Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata bahari tumbuh cepat seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap destinasi pantai dan laut yang menawarkan pengalaman alam sekaligus budaya. Namun, tekanan terhadap ekosistem pesisir—mulai dari perubahan iklim hingga eksploitasi berlebihan—menuntut pendekatan pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Di sinilah konsep pariwisata bahari berbasis eco-culture atau ekobudaya menjadi relevan: pariwisata tidak hanya mengejar nilai ekonomi, tetapi juga menjaga ekologi laut dan identitas budaya lokal.
Penelitian Prastyadewi dan tim tidak mengkaji satu lokasi tertentu, melainkan memetakan tren riset global. Mereka menelusuri ratusan artikel ilmiah dari basis data internasional seperti Scopus dan Web of Science, lalu menganalisisnya menggunakan pendekatan bibliometrik. Secara sederhana, metode ini memetakan siapa meneliti apa, di negara mana, dalam jurnal apa, dan bagaimana tema penelitian berkembang dari waktu ke waktu.
Hasilnya menunjukkan peningkatan publikasi yang konsisten sejak awal 2000-an, dengan lonjakan tajam setelah 2015. Pada periode awal, riset pariwisata bahari masih didominasi isu ekologi murni, seperti kerusakan terumbu karang dan daya dukung kawasan wisata. Seiring waktu, fokus penelitian bergeser. Aspek budaya, peran masyarakat lokal, dan tata kelola pesisir mulai mendapat perhatian yang sama besar dengan konservasi lingkungan.
Tema-tema yang paling sering muncul dalam literatur global antara lain perlindungan ekosistem laut, pelestarian warisan budaya pesisir, pengelolaan berbasis komunitas, serta praktik pariwisata berkelanjutan. Dalam lima tahun terakhir, isu blue economy, ketahanan terhadap perubahan iklim, dan pariwisata regeneratif juga semakin menonjol. Ini menandakan perubahan cara pandang: laut tidak lagi dilihat sekadar sebagai objek wisata, melainkan sebagai ruang hidup sosial, budaya, dan ekonomi yang saling terhubung.
Dari sisi geografis, riset masih didominasi negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Spanyol. Australia, misalnya, banyak meneliti pengelolaan pariwisata di sekitar Great Barrier Reef dengan pendekatan yang menghargai “sea country” masyarakat adat. Eropa unggul dalam kajian warisan budaya laut dan pariwisata pesisir berkelanjutan. China menunjukkan pertumbuhan publikasi yang cepat, sejalan dengan fokus negara tersebut pada perencanaan pesisir dan ekonomi biru.
Indonesia mulai muncul sebagai negara yang berkembang dalam peta riset global, terutama melalui studi pariwisata bahari berbasis masyarakat dan bentang laut budaya. Namun, kontribusi negara-negara Global South secara umum masih relatif kecil dibandingkan potensi kekayaan budaya dan ekologi yang dimiliki. Menurut para penulis, ketimpangan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi akademisi di negara berkembang untuk memperkuat riset yang berakar pada konteks lokal.
Analisis jurnal ilmiah menunjukkan bahwa publikasi tentang topik ini banyak muncul di jurnal bereputasi tinggi seperti Marine Policy, Journal of Sustainable Tourism, Ocean & Coastal Management, dan Ecosystem Services. Artikel yang paling banyak dikutip umumnya membahas keterkaitan antara perubahan iklim, tata kelola laut, dan nilai budaya pesisir. Ini menandakan bahwa riset dengan pendekatan lintas disiplin—menggabungkan ekologi, ekonomi, budaya, dan kebijakan—memiliki dampak akademik dan kebijakan yang lebih kuat.
Melalui pemetaan kata kunci menggunakan perangkat visualisasi ilmiah, penelitian ini mengidentifikasi empat klaster utama pengetahuan. Klaster budaya menyoroti identitas lokal, warisan budaya, dan nilai non-material laut bagi masyarakat. Klaster ekologi menekankan konservasi dan pengelolaan berbasis ekosistem. Klaster tata kelola membahas kawasan konservasi, kebijakan pesisir, dan peran komunitas. Sementara itu, klaster ekonomi berfokus pada mata pencaharian, pariwisata berkelanjutan, dan ekonomi biru. Keterkaitan antarklaster menunjukkan bahwa riset pariwisata bahari semakin bersifat holistik.
Menurut Made Ika Prastyadewi, temuan ini menegaskan bahwa masa depan pariwisata bahari bergantung pada kemampuan mengintegrasikan nilai ekologi dan budaya. “Pendekatan eco-culture memberi kerangka untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak merusak lingkungan laut maupun mengikis identitas masyarakat pesisir,” ujarnya dalam parafrase akademik. Ia menekankan pentingnya riset lanjutan yang tidak hanya memetakan tren, tetapi juga mengukur dampak nyata kebijakan pariwisata terhadap kesejahteraan komunitas dan ketahanan ekosistem.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberi dasar ilmiah untuk merancang strategi pariwisata pesisir yang lebih adil dan berkelanjutan. Bagi pelaku usaha, riset ini menunjukkan bahwa wisata berbasis budaya dan ekologi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan jangka panjang. Sementara bagi masyarakat pesisir, pendekatan ini membuka ruang partisipasi yang lebih besar dalam pengelolaan destinasi wisata.

0 Komentar