Narasi Dinilai Fondasi Penting Berpikir Kritis dalam Pendidikan Modern

Ilustrasi by AI
 
FORMOSA NEWS - Medan - Kemampuan berpikir kritis tidak lahir hanya dari latihan soal atau hafalan konsep. Kesimpulan itu ditegaskan dalam artikel ilmiah terbaru karya Otto Mart Andreas dan Elisabet Marthawati Samosir dari Universitas Pelita Harapan, yang dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR). Melalui kajian filsafat pendidikan, keduanya menunjukkan bahwa narasi atau cerita berperan sebagai kerangka pengetahuan mendasar yang membentuk cara manusia memahami, menilai, dan merefleksikan informasi secara kritis.

Kajian ini penting di tengah kekhawatiran global bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik masih tertinggal, meskipun pendidikan modern semakin sarat dengan target capaian, asesmen, dan standar terukur. Artikel ini menegaskan bahwa akar persoalannya bukan sekadar metode mengajar, melainkan cara pengetahuan itu sendiri dibentuk dan dipahami oleh peserta didik.

Mengapa Berpikir Kritis Masih Lemah?

Dalam banyak sistem pendidikan, berpikir kritis sering dipersempit menjadi kumpulan keterampilan teknis: menganalisis argumen, mengevaluasi bukti, atau menjawab soal berbasis logika. Pendekatan ini memang mudah diukur, tetapi kerap mengabaikan proses refleksi mendalam yang memungkinkan seseorang memahami mengapa suatu pengetahuan dianggap benar.

Otto Mart Andreas menjelaskan bahwa pembelajaran yang terlalu berorientasi pada penguasaan materi dan hasil ujian cenderung menghambat perkembangan penilaian reflektif. Akibatnya, peserta didik mampu mengulang informasi, tetapi kesulitan menilai asumsi, memahami sebab-akibat, atau merefleksikan dasar suatu klaim.

Di sinilah narasi mengambil peran penting. Cerita, dialog, dan alur peristiwa bukan sekadar alat bantu mengajar, melainkan cara mendasar manusia mengorganisasi pengalaman dan membangun pemahaman.

Menyelami Akar Filsafat Barat

Alih-alih melakukan eksperimen kelas, penelitian ini menggunakan pendekatan konseptual-filosofis. Para penulis menelaah pemikiran tiga filsuf besar—Plato, Aristoteles, dan Immanuel Kant—untuk melihat bagaimana narasi berfungsi dalam proses terbentuknya pengetahuan dan berpikir kritis.

Pendekatan ini memungkinkan penulis menelusuri fondasi epistemologis, atau teori tentang pengetahuan, yang sering luput dari diskusi pendidikan praktis.

Plato: Narasi sebagai Jembatan dari Opini ke Pengetahuan

Dalam pemikiran Plato, pengetahuan sejati tidak lahir dari penerimaan pasif terhadap informasi. Ia tumbuh melalui refleksi dan dialog yang menggugat keyakinan awal. Plato kerap menggunakan mitos dan alegori, seperti Alegori Gua, untuk mendorong pembaca mempertanyakan apa yang selama ini dianggap nyata.

Menurut kajian ini, narasi dalam tradisi Plato berfungsi sebagai jembatan dari doxa (opini) menuju epistēmē (pengetahuan sejati). Cerita tidak memberi jawaban instan, tetapi memancing pertanyaan kritis dan kesadaran diri. Proses inilah yang menjadi inti berpikir kritis: keberanian untuk meragukan, menimbang, dan merevisi keyakinan.

Aristoteles: Cerita dan Logika Sebab-Akibat

Berbeda dari gurunya, Aristoteles menekankan pentingnya struktur rasional dalam cerita. Dalam Poetics, ia menjelaskan bahwa narasi yang baik memiliki alur sebab-akibat yang koheren. Peristiwa tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait secara logis.

Kajian ini menunjukkan bahwa melalui narasi semacam itu, peserta didik belajar memahami hubungan tindakan dan konsekuensinya. Cerita menjadi ruang latihan untuk menilai keputusan, motif, dan dampak tindakan manusia. Dengan kata lain, narasi membantu mengasah penilaian rasional dan etis—dua unsur penting berpikir kritis.

Kant: Narasi dan Kesadaran Cara Kita Mengetahui

Sumbangan Immanuel Kant melengkapi dua pemikiran sebelumnya. Kant berpendapat bahwa pengetahuan tidak hanya berasal dari pengalaman, tetapi juga dari struktur kognitif dalam pikiran manusia, seperti konsep waktu, sebab-akibat, dan kesatuan.

Dalam konteks ini, narasi dipahami sebagai pengalaman yang terstruktur. Cerita menyusun peristiwa secara temporal dan kausal, sehingga pembaca tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga menyadari bagaimana pikirannya bekerja dalam membangun pemahaman. Kesadaran inilah yang disebut para penulis sebagai dimensi metakognitif berpikir kritis.

Temuan Utama Penelitian

Dari analisis filosofis tersebut, penelitian ini menyimpulkan beberapa poin penting:

·         Narasi berfungsi sebagai kerangka epistemik, bukan sekadar teknik mengajar.

·     Berpikir kritis terbentuk melalui proses refleksi, pemahaman sebab-akibat, dan kesadaran akan cara pengetahuan disusun.

·         Pendekatan berbasis keterampilan semata tidak cukup untuk membangun penilaian kritis yang mendalam.

·         Narasi memungkinkan integrasi pengalaman, rasio, dan refleksi diri dalam proses belajar.

Dampak bagi Dunia Pendidikan

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi. Kurikulum yang memanfaatkan cerita, dialog, dan diskusi reflektif berpotensi membangun berpikir kritis yang lebih tahan lama dibanding sekadar latihan soal.

Bagi pendidik, riset ini mendorong perubahan cara pandang: narasi bukan pemanis pembelajaran, melainkan inti dari proses membentuk pemahaman. Bagi pembuat kebijakan, kajian ini mengingatkan bahwa penguatan berpikir kritis tidak bisa dilepaskan dari fondasi epistemologis pendidikan.

Profil Penulis

Dr. Otto Mart Andreas adalah dosen dan peneliti di Universitas Pelita Harapan dengan keahlian dalam filsafat pendidikan, epistemologi, dan pengembangan berpikir kritis.
Elisabet Marthawati Samosir, M.Pd. merupakan akademisi di Universitas Pelita Harapan yang menaruh perhatian pada teori pendidikan dan pembelajaran reflektif.

Sumber Penelitian

Andreas, O. M., & Samosir, E. M. (2026). Narrative as an Epistemic Framework for Critical Thinking. Indonesian Journal of Advanced Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 73–84.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i1.15970

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar