Analisis Penguatan UMKM di Era Digitalisasi untuk Mendorong Ekonomi yang Merata dan Berkelanjutan di Wilayah Pedesaan (Non-Perkotaan)


Gambar Ilustrasi AI


FORMOSA NEWS - Jakarta - Digitalisasi UMKM Desa Masih Setengah Jalan, Studi Universitas Budi Luhur Ungkap Tantangan Nyata. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis Dina Nadiyah Faiqoh bersama Agus Kusnawan, Ravindra Safitra Hidayat, dan Slamet Mudjijah dari Universitas Budi Luhur, dalam artikel ilmiah yang terbit di Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Penelitian ini Menyoroti memetakan kesiapan UMKM desa Menghadapi era digital sekaligus menilai dampaknya terhadap ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Penelitian yang dilakukan oleh Dina Nadiyah Faiqoh bersama Agus Kusnawan, Ravindra Safitra Hidayat, dan Slamet Mudjijah dari Universitas Budi Luhur menyoroti bahwa digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah pedesaan indonesia belum berjalan optimal.

UMKM Kuat di Angka, Lemah di Pemerataan

UMKM selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sektor ini menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, kekuatan angka tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata, terutama di wilayah pedesaan.


Di desa-desa, UMKM masih menghadapi keterbatasan serius, mulai dari akses teknologi, pembiayaan, pasar, hingga kualitas sumber daya manusia. Kesenjangan inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi lebih terkonsentrasi di perkotaan, sementara desa tertinggal dalam produktivitas dan daya saing.


“UMKM desa sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi lokal, tetapi tanpa dukungan digital yang memadai, potensi itu sulit berkembang,” tulis Dina Nadiyah Faiqoh dan tim dalam artikelnya.


Menyimak Kondisi Nyata UMKM Lampung Timur


Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus pada 13 UMKM di satu kecamatan di Kabupaten Lampung Timur. Sektor usahanya beragam, mulai dari kuliner, toko kelontong, apotek, fesyen, hingga perawatan kulit. Metode yang digunakan relatif sederhana namun mendalam: observasi langsung ke lokasi usaha, wawancara semi-terstruktur dengan pemilik, serta dokumentasi aktivitas digital mereka.


Hasilnya menunjukkan gambaran yang kontras. Hampir seluruh UMKM yang diteliti sudah menerima pembayaran digital melalui QRIS dan memiliki akun media sosial seperti Instagram atau TikTok untuk promosi. Beberapa bahkan memanfaatkan influencer lokal untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.

Namun, tidak satu pun dari UMKM tersebut yang secara aktif menggunakan platform e-commerce atau layanan pengantaran online. Penjualan masih terbatas pada kunjungan langsung ke toko, sehingga jangkauan pasar mereka tetap lokal.

 

Hambatan Utama: Literasi Digital dan Biaya


Peneliti menemukan sejumlah kendala utama yang menghambat transformasi digital UMKM desa. Pertama adalah rendahnya literasi digital. Banyak pelaku usaha belum memahami cara mengelola toko online, mengoptimalkan konten digital, atau memanfaatkan data penjualan untuk pengambilan keputusan.


Kedua, masalah biaya transaksi dan administrasi. Beberapa UMKM yang belum menggunakan QRIS mengeluhkan biaya transfer antarbank dan merasa manfaatnya belum sebanding dengan pengeluaran. Akibatnya, mereka memilih cara konvensional seperti transfer manual atau promosi terbatas lewat WhatsApp Story.


Ketiga, keterbatasan infrastruktur dan perangkat pendukung, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kota. Kondisi ini membuat adopsi teknologi berjalan tidak merata, meski kebijakan nasional sudah mendorong transaksi non-tunai.


Dampak bagi Ekonomi Lokal dan Kebijakan Publik

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pembangunan ekonomi desa. Digitalisasi yang tepat dapat membuka akses pasar yang lebih luas, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan inklusi keuangan. Jejak transaksi digital juga memudahkan UMKM mengakses pembiayaan formal dari lembaga keuangan.


Sebaliknya, tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan digital justru berpotensi memperlebar jurang ekonomi antara desa dan kota. Karena itu, peneliti merekomendasikan peran aktif pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan perbankan.


Profil Penulis

Dina Nadiyah Faiqoh, S.E., Universitas Budi Luhur – peneliti bidang ekonomi digital dan penguatan UMKM.


Agus Kusnawan, M.M., Universitas Budi Luhur – dosen manajemen dan pengembangan bisnis.


Ravindra Safitra Hidayat, M.M., Universitas Budi Luhur – akademisi di bidang manajemen dan transformasi digital.


Slamet Mudjijah, M.M., Universitas Budi Luhur – peneliti kebijakan ekonomi dan UMKM.


Sumber Penelitian

Faiqoh, Kusnawan, Hidayat, & Mudjijah. Analysis of Strengthening MSMEs in the Digitalization Era to Encourage an Even and Sustainable Economy in Rural (Non-Urban) Areas. Asian Journal of Management Analytics, Vol. 5 No. 1, hlm. 157–170.2026

DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i1.16116

URL Resmi: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma


Posting Komentar

0 Komentar