mayoritas Lansia dan Hipertensi

Dari total 78 pasien:

  • 54 persen berusia di atas 60 tahun.
  • 64 persen adalah laki-laki.
  • 40 persen memiliki komorbid hipertensi, menjadikannya faktor risiko utama.

Clopidogrel lebih banyak digunakan (79,49 persen) dibanding aspirin (20,51 persen), terutama karena dianggap efektif mencegah kekambuhan stroke.

Hasil Klinis: Keduanya Efektif

Selama empat hari pengamatan, seluruh pasien mengalami peningkatan skor GCS. Tidak ditemukan perbedaan signifikan secara statistik antara kelompok aspirin dan clopidogrel dalam peningkatan kesadaran.

Peningkatan GCS tertinggi tercatat pada:

  • Aspirin kelas II: naik 2,84 poin
  • Clopidogrel kelas III: naik 2,45 poin

Artinya, secara klinis kedua obat menunjukkan efektivitas yang relatif sebanding.

Hasil Ekonomi: Aspirin Konsisten Lebih Hemat

Perbandingan biaya rata-rata per pasien menunjukkan:

Kelas VIP

  • Aspirin: Rp 4.982.370
  • Clopidogrel: Rp 5.400.015

Kelas I

  • Aspirin: Rp 2.981.704
  • Clopidogrel: Rp 3.639.498

Kelas II

  • Aspirin: Rp 4.829.446
  • Clopidogrel: Rp 3.654.063

Kelas III

  • Aspirin: Rp 3.106.291
  • Clopidogrel: Rp 3.417.481

Walau di beberapa kelas selisih biaya tidak signifikan secara statistik, analisis ACER menunjukkan aspirin selalu memiliki rasio biaya-efektivitas lebih rendah.

Nilai ACER aspirin:

  • VIP: Rp 2.129.218
  • Kelas I: Rp 1.785.451
  • Kelas II: Rp 1.700.509
  • Kelas III: Rp 1.380.574

Sementara ICER pada kelas I dan III menunjukkan nilai negatif:

  • Kelas I: Rp -1.993.315
  • Kelas III: Rp -1.555.950

Nilai negatif ini menandakan bahwa tambahan biaya clopidogrel tidak sebanding dengan peningkatan efektivitas yang dihasilkan.

Sensitivitas Biaya: Faktor Kamar Rawat Paling Berpengaruh

Analisis sensitivitas dengan variasi biaya ±25 persen menunjukkan bahwa komponen biaya paling memengaruhi total pengeluaran adalah biaya rawat inap atau kamar.

Semakin lama pasien dirawat, semakin tinggi beban biaya keseluruhan, terlepas dari jenis antiplatelet yang digunakan.

Namun bahkan setelah dilakukan simulasi variasi biaya, aspirin tetap menunjukkan posisi lebih menguntungkan secara ekonomi.

Implikasi untuk Rumah Sakit dan BPJS

Temuan ini memiliki dampak langsung bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan kesehatan:

  1. Aspirin dapat menjadi pilihan terapi lini utama yang lebih rasional secara ekonomi.
  2. Penghematan biaya per pasien berpotensi signifikan jika diterapkan secara luas.
  3. Efisiensi ini dapat membantu menjaga keberlanjutan pembiayaan BPJS pada penyakit katastropik seperti stroke.

Menurut Akhmad Nurfahmi dari Universitas Setia Budi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan obat sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat klinis dan dampak ekonomi agar sistem kesehatan tetap berkelanjutan.

Profil Penulis

Akhmad Nurfahmi, S.Farm., M.Farm.
Dosen dan peneliti di Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi, Jawa Tengah. Bidang keahlian: farmakoekonomi dan evaluasi terapi obat.

Lucia Vita Inandha Dewi, S.Farm., M.Farm.
Akademisi Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi dengan fokus penelitian pada farmasi klinik dan manajemen terapi.

Gunawan Pramudji Widodo, S.Farm., M.Farm.
Peneliti bidang farmasi klinik dan evaluasi penggunaan obat di lingkungan pelayanan kesehatan.

Sumber Penelitian

Judul: Cost-Effective Analysis of Aspirin and Clopidogrel Therapy in Hospitalized Ischemic Stroke Patients at Mataram City Hospital
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology
URL :  https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
Tahun: 2026

Penelitian ini menegaskan bahwa dalam konteks rawat inap stroke iskemik di RSUD Kota Mataram, aspirin menawarkan efektivitas klinis yang sebanding dengan clopidogrel, namun dengan biaya yang lebih efisien di seluruh kelas perawatan.

Posting Komentar

0 Komentar