Ketangguhan Mental Bedakan Gaya Komunikasi Generasi X dan Z di Donggala


Ilustrasi by AI

Palu- Perbedaan cara berbicara antara Generasi X dan Generasi Z di Kabupaten Donggala bukan sekadar soal usia, tetapi mencerminkan tingkat ketangguhan mental yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan lingkungan sosial yang berbeda. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis Sumarni Zainuddin bersama tim peneliti dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Tadulako Palu, dan dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR).

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Generasi X cenderung memiliki ketangguhan mental yang lebih kuat, yang tercermin dalam perilaku komunikasi sehari-hari yang menjunjung tinggi etika, kesopanan, dan kontrol emosi. Sebaliknya, Generasi Z dinilai lebih longgar dalam penggunaan bahasa, terutama di kalangan sebaya dan media sosial, meski unggul dalam penguasaan teknologi komunikasi. Hasil ini penting karena memperlihatkan akar dari berbagai gesekan komunikasi antar generasi yang semakin sering terjadi di masyarakat.

Perbedaan Generasi dalam Konteks Sosial Donggala

Kabupaten Donggala memiliki karakter sosial yang kuat dengan nilai-nilai budaya timur yang menjunjung kesopanan, hierarki usia, dan tata krama dalam interaksi sosial. Dalam konteks ini, perbedaan generasi menjadi semakin terlihat. Generasi X—yang umumnya lahir antara 1965 hingga 1980—tumbuh tanpa paparan teknologi digital sejak dini. Pengalaman hidup yang penuh keterbatasan justru membentuk ketahanan mental, kesabaran, dan penghargaan terhadap proses.

Sebaliknya, Generasi Z—yang lahir setelah 1997—besar dalam lingkungan yang dipenuhi teknologi digital dan media sosial. Akses cepat terhadap informasi dan komunikasi instan membentuk gaya berbicara yang lebih santai, langsung, dan sering kali tanpa mempertimbangkan norma lintas usia. Perbedaan latar belakang inilah yang kemudian memengaruhi cara kedua generasi memaknai etika, bahasa, dan sopan santun dalam komunikasi.

Metode Penelitian dengan Pendekatan Kualitatif

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali secara mendalam perbedaan ketangguhan mental dalam perilaku komunikasi Generasi X dan Generasi Z. Informan dipilih secara purposif, terdiri dari tiga orang tua berusia 45–50 tahun yang mewakili Generasi X dan tiga anak muda berusia 19–23 tahun dari Generasi Z.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung, kemudian dianalisis melalui proses penyederhanaan data, penyajian temuan, serta penarikan kesimpulan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap realitas sosial dan makna di balik perilaku komunikasi kedua generasi secara lebih utuh.

Etika Berbicara Jadi Penanda Ketangguhan Mental

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi X menempatkan etika sebagai fondasi utama dalam berkomunikasi. Mereka terbiasa menggunakan ungkapan sopan seperti “tabe” saat menyela pembicaraan, menghindari membantah orang tua meski merasa benar, serta menjaga pilihan kata agar tidak melukai perasaan lawan bicara. Dalam komunikasi nonverbal, Generasi X juga masih mempraktikkan kebiasaan membungkuk saat melewati orang yang lebih tua dan berjabat tangan ketika berpamitan.

Generasi X secara tegas menolak penggunaan kata-kata kasar atau slang ekstrem seperti anjay, anjir, atau panggilan yang merendahkan, baik dalam percakapan langsung maupun di media sosial. Bagi mereka, bahasa mencerminkan karakter dan ketangguhan mental seseorang dalam mengendalikan diri.

Generasi Z: Cepat, Santai, dan Digital

Di sisi lain, Generasi Z memandang banyak ungkapan kasar sebagai hal yang lumrah, terutama dalam komunikasi dengan teman sebaya. Kata-kata tersebut dianggap sebagai bagian dari candaan, ekspresi keakraban, atau strategi agar diterima dalam kelompok sosial. Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa sebagian informan Generasi Z menyadari bahwa kebiasaan tersebut sebenarnya bermakna negatif dan tidak pantas jika digunakan dalam konteks yang lebih luas.

Dalam komunikasi dengan pihak yang lebih tua, seperti dosen atau guru, Generasi Z kerap langsung menyampaikan maksud tanpa pembukaan formal, salam, atau perkenalan diri. Pola ini sering dianggap kurang sopan oleh Generasi X, meskipun tidak semua anggota Generasi Z berperilaku demikian.

Ketangguhan Mental dan Tantangan Era Digital

Menurut Sumarni Zainuddin dan tim, ketangguhan mental berperan besar dalam menentukan bagaimana seseorang merespons tekanan, konflik, dan perbedaan pendapat dalam komunikasi. Generasi X dinilai lebih mampu mengendalikan emosi dan tetap berpegang pada nilai-nilai etika, sementara Generasi Z menghadapi tantangan berupa derasnya arus pesan digital yang tidak selalu edukatif.

Meski demikian, penelitian ini tidak menempatkan Generasi Z sebagai pihak yang sepenuhnya lemah. Keunggulan mereka dalam penguasaan teknologi komunikasi menjadi modal penting di era digital, terutama dalam dunia kerja dan ekonomi kreatif. Tantangannya adalah menyeimbangkan kecepatan dan fleksibilitas digital dengan etika komunikasi lintas generasi.

Implikasi bagi Pendidikan dan Kehidupan Sosial

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan, keluarga, dan pembuat kebijakan. Pendidikan etika komunikasi lintas generasi dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan nilai antara Generasi X dan Z. Di lingkungan kampus dan sekolah, pemahaman tentang tata krama komunikasi digital dapat membantu mencegah konflik dan meningkatkan kualitas interaksi.

Bagi keluarga dan masyarakat, penelitian ini menegaskan perlunya dialog terbuka antar generasi agar perbedaan tidak berujung pada saling menyalahkan. Ketangguhan mental tidak hanya dibentuk oleh usia, tetapi juga oleh bimbingan, teladan, dan lingkungan sosial yang sehat.

Profil Penulis

Sumarni Zainuddin Universitas Tadulako Palu
Penulis bersama: Donal Adrian, Muhammad Wahid, Fadhliah, Edwan, Romaulina Tampubolon, Moch. Rezky Ramadhan, dan Maghfirah Atsari Ayu Fadli, seluruhnya berasal dari Universitas Tadulako.

Sumber Penelitian

Zainuddin, S., Adrian, D., Wahid, M., et al. (2026). Differences in Mental Toughness in Communication Behavior of Generation X and Generation Z in Donggala Regency. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 241–250.
DOI: 10.55927/eajmr.v5i1.538

web : https://mtiformosapublisher.org/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar