Penelitian ini mengulas bagaimana peningkatan akses internet di Papua, yang selama ini dipandang sebagai peluang untuk pendidikan dan pembangunan, juga membawa risiko tersembunyi bagi mahasiswa muda, khususnya mereka yang baru memasuki dunia pendidikan kedokteran dengan tekanan akademik tinggi.
Akses Digital dan Tantangan Baru di Papua
Papua berada dalam situasi unik. Di satu sisi, pemerintah dan berbagai pihak terus mendorong pemerataan infrastruktur digital untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan dan ekonomi. Di sisi lain, masuknya internet ke kehidupan sehari-hari generasi muda memunculkan masalah baru berupa penggunaan internet yang berlebihan dan tidak terkendali.
Mahasiswa kedokteran menjadi kelompok yang rentan. Selain tuntutan akademik yang padat, mereka juga sangat bergantung pada internet sebagai sumber belajar, komunikasi, dan hiburan. Tanpa pendampingan yang memadai, penggunaan ini dapat bergeser dari kebutuhan akademik menjadi kebiasaan kompulsif.
Rumboirusi mencatat bahwa pengalaman pandemi COVID-19 turut membentuk pola perilaku digital mahasiswa. Saat pembatasan sosial berlangsung, aktivitas belajar dan interaksi sosial berpindah hampir sepenuhnya ke ruang daring. Pola tersebut terbawa hingga masa pascapandemi, bahkan ketika perkuliahan tatap muka kembali berjalan.
Metode Sederhana, Data Mendalam
Riset ini menggunakan pendekatan survei kuantitatif dengan desain potong lintang. Tim peneliti melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Uncen dari angkatan 2022 hingga 2025. Dari 181 mahasiswa yang bersedia menjadi responden, 152 mahasiswa memenuhi kriteria usia di bawah 20 tahun, sesuai dengan ketentuan Internet Addiction Diagnostic Questionnaire (KDAI) yang digunakan dalam penelitian.
KDAI merupakan instrumen berisi 44 pernyataan yang dirancang khusus untuk konteks remaja Indonesia. Pengisiannya hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit, namun mampu menggambarkan kondisi perilaku, emosi, dan dampak penggunaan internet secara komprehensif. Seluruh proses pengisian dilakukan di laboratorium komputer Fakultas Kedokteran Uncen dengan pengawasan langsung peneliti.
Temuan Utama: Satu dari Empat Mahasiswa Berisiko
Hasil analisis menunjukkan 40 dari 152 mahasiswa memiliki skor KDAI yang masuk kategori kecanduan internet. Dengan kata lain, lebih dari satu dari empat mahasiswa tahun pertama kedokteran Uncen berada dalam kondisi berisiko.
Beberapa temuan kunci dari penelitian ini antara lain:
· Prevalensi kecanduan internet mencapai 26,3 persen.
· Dari 40 mahasiswa yang terindikasi kecanduan, 29 di antaranya perempuan dan 11 laki-laki.
· Skor kecanduan berkisar antara 108 hingga 215, menunjukkan tingkat keparahan yang bervariasi.
· Skor tertinggi ditemukan pada mahasiswi berusia 19 tahun angkatan 2024, sedangkan skor terendah pada mahasiswa laki-laki usia 18 tahun angkatan 2025.
Menurut para peneliti, dominasi responden perempuan sejalan dengan komposisi mahasiswa Fakultas Kedokteran Uncen, sehingga tidak serta-merta menunjukkan perempuan lebih rentan, melainkan mencerminkan struktur populasi sampel.
Dampak Nyata bagi Kesehatan dan Akademik
Kecanduan internet bukan sekadar soal durasi layar. Berbagai studi yang dirujuk dalam artikel ini menunjukkan kaitannya dengan gangguan tidur, obesitas, penurunan konsentrasi, hingga risiko depresi dan kecemasan. Dalam konteks pendidikan kedokteran, kondisi ini berpotensi mengganggu proses belajar, empati klinis, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia praktik medis.
“Mahasiswa tidak hanya membutuhkan akses internet, tetapi juga bimbingan tentang cara menggunakan internet secara sehat dan produktif,” tulis Rumboirusi dalam pembahasannya. Tanpa sistem pendukung, internet yang seharusnya membantu justru dapat menjadi penghambat perkembangan akademik dan psikososial.
Implikasi bagi Kampus dan Kebijakan Pendidikan
Temuan ini membawa pesan penting bagi perguruan tinggi, khususnya di wilayah berkembang. Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih didorong untuk mengembangkan program edukasi penggunaan internet sehat, mulai dari seminar, lokakarya, hingga layanan konseling bagi mahasiswa yang menunjukkan tanda-tanda kecanduan.
Peneliti juga merekomendasikan penguatan sistem e-Learning Management System (e-LMS) dan pengembangan Massive Open Online Course (MOOC) yang lebih terstruktur. Dengan sistem pembelajaran digital yang jelas dan terarah, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan internet untuk belajar tanpa terjebak penggunaan berlebihan.
Selain itu, pendekatan pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi lokal Papua, termasuk keterbatasan jaringan dan latar belakang budaya mahasiswa, agar teknologi benar-benar menjadi alat pemberdayaan.
Profil Singkat Penulis
Ricky Lazarus Rumboirusi Gelar: S.Ked. Afiliasi: Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Papua Bidang keahlian: Kesehatan masyarakat, kesehatan mental remaja, perilaku adiktif digital dr. Izak Yesaya Samay, M.Kes., Sp.KJAfiliasi: Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Papua Bidang keahlian: Psikiatri, kesehatan mental, adiksi perilaku
Sumber Penelitian
Rumboirusi, R. L., & Samay, I. Y. (2026). Analysis of Internet Addiction Using Internet Addiction Diagnostic Questionnaire (KDAI) among First-Year Medical Students at Cenderawasih University, Papua Province. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 1, hlm. 155–168.
DOI prefix: 10.55927
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
0 Komentar