Anestesi Umum dengan Laryngeal Mask Airway Dinilai Aman untuk Operasi Tumor Saraf Kepala
Penggunaan anestesi umum dengan Laryngeal Mask Airway (LMA) dapat menjadi pilihan aman dan efektif dalam operasi pengangkatan tumor saraf ganas di kepala, menurut laporan kasus medis yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrative Sciences. Artikel ini ditulis oleh Haur Syakira Radra, Raissa Amanda Helsah, dan Dicky Noviar dari Universitas Malikussaleh dan Rumah Sakit Umum Cut Meutia, Aceh. Temuan ini penting karena operasi tumor kepala dan leher menghadirkan tantangan besar bagi dokter anestesi, terutama dalam menjaga jalan napas dan kestabilan kondisi pasien selama pembedahan.
Penelitian ini melaporkan penanganan anestesi pada seorang pasien laki-laki berusia 57 tahun yang menjalani operasi wide excision dan rekonstruksi flap akibat malignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST) di area parietal kanan kepala. Dengan pendekatan anestesi umum menggunakan LMA, pasien menunjukkan kondisi hemodinamik stabil, oksigenasi optimal, serta pemulihan pascaoperasi yang baik tanpa komplikasi jalan napas.
Tumor Saraf Ganas dan Tantangan Operasi Kepala
MPNST merupakan tumor jaringan lunak yang sangat jarang tetapi bersifat agresif. Angkanya diperkirakan hanya sekitar 0,001 persen dari populasi umum, namun tingkat kekambuhan lokalnya tinggi, mencapai 40–60 persen. Tumor ini berasal dari jaringan saraf perifer dan sering memerlukan tindakan bedah luas untuk memastikan seluruh jaringan ganas terangkat.
Ketika tumor muncul di area kepala dan leher, tantangan medis menjadi lebih kompleks. Operasi harus dilakukan dengan presisi tinggi, sementara tim anestesi harus memastikan jalan napas tetap aman, tekanan darah stabil, dan nyeri terkontrol. Kesalahan kecil dalam manajemen anestesi dapat berdampak besar pada keselamatan pasien.
Dalam konteks inilah penggunaan LMA menarik perhatian. Berbeda dengan intubasi endotrakeal, LMA tidak dimasukkan hingga ke trakea, melainkan ditempatkan di atas pita suara. Metode ini dikenal lebih sederhana, minim trauma jalan napas, dan memungkinkan pemulihan yang lebih cepat pada pasien terpilih.
Ringkasan Metodologi Kasus
Artikel ini berbentuk laporan kasus klinis yang mendeskripsikan secara rinci proses anestesi sebelum, selama, dan setelah operasi. Data diperoleh dari evaluasi medis, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, serta pemantauan intraoperatif dan pascaoperasi di RSU Cut Meutia pada Oktober 2025.
Pasien diklasifikasikan sebagai ASA II, yaitu memiliki penyakit sistemik ringan tanpa keterbatasan fungsional. Tidak ditemukan riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau asma. Risiko aspirasi dinilai rendah, dan durasi operasi diperkirakan sedang, sekitar 90 menit. Berdasarkan kondisi tersebut, tim medis memilih anestesi umum dengan LMA.
Induksi anestesi dilakukan menggunakan propofol dan fentanyl, dua obat yang umum digunakan karena efeknya cepat dan stabil terhadap sistem kardiovaskular. Selama operasi, pasien dipantau secara ketat melalui pengukuran tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan saturasi oksigen.
Temuan Utama dari Kasus Klinis
Hasil laporan menunjukkan beberapa poin penting yang relevan bagi praktik klinis:
1. Stabilitas hemodinamik terjaga
Tekanan darah pasien berada pada kisaran aman sepanjang operasi, tanpa fluktuasi ekstrem.
2. Ventilasi dan oksigenasi optimal
Saturasi oksigen tercatat konsisten di angka 99–100 persen selama prosedur.
3. Tidak ada komplikasi jalan napas
Penggunaan LMA tidak menimbulkan trauma, obstruksi, atau gangguan pernapasan pascaoperasi.
4. Pemulihan berlangsung cepat
Pasien sadar penuh di ruang pemulihan dengan skor Aldrete 9 dan dapat kembali ke ruang perawatan dalam kondisi stabil.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa LMA dapat digunakan secara aman pada operasi kepala tertentu, asalkan pasien diseleksi dengan cermat dan prosedur dilakukan sesuai standar keselamatan.
Perspektif Penulis dan Makna Klinis
Menurut Haur Syakira Radra dari Universitas Malikussaleh, keberhasilan anestesi tidak hanya ditentukan oleh alat jalan napas yang digunakan, tetapi oleh keseluruhan proses perencanaan dan pemantauan. Dalam artikelnya, tim penulis menekankan bahwa evaluasi pra-anestesi yang menyeluruh dan pemilihan teknik yang sesuai dengan kondisi pasien adalah kunci keselamatan.
Secara etis, laporan ini tidak mengklaim bahwa LMA cocok untuk semua kasus. Namun, pada operasi kepala dengan durasi sedang dan risiko aspirasi rendah, LMA dapat menjadi alternatif yang efektif dibanding intubasi konvensional.
Dampak bagi Dunia Medis dan Layanan Kesehatan
Bagi dokter anestesi, laporan ini memberikan referensi praktis dalam memilih strategi manajemen jalan napas. Bagi rumah sakit, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas, penggunaan LMA dapat membantu mempercepat pemulihan pasien dan mengurangi komplikasi pascaoperasi.
Dalam konteks kebijakan kesehatan, temuan ini mendukung pendekatan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS), yang menekankan stabilitas fisiologis, kontrol nyeri multimodal, dan pemulihan cepat. Jika diterapkan secara tepat, pendekatan ini dapat menurunkan lama rawat inap dan beban biaya kesehatan.
0 Komentar