Terjemahan Visual Capital: Habitus, Lapangan, dan Multimodalitas dalam Representasi Pinisi Bugis

Ilustrasi by AI 

Pinisi Bugis Berubah dari Kapal Tradisional Menjadi Simbol Visual Global

Kapal Pinisi, warisan maritim masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, kini tidak hanya berlayar di laut, tetapi juga “berlayar” di ruang visual modern. Temuan ini diungkap oleh Irfandi Musnur dari Universitas Mercu Buana, bersama I Wayan Mudra dan Ni Made Ruastiti dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, serta Ariani Kusumo Wardhani dari Universitas Mercu Buana, dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di International Journal of Integrative Sciences. Riset ini penting karena menjelaskan bagaimana simbol budaya lokal berubah makna ketika masuk ke ranah desain, ekonomi kreatif, dan politik identitas.

Penelitian tersebut mengulas bagaimana Pinisi—yang dahulu merupakan puncak teknologi pelayaran tradisional Nusantara—kini tampil sebagai ikon visual dalam logo pemerintah, promosi pariwisata, desain arsitektur, hingga identitas institusi. Perubahan ini tidak netral. Ia mencerminkan relasi kuasa antara negara, industri, desainer, dan komunitas pembuat Pinisi yang selama ini menjaga tradisi di Tanah Beru, Bulukumba.

Dari Teknologi Maritim ke Ikon Budaya

Dalam sejarahnya, Pinisi lahir dari habitus maritim masyarakat Bugis—cara hidup, nilai, dan pengetahuan yang terbentuk dari relasi panjang dengan laut. Kapal ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol status sosial, kebanggaan, dan identitas. Pengakuan UNESCO pada 2017 sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia semakin mengukuhkan posisi Pinisi sebagai ikon nasional.

Namun, seiring meningkatnya kebutuhan branding daerah dan pariwisata, Pinisi mengalami pergeseran fungsi. Ia direproduksi dalam bentuk visual yang lebih sederhana, penuh gaya, dan mudah dikenali pasar global. Di titik inilah, makna historis dan sosial Pinisi mulai bernegosiasi dengan kepentingan ekonomi dan politik.

Metodologi yang Membaca Makna Visual

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis visual berbasis multimodality—cara membaca makna melalui bentuk, warna, komposisi, tipografi, dan media. Penelitian dilakukan melalui:

1. Analisis dokumen visual seperti logo, desain acara, instalasi publik, dan produk komersial

2. Observasi lapangan di Makassar dan Bulukumba

3. Wawancara dengan desainer, pembuat kebijakan, pelaku pariwisata, dan pengrajin Pinisi

Kerangka teorinya menggabungkan pemikiran Pierre Bourdieu tentang habitus, field, dan symbolic capital dengan teori desain komunikasi visual. Pendekatan ini membantu menjelaskan siapa yang memiliki kuasa mendefinisikan bentuk dan makna Pinisi di ruang publik.

Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini mencatat beberapa temuan penting:

1. Visual Pinisi mengalami stilisasi dan deformasi agar sesuai dengan kebutuhan branding modern. Bentuk layar, warna, dan proporsi sering disederhanakan.

2. Nilai historis dan sosial kerap bergeser menjadi narasi pemasaran, menekankan estetika dibanding makna budaya.

3. Pemerintah dan sektor ekonomi memiliki otoritas simbolik paling kuat dalam menentukan representasi Pinisi.

4. Komunitas pengrajin tradisional justru memiliki peran terbatas dalam pengambilan keputusan visual, meski merekalah penjaga autentisitas Pinisi.

Irfandi Musnur dan tim menyebut proses ini sebagai “Visual Capital Translation”—alih rupa modal budaya dan simbolik menjadi modal visual yang dapat beroperasi secara lokal dan global tanpa kehilangan legitimasi.

Pinisi dan Perebutan Makna Simbolik

Dalam perspektif Bourdieu, Pinisi kini berada dalam sebuah field atau arena sosial tempat berbagai aktor bersaing memperebutkan legitimasi simbolik. Negara memanfaatkan Pinisi untuk membangun citra Indonesia sebagai bangsa maritim. Industri pariwisata menggunakannya untuk menarik wisatawan. Institusi pendidikan dan olahraga memakainya sebagai identitas visual.

“Representasi visual Pinisi bukan sekadar soal estetika, tetapi juga soal siapa yang berhak mendefinisikan identitas budaya,” tulis Irfandi Musnur dari Universitas Mercu Buana dalam artikelnya. Parafrase ini menegaskan bahwa desain visual memiliki dimensi politik dan sosial yang nyata.

Dampak bagi Desain, Budaya, dan Kebijakan

Temuan penelitian ini relevan bagi banyak pihak. Bagi desainer, riset ini mendorong pendekatan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap konteks budaya. Bagi pemerintah dan pembuat kebijakan, hasilnya menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup lewat simbol, tetapi juga melalui keterlibatan komunitas asal.

Dalam konteks ekonomi kreatif, Pinisi menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat menjadi aset global. Namun tanpa tata kelola yang adil, proses ini berisiko meminggirkan pemilik tradisi. Penelitian ini membuka ruang dialog antara pelestarian dan komersialisasi.

Profil Singkat Penulis

Irfandi Musnur, M.Ds. Universitas Mercu Buana.

I Wayan Mudra, Ph.D.  Institut Seni Indonesia Bali, 

Ni Made Ruastiti, Ph.D. Institut Seni Indonesia Bali.

Ariani Kusumo Wardhani, M.Ds. Universitas Mercu Buana, 

Sumber Penelitian

Musnur, I., Mudra, I. W., Ruastiti, N. M., & Wardhani, A. K. (2026). Visual Capital Translation: Habitus, Field, and Multimodality in Bugis Pinisi Representation. International Journal of Integrative Sciences, Vol. 5 No. 1, hlm. 73–86. DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i1.817



Posting Komentar

0 Komentar