Model kepemimpinan yang memadukan nilai spiritual Islam dan kearifan lokal Sunda terbukti memperkuat peran akademik di Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah karya Irvan Maulana, Muhammad Husein Maruapey, dan R. Oetje Subagdja dari Universitas Djuanda Bogor, yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS). Hasil penelitian ini penting karena menawarkan pendekatan kepemimpinan yang relevan bagi perguruan tinggi berbasis nilai di tengah tuntutan modernisasi dan digitalisasi pendidikan tinggi.
Penelitian tersebut mengulas bagaimana pimpinan IUQI Bogor menjalankan fungsi akademik—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dengan mengintegrasikan etika keislaman dan nilai budaya lokal. Di saat banyak institusi pendidikan tinggi menghadapi tantangan tata kelola, kualitas akademik, dan perubahan kebijakan nasional, temuan ini menunjukkan bahwa nilai moral dan budaya dapat menjadi fondasi kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan.
Tantangan Kepemimpinan Perguruan Tinggi Berbasis Nilai
Perguruan tinggi di Indonesia saat ini berada di bawah tekanan untuk beradaptasi dengan kebijakan nasional seperti Kampus Merdeka, peningkatan akreditasi, serta pemanfaatan teknologi digital. Banyak model kepemimpinan menekankan efisiensi manajerial dan target kinerja, namun sering mengabaikan dimensi nilai dan budaya. Bagi kampus Islam, pendekatan semata-mata teknokratis berisiko mengikis identitas kelembagaan.
IUQI Bogor, sebagai perguruan tinggi Islam yang berada di lingkungan budaya Sunda, menghadapi tantangan ganda: menjaga nilai spiritual sambil memastikan tata kelola akademik berjalan profesional. Penelitian ini menempatkan kampus tersebut sebagai contoh bagaimana kepemimpinan berbasis nilai dapat menjawab tantangan tersebut.
Metodologi Penelitian dengan Pendekatan Lapangan
Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan fokus pada praktik kepemimpinan di lingkungan kampus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tujuh informan kunci, termasuk pimpinan institusi dan unsur akademik yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi dan analisis dokumen kelembagaan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap praktik kepemimpinan secara kontekstual, bukan sekadar menilai struktur organisasi di atas kertas. Analisis data dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi pola nilai, perilaku, dan pengambilan keputusan yang konsisten.
Temuan Utama: Model Kepemimpinan Hibrida
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan di IUQI Bogor membentuk model hibrida yang menggabungkan nilai spiritual Islam dan kearifan lokal Sunda. Nilai-nilai ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling memperkuat dalam praktik kepemimpinan sehari-hari.
Nilai spiritual yang menonjol meliputi:
- Shidiq (kejujuran) dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan akademik.
- Amanah (tanggung jawab) sebagai prinsip dasar kepemimpinan.
- Fathonah (kecerdasan) dalam memahami persoalan akademik dan organisasi.
- Tabligh (komunikasi terbuka) untuk menjaga transparansi kebijakan.
- Istiqomah (konsistensi) dalam mempertahankan nilai meski menghadapi tekanan perubahan.
Nilai budaya Sunda yang terintegrasi antara lain:
- Cageur, menekankan keseimbangan fisik dan mental dalam bekerja.
- Bener, mengedepankan keadilan dan kebenaran.
- Bageur, membangun hubungan kerja yang saling menghormati.
- Pinter, kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan tepat.
- Singer, kesiapsiagaan dan adaptasi terhadap perubahan.
Penelitian ini mencatat bahwa Amanah, Fathonah, dan Istiqomah menjadi nilai paling dominan dalam praktik kepemimpinan kampus. Ketiganya membentuk kepercayaan sivitas akademika dan memperkuat legitimasi pimpinan.
Dampak terhadap Peran Akademik Kampus
Model kepemimpinan tersebut berdampak langsung pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Proses pendidikan berjalan lebih terarah karena kebijakan akademik dipahami sebagai amanah moral. Kegiatan penelitian didorong dengan prinsip kejujuran dan tanggung jawab ilmiah. Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat diposisikan sebagai wujud nilai sosial dan spiritual kampus.
Penelitian ini juga menyoroti pendekatan IUQI Bogor dalam menghadapi digitalisasi. Kampus mengadopsi sistem akademik digital tanpa menghilangkan interaksi personal dan nilai kekeluargaan. Pendekatan ini membantu menjaga identitas institusi di tengah modernisasi.
Menurut para penulis, keberhasilan kepemimpinan di IUQI Bogor menunjukkan bahwa modernitas dan nilai tradisional tidak harus saling meniadakan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan jika dikelola secara sadar dan konsisten.
Relevansi bagi Dunia Pendidikan Tinggi
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi perguruan tinggi Islam dan institusi pendidikan berbasis nilai di Indonesia. Model kepemimpinan yang mengintegrasikan etika spiritual dan budaya lokal dapat menjadi alternatif bagi kampus yang ingin meningkatkan kualitas tata kelola tanpa kehilangan identitas.
Bagi pembuat kebijakan pendidikan, penelitian ini menegaskan pentingnya konteks budaya dalam merumuskan standar kepemimpinan perguruan tinggi. Sementara bagi akademisi, studi ini membuka ruang kajian baru tentang kepemimpinan non-Barat yang berakar pada nilai lokal.

0 Komentar