Dalam artikelnya, Aung menilai teori klasik Marx tidak sepenuhnya gugur oleh runtuhnya rezim komunis abad ke-20 atau menguatnya kapitalisme global. Sebaliknya, teori tersebut tetap bernilai jika dibebaskan dari tafsir deterministik dan ramalan pasti tentang kemenangan komunisme. Di tengah kapitalisme digital, ketimpangan global, dan munculnya ekonomi berbasis platform, kerangka Marx dinilai masih mampu membaca perubahan struktural jangka panjang masyarakat.
Mengapa Teori Marx Dipertanyakan?
Materialisme historis selama ini dipahami sebagai teori besar yang menjelaskan sejarah manusia melalui perubahan “cara produksi” atau modes of production. Dalam kerangka ini, sejarah bergerak dari komunisme primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme, hingga akhirnya komunisme modern. Perubahan tersebut digerakkan oleh konflik antara kekuatan produksi (teknologi, tenaga kerja, pengetahuan) dan hubungan produksi (kepemilikan, kelas sosial, distribusi surplus).
Namun, abad ke-20 mengguncang keyakinan tersebut. Revolusi proletar tidak terjadi di negara kapitalis maju seperti yang diperkirakan Marx. Sebaliknya, revolusi muncul di negara agraris seperti Rusia dan Tiongkok. Banyak negara sosialis justru beralih ke mekanisme pasar. Kapitalisme, alih-alih runtuh, berkembang menjadi sistem global yang adaptif.
Kritik juga datang dari berbagai aliran teori sosial modern. Pemikir seperti Anthony Giddens menekankan hubungan timbal balik antara struktur dan agen sosial, bukan dominasi tunggal faktor ekonomi. Michael Mann menunjukkan bahwa kekuasaan dalam masyarakat tidak hanya bersumber dari ekonomi, tetapi juga politik, militer, dan ideologi. Sementara ekonom Friedrich Hayek mengkritik perencanaan ekonomi terpusat karena dianggap tidak mampu mengolah informasi kompleks yang tersebar di masyarakat.
Apa yang Direkonstruksi?
Aung tidak menolak kritik tersebut. Ia justru menggunakannya untuk membangun ulang teori Marx dalam bentuk yang lebih fleksibel dan multi-sebab (multi-causal). Ada beberapa poin kunci rekonstruksi:
1. Menghapus Ramalan Pasti Sejarah
Teori Marx tidak lagi dibaca sebagai kepastian bahwa kapitalisme akan digantikan komunisme. Sebaliknya, ia dipahami sebagai analisis tentang kecenderungan krisis dan perubahan dalam kapitalisme.
2. Basis dan Superstruktur Bersifat Timbal Balik
Model lama yang menyatakan ekonomi menentukan politik dan budaya secara sepihak diganti dengan model umpan balik. Ekonomi memengaruhi negara dan hukum, tetapi kebijakan negara juga membentuk perkembangan ekonomi.
3. Fokus pada Mekanisme, Bukan Tahapan Tetap
Alih-alih urutan sejarah yang kaku, Aung menekankan mekanisme konkret seperti pertumbuhan produktivitas, konflik distribusi surplus, pembentukan negara, dan relasi pusat–pinggiran dalam ekonomi global.
4. Menggabungkan Perspektif Lain
Teori konflik, rasional choice, pendekatan interpretatif, hingga perspektif biososial dipadukan untuk memperkaya analisis. Dengan demikian, perubahan sosial dipahami sebagai hasil interaksi struktur, strategi aktor, budaya, dan bahkan faktor biologis manusia.
Relevansi di Era Kapitalisme Digital
Rekonstruksi ini menjadi penting dalam membaca kapitalisme abad ke-21. Ekonomi kini digerakkan oleh platform digital, kecerdasan buatan, data, dan jaringan global. Muncul kelas sosial baru seperti pekerja gig economy, pemilik platform, dan “data landlords”.
Dalam perspektif materialisme historis yang direkonstruksi:
- Kapitalisme digital adalah fase baru dari komodifikasi tenaga kerja dan informasi.
- Ketimpangan global tetap terkait dengan posisi negara dalam rantai produksi dunia.
- Negara berada dalam dilema antara mengatur perusahaan teknologi dan bergantung pada mereka untuk pertumbuhan ekonomi.
Aung juga menyoroti negara-negara dengan model “socialist-oriented market economy” seperti Vietnam dan Tiongkok. Sistem ini menggabungkan kepemimpinan partai dengan mekanisme pasar. Menurutnya, model tersebut menunjukkan bahwa perkembangan sosial tidak selalu mengikuti jalur tunggal Barat, tetapi bisa berbentuk hibrida.
Dampak bagi Dunia Akademik dan Kebijakan
Rekonstruksi ini memiliki beberapa implikasi penting:
- Bagi akademisi, teori Marx tetap relevan sebagai program riset sejarah jangka panjang, bukan sebagai dogma ideologis.
- Bagi pembuat kebijakan, analisis struktur produksi dan distribusi surplus membantu membaca akar ketimpangan sosial.
- Bagi negara berkembang, pemahaman tentang relasi pusat–pinggiran dapat menjadi dasar strategi industrialisasi dan transformasi ekonomi.
- Bagi masyarakat umum, teori ini menjelaskan mengapa krisis ekonomi, perubahan teknologi, dan konflik kelas terus berulang dalam bentuk baru.
Aung menegaskan bahwa materialisme historis tidak perlu dipertahankan sebagai “ramalan kemenangan komunisme”, melainkan sebagai kerangka analitis untuk memahami transformasi sosial jangka panjang.
Profil Penulis
Ye Si Thu Aung adalah akademisi dari Vietnam National University, Hanoi. Ia meneliti teori sosial, materialisme historis, dan perkembangan kapitalisme global. Kajiannya berfokus pada dialog antara teori klasik Marx dengan teori sosial kontemporer serta relevansinya bagi dunia berkembang.
Sumber Penelitian
Ye Si Thu Aung. 2026. Historical Materialism and Social Development: Reconstructing a Marxist Theory in the Age of Contemporary Social Theory. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 2, hlm. 241–254.
0 Komentar