Timor- Leste - Pembelajaran matematika di sekolah dasar Timor-Leste masih menghadapi tantangan mendasar. Kajian ilmiah yang ditulis Salvador Magno Ximenes dari Instituto Católico para a Formação de Professores (ICFP) Baucau, Timor-Leste, menunjukkan bahwa keterbatasan kesiapan guru, minimnya sumber belajar, dan persoalan bahasa pengantar menjadi penghambat utama. Artikel ini dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research dan relevan bagi agenda peningkatan mutu pendidikan dasar di negara pascakonflik.
Temuan ini penting karena matematika merupakan fondasi numerasi dan penalaran logis. Ketika pembelajaran dasar melemah, dampaknya bisa menjalar hingga kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Tantangan Pendidikan Dasar Pascakonflik
Sebagai negara yang relatif muda, Timor-Leste masih membenahi sistem pendidikan. Keterbatasan infrastruktur, distribusi guru yang belum merata, serta minimnya bahan ajar lebih terasa di wilayah pedesaan. Dalam konteks matematika—mata pelajaran yang menuntut pendekatan konseptual—keterbatasan tersebut makin terasa.
Bahasa Pengantar sebagai Hambatan
Secara resmi, Portugis dan Tetum digunakan di sekolah. Namun, banyak siswa berkomunikasi dengan bahasa ibu lain di rumah. Kesenjangan bahasa ini menyulitkan pemahaman istilah dan instruksi matematika yang abstrak, sehingga proses belajar kerap berujung pada hafalan, bukan pemahaman.
Pendekatan Kajian
Artikel ini disusun melalui tinjauan literatur dan analisis kontekstual, memadukan temuan riset terdahulu, laporan pendidikan, serta pengalaman penulis sebagai pendidik dan pelatih guru. Pendekatan ini memberi gambaran realistis kondisi kelas tanpa jargon teknis yang rumit.
Temuan Utama
Kajian ini menyoroti beberapa pola kunci:
-
Banyak guru SD belum mendapat pelatihan pedagogi matematika yang memadai
-
Metode mengajar masih berpusat pada guru dan hafalan
-
Buku ajar serta alat peraga matematika terbatas
-
Hambatan bahasa menurunkan pemahaman konsep dasar
-
Kesenjangan kualitas pembelajaran antara sekolah kota dan desa masih nyata
Implikasi Kebijakan dan Praktik
Perbaikan tidak bisa parsial. Penulis menekankan perlunya:
-
pelatihan berkelanjutan bagi guru,
-
kurikulum kontekstual,
-
pendekatan berbasis bahasa ibu sebagai jembatan belajar, dan
-
penyediaan sumber belajar yang relevan dengan budaya lokal.
Menurut Salvador Magno Ximenes, peningkatan kualitas guru dan kepekaan bahasa-budaya adalah kunci untuk memperkuat pembelajaran matematika dasar.
Profil Penulis
Salvador Magno Ximenes adalah dosen dan peneliti di Instituto Católico para a Formação de Professores (ICFP) Baucau, Timor-Leste. Keahliannya meliputi pendidikan matematika SD, pelatihan guru, dan pembelajaran multibahasa di konteks pascakonflik.
Sumber Penelitian
DOI: (sesuai yang tercantum pada artikel jurnal)
URL jurnal: https://nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaamr
0 Komentar