Penelitian ini penting karena Lamongan merupakan wilayah agraris dan pesisir yang bergantung pada kelancaran distribusi hasil pertanian, perikanan, dan industri. Ruas Sumberwudi–Maduran sepanjang sekitar 10 kilometer berfungsi sebagai koridor logistik utama. Namun, dominasi kendaraan berat membuat jalan cepat rusak jika desain dan material tidak tepat. Di sinilah studi ini memberi jawaban berbasis data.
Tantangan Jalan Logistik di Lamongan
Jalan bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi penopang utama aktivitas ekonomi. Di Lamongan, khususnya wilayah utara, kondisi jalan kabupaten masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data menunjukkan tingkat kemantapan jalan kabupaten Lamongan pada 2025 baru mencapai sekitar 59,97 persen dari total jaringan jalan. Artinya, hampir separuh ruas jalan masih memerlukan peningkatan kualitas.
Ruas Sumberwudi–Maduran menjadi contoh nyata tantangan tersebut. Jalan ini setiap hari dilalui truk dua dan tiga sumbu yang mengangkut hasil perikanan, produk industri, dan logistik menuju pusat distribusi maupun pelabuhan. Beban berlebih dan intensitas lalu lintas tinggi mempercepat kerusakan permukaan jalan, terutama jika menggunakan aspal konvensional.
Membandingkan Beton dan Aspal dengan Data Nyata
Alih-alih berdebat secara teoritis, tim peneliti memilih pendekatan lapangan. Mereka melakukan survei kondisi jalan, penggalian lapisan perkerasan (road pit test), dokumentasi visual, serta analisis lalu lintas kendaraan berat. Perhitungan desain mengacu pada Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2024, standar terbaru nasional.
Penelitian ini membandingkan dua jenis perkerasan—aspal (flexible pavement) dan beton (rigid pavement)—dengan dua skenario umur rencana, yaitu 20 tahun dan 40 tahun. Analisis tidak hanya melihat biaya konstruksi awal, tetapi juga biaya pemeliharaan sepanjang umur layanan serta waktu pelaksanaan proyek.
Hasil Utama: Beton Unggul Secara Biaya
Hasilnya tegas. Dari sisi biaya total konstruksi dan pemeliharaan, jalan beton jauh lebih ekonomis.
· Aspal umur rencana 20 tahun membutuhkan biaya sekitar Rp17,64 miliar
· Beton umur rencana 20 tahun hanya sekitar Rp9,06 miliar
Untuk skenario jangka panjang, selisihnya makin mencolok:
· Aspal umur rencana 40 tahun mencapai Rp52,23 miliar
· Beton umur rencana 40 tahun sekitar Rp15,03 miliar
Dengan kata lain, penggunaan beton dapat menghemat anggaran hingga lebih dari Rp37 miliar untuk satu ruas jalan saja dalam periode 40 tahun.
Menurut Johan Sanjoko, perbedaan ini terutama disebabkan oleh frekuensi perawatan. “Aspal umumnya memerlukan perbaikan besar setiap 10 tahun, sementara beton cukup dilakukan pemeliharaan berkala sekitar 20 tahun sekali,” jelasnya dalam analisis penelitian.
Waktu Pengerjaan: Aspal Lebih Cepat, Beton Lebih Tahan
Dari sisi waktu pelaksanaan, aspal memang unggul. Dengan 20 tenaga kerja:
· Aspal 20 tahun dapat diselesaikan dalam 31 hari
· Aspal 40 tahun sekitar 37 hari
Sementara itu:
· Beton 20 tahun memerlukan sekitar 180 hari
· Beton 40 tahun hingga 205 hari
Namun, peneliti menilai waktu pengerjaan yang lebih lama ini sebanding dengan ketahanan struktur beton terhadap beban berat dan umur layanan yang panjang. Untuk jalan logistik dengan lalu lintas padat, beton dinilai lebih stabil dan minim gangguan perbaikan di masa depan.
Dampak bagi Kebijakan dan Pembangunan Daerah
Temuan ini memberi pesan penting bagi pemerintah daerah. Dalam proyek jalan strategis, biaya murah di awal belum tentu hemat dalam jangka panjang. Beton memang membutuhkan waktu pembangunan lebih lama, tetapi memberikan kepastian umur layanan dan efisiensi anggaran yang signifikan.
Bagi Lamongan dan daerah serupa, hasil penelitian ini bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan dalam program peningkatan jalan, termasuk inisiatif Lamongan Jalan Mulus (Jamula). Selain mengurangi beban APBD untuk pemeliharaan berulang, jalan beton juga mengurangi gangguan lalu lintas akibat tambal-sulam jalan.
Penelitian ini juga membuka diskusi tentang keberlanjutan. Jalan beton yang lebih tahan lama berarti lebih sedikit pekerjaan ulang, konsumsi material lebih rendah dalam jangka panjang, dan potensi pengurangan emisi dari aktivitas konstruksi berulang.
Profil Singkat Penulis
· Johan Sanjoko, S.T., M.T. Mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Bidang keahlian: perkerasan jalan dan manajemen konstruksi.
· Andi Patriadi, S.T., M.T. Dosen Teknik Sipil, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Bidang keahlian: transportasi dan rekayasa jalan.
· Retno Hastijanti, S.T., M.T., Ph.D. Dosen Teknik Sipil, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Bidang keahlian: infrastruktur berkelanjutan dan analisis struktur.
Sumber Penelitian
Judul: A Case Study of the Sumberwudi–Maduran Road Section, Lamongan Regency, East Java Province: A Comparative Study of Materials in the Design of Concrete and Asphalt Road Pavements in Terms of Cost and Time
Jurnal: Formosa Journal of Science and
Technology (FJST)
Tahun: 2026

0 Komentar