Rasa syukur terbukti berperan penting dalam meningkatkan kepuasan hidup remaja yang tinggal di panti asuhan. Temuan ini disampaikan oleh Maizuhra Shafira Nst bersama Tarmidi Dadeh dan Indri Kemala Nasution dari Universitas Sumatera Utara dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di Indonesian Journal of Education and Psychological Science (IJEPS). Penelitian ini menyoroti bagaimana sikap bersyukur membantu remaja panti asuhan menilai hidup mereka secara lebih positif, meskipun menghadapi kehilangan orang tua dan keterbatasan sosial-ekonomi.
Isu kesejahteraan remaja di panti asuhan menjadi perhatian penting di Indonesia. Banyak remaja harus menjalani masa perkembangan yang krusial tanpa dukungan keluarga inti. Kondisi ini sering dikaitkan dengan risiko masalah psikologis, mulai dari rendahnya kepercayaan diri hingga ketidakpuasan hidup. Dalam konteks tersebut, penelitian dari Universitas Sumatera Utara ini memberikan bukti ilmiah bahwa faktor psikologis sederhana seperti rasa syukur dapat menjadi sumber kekuatan bagi remaja dalam menghadapi tantangan hidup.
Latar Belakang Masalah
Remaja yang tinggal di panti asuhan umumnya mengalami perubahan besar dalam hidup mereka. Kehilangan peran orang tua, berpindah lingkungan, serta hidup dalam sistem pengasuhan kolektif memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan masa depan. Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa anak dan remaja di panti asuhan menghadapi tantangan emosional, sosial, dan ekonomi yang lebih kompleks dibandingkan remaja pada umumnya.
Di sisi lain, psikologi positif menekankan pentingnya emosi dan sikap positif, seperti rasa syukur, dalam mendukung kesejahteraan individu. Rasa syukur dipahami sebagai kemampuan untuk mengenali dan menghargai hal-hal baik yang diterima dalam hidup, baik dari orang lain maupun dari situasi tertentu. Dalam konteks remaja panti asuhan, rasa syukur dapat muncul ketika mereka merasa aman, memperoleh pendidikan, serta mendapatkan dukungan dari pengasuh dan teman sebaya.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 200 remaja yang tinggal di panti asuhan. Para responden diminta mengisi dua kuesioner psikologis yang telah banyak digunakan secara internasional. Kepuasan hidup diukur menggunakan Satisfaction with Life Scale (SWLS), sementara tingkat rasa syukur diukur melalui Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6).
Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk melihat hubungan antara rasa syukur dan kepuasan hidup. Dengan pendekatan statistik yang menilai hubungan antarvariabel, para peneliti dapat mengetahui seberapa besar kontribusi rasa syukur terhadap penilaian hidup remaja panti asuhan secara keseluruhan.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis menunjukkan hubungan yang jelas dan signifikan antara rasa syukur dan kepuasan hidup. Remaja dengan tingkat rasa syukur yang lebih tinggi cenderung melaporkan kepuasan hidup yang lebih baik.
Beberapa temuan utama dapat dirangkum sebagai berikut:
-
Rasa syukur berpengaruh positif terhadap kepuasan hidup remaja panti asuhan.
-
Hubungan tersebut signifikan secara statistik, menunjukkan bahwa temuan ini tidak bersifat kebetulan.
-
Remaja yang kurang bersyukur cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah.
Peneliti juga mencatat bahwa banyak remaja panti asuhan membandingkan kondisi hidup mereka saat ini dengan pengalaman masa lalu yang penuh ketidakpastian. Lingkungan panti yang menyediakan makanan teratur, pendidikan, fasilitas belajar, serta pengasuh yang mendukung memunculkan perasaan aman dan dihargai. Perasaan inilah yang kemudian berkembang menjadi rasa syukur dan berdampak pada penilaian hidup yang lebih positif.
Selain itu, kehidupan bersama teman sebaya dengan latar belakang serupa menciptakan rasa kebersamaan dan dukungan emosional. Interaksi sosial yang hangat dan saling membantu turut memperkuat kepuasan hidup remaja.
Implikasi dan Dampak Nyata
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pengelola panti asuhan, pendidik, serta pembuat kebijakan. Rasa syukur bukan hanya konsep abstrak, tetapi dapat dikembangkan melalui aktivitas sehari-hari dan program terstruktur.
Penulis menyarankan agar panti asuhan mendorong pengembangan rasa syukur melalui kegiatan sederhana, seperti refleksi mingguan, jurnal syukur, atau diskusi kelompok tentang pengalaman positif. Program keagamaan dan pembinaan karakter juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan sikap menerima dan menghargai kehidupan.
“Rasa syukur membantu remaja memaknai hidup secara lebih positif dan mengurangi fokus pada keterbatasan,” tulis Maizuhra Shafira Nst dari Universitas Sumatera Utara dalam artikelnya. Menurut tim peneliti, pendekatan ini dapat menjadi bagian dari intervensi psikologis berbiaya rendah namun berdampak besar dalam meningkatkan kesejahteraan remaja di panti asuhan.
Dalam jangka panjang, peningkatan kepuasan hidup berpotensi mendukung prestasi akademik, hubungan sosial yang lebih sehat, serta kesiapan remaja menghadapi kehidupan dewasa. Bagi pembuat kebijakan, hasil ini memperkuat argumen bahwa pengasuhan anak tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga pengembangan kesehatan mental dan emosional.
Profil Penulis
Maizuhra Shafira Nst, S.Psi. adalah peneliti psikologi dari Universitas Sumatera Utara dengan fokus kajian pada psikologi remaja dan kesejahteraan psikologis di lingkungan pengasuhan institusional.
Tarmidi Dadeh, M.Psi. merupakan dosen dan peneliti di Universitas Sumatera Utara yang memiliki keahlian di bidang psikologi perkembangan dan pengukuran psikologis.
Indri Kemala Nasution, M.Psi. adalah akademisi dan praktisi psikologi dari Universitas Sumatera Utara dengan minat riset pada kesehatan mental remaja dan psikologi sosial.
0 Komentar