Dalam beberapa tahun terakhir, rumah sakit milik pemerintah daerah dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat tata kelola internal. Digitalisasi menjadi salah satu strategi utama untuk menjawab tuntutan tersebut. Di RSUD Kota Tangerang Selatan, SIMRS digunakan untuk mengelola pendaftaran pasien, pencatatan medis, pelaporan administrasi, hingga koordinasi antarunit kerja secara terintegrasi.
Namun, keberhasilan sistem digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Adaptasi pegawai, komitmen pimpinan, serta keandalan jaringan menjadi faktor kunci yang memengaruhi dampak nyata sistem informasi terhadap kinerja organisasi.
Untuk memahami kondisi tersebut secara mendalam, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Penelitian melibatkan 30 informan, terdiri dari pegawai administrasi, tenaga medis, staf teknologi informasi, dan manajer rumah sakit. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, observasi langsung, serta analisis dokumen operasional rumah sakit.
Hasil penelitian
Hasil menunjukkan beberapa temuan utama. Pertama, penggunaan SIMRS mempercepat proses administrasi dan meningkatkan akurasi data. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam waktu lebih singkat. Kedua, kemampuan adaptasi pegawai tidak merata. Pegawai yang lebih muda relatif cepat menyesuaikan diri, sementara pegawai senior membutuhkan pendampingan dan pelatihan tambahan. Ketiga, dukungan pimpinan terbukti berperan besar dalam menjaga kedisiplinan penggunaan sistem. Unit kerja dengan pengawasan aktif menunjukkan kinerja yang lebih konsisten. Keempat, kendala teknis seperti gangguan jaringan masih ditemukan, meski tidak menghambat operasional secara keseluruhan.
Menurut Sigit Purnomo dari Universitas Pamulang, SIMRS membantu pegawai bekerja lebih efisien dan terstruktur, tetapi teknologi tidak dapat berdiri sendiri. Peningkatan kinerja akan lebih optimal jika dibarengi dengan pelatihan berkelanjutan dan komitmen manajemen rumah sakit. Ima Amaliah dari Universitas Islam Bandung menambahkan bahwa digitalisasi rumah sakit merupakan proses sosial dan organisasi, bukan sekadar perubahan sistem kerja berbasis teknologi.
Temuan Penelitian
temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengelola rumah sakit dan pembuat kebijakan. Pimpinan rumah sakit perlu memperkuat pengawasan, menetapkan standar kerja digital yang jelas, serta memastikan semua pegawai memperoleh pelatihan yang memadai. Bagi pemerintah daerah, penelitian ini menegaskan bahwa investasi teknologi kesehatan harus diikuti dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung.
Secara lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan sistem informasi manajemen yang efektif dapat meningkatkan kinerja pegawai, memperkuat koordinasi internal, dan mendorong pelayanan kesehatan publik yang lebih akuntabel dan berkualitas di era digital.
Profil Penulis
Sigit Purnomo, M.M. - Universitas Pamulang
Ima Amaliah, M.M. - Universitas Islam Bandung
Sumber Penelitian
Purnomo, S., & Amaliah, I. (2026). An Analysis of the Management Information System’s Influence on Employee Performance Effectiveness at South Tangerang Regional Public Hospital. International Journal of Business and Applied Economics, Vol. 5 No. 1, hlm. 215–228.
DOI : https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.562
URL : https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae

0 Komentar