Kelas Sosial dan Manipulasi Kekuasaan dalam Animal Farm George Orwell
Kesenjangan kelas dan perebutan kekuasaan dalam novel Animal Farm karya George Orwell kembali dibedah melalui riset akademik terbaru dari Universitas Negeri Medan. Penelitian yang ditulis oleh Syamsul Bahri, Aditya Raffa Nanda, dan Samuel Sihombing, dosen dan peneliti di bidang sastra dan kajian budaya, mengungkap bagaimana praktik kelas sosial (classism) terus berulang bahkan setelah sebuah revolusi berhasil menggulingkan penguasa lama. Studi ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) dan menegaskan relevansi Animal Farm sebagai cermin realitas sosial modern.
Melalui analisis mendalam terhadap teks novel, para peneliti menunjukkan bahwa Animal Farm bukan sekadar kritik terhadap totalitarianisme, melainkan juga potret tajam tentang bagaimana ketimpangan kelas, eksploitasi, dan manipulasi ideologi dapat bertahan jika kesadaran kolektif masyarakat melemah. Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa perubahan kekuasaan tidak otomatis menghadirkan keadilan sosial.
Dari Revolusi ke Ketimpangan Baru
Animal Farm menceritakan pemberontakan hewan-hewan terhadap manusia demi menciptakan masyarakat yang setara. Namun, penelitian ini menyoroti ironi utama novel tersebut: setelah revolusi berhasil, kekuasaan justru dimonopoli oleh kelompok baru, yakni para babi. Dalam kerangka teori Karl Marx dan Georg Lukács, kondisi ini disebut sebagai kegagalan mempertahankan kesadaran kelas.
Syamsul Bahri dan tim menegaskan bahwa Orwell menggambarkan siklus sosial yang berulang. Kelas pekerja—diwakili oleh kuda Boxer dan hewan-hewan lain—tetap bekerja keras, sementara elite baru memanfaatkan ideologi untuk mempertahankan dominasi. Ketimpangan yang semula dilawan justru muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Metode Membaca Ulang Animal Farm
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pembacaan teks secara cermat (close reading). Seluruh dialog, pidato, dan peristiwa penting dalam sepuluh bab Animal Farm dikaji satu per satu.
Hasilnya, peneliti mengidentifikasi 74 unit data penting, yang terdiri dari:
-46 temuan perjuangan kelas (68%)
-28 temuan kesadaran kelas (32%)
Data tersebut diklasifikasikan berdasarkan indikator seperti eksploitasi, dominasi kekuasaan, propaganda ideologi, kesadaran kolektif, hingga kesadaran palsu (false consciousness). Pendekatan ini memungkinkan peneliti memetakan secara sistematis bagaimana konflik kelas berkembang dan berubah sepanjang cerita.
Pidato, Ideologi, dan Kesadaran Palsu
Salah satu temuan kunci penelitian adalah peran pidato tokoh-tokoh utama dalam membentuk kesadaran kelas. Pidato Old Major di awal cerita menjadi pemicu kesadaran kolektif, ketika ia menyadarkan hewan-hewan bahwa penderitaan mereka bersumber dari sistem yang menindas.
Namun, kesadaran ini perlahan terkikis. Napoleon, pemimpin babi, menggunakan bahasa dan ancaman untuk menciptakan kesadaran palsu. Hewan-hewan pekerja diyakinkan bahwa bekerja lebih keras adalah jalan menuju kesetaraan, padahal sistem yang ada tetap eksploitatif.
Menurut Aditya Raffa Nanda, kondisi ini mencerminkan gagasan Marx tentang proletariat yang gagal mempertahankan kesadaran kelas. “Ketika ideologi dikuasai elite, revolusi hanya mengganti penguasa tanpa mengubah struktur ketimpangan,” jelasnya.
Animal Farm dan Realitas Sosial Modern
Penelitian ini menegaskan bahwa pesan Animal Farm tetap relevan di era modern. Dalam banyak masyarakat, revolusi politik atau perubahan kepemimpinan sering kali tidak disertai perubahan struktur sosial. Elite baru muncul, sementara kelompok pekerja tetap berada di posisi subordinat.
Samuel Sihombing menambahkan bahwa Orwell melalui alegori hewan menunjukkan bagaimana bahasa, pendidikan, dan akses informasi menjadi alat kekuasaan. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan kritis, ketimpangan mudah dilegitimasi atas nama stabilitas dan kemajuan.
Dampak bagi Pendidikan dan Kesadaran Publik
Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas, terutama bagi dunia pendidikan dan literasi kritis. Animal Farm dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk memahami isu ketimpangan sosial, manipulasi ideologi, dan pentingnya kesadaran kolektif.
Bagi pembuat kebijakan dan masyarakat umum, riset ini menjadi pengingat bahwa keadilan sosial tidak cukup dijanjikan melalui slogan revolusi. Kesetaraan hanya bisa bertahan jika masyarakat terus waspada terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Profil Singkat Penulis
Syamsul Bahri, M.Hum.
Dosen Sastra Inggris, Universitas Negeri Medan. Keahlian: kritik sastra, kajian Marxisme, dan sastra politik.
Aditya Raffa Nanda, S.S.
Peneliti sastra dan budaya, Universitas Negeri Medan. Fokus pada analisis ideologi dalam karya sastra.
Samuel Sihombing, M.Hum.
Akademisi bidang sastra dan kajian sosial, Universitas Negeri Medan.
Sumber Penelitian
Bahri, S., Nanda, A. R., & Sihombing, S. (2026). An Analysis of Classism in George Orwell’s Animal Farm. International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 1, hlm. 1691–1704.
DOI: 10.59890/ijatss.v4i1.144
URL: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss/index

0 Komentar