Ruas Sumberwudi–Maduran sepanjang sekitar 10 kilometer berfungsi sebagai koridor distribusi hasil pertanian, perikanan, dan aktivitas industri skala lokal. Jalan ini menghubungkan wilayah pedesaan dengan pusat kecamatan dan kabupaten. Kondisi lalu lintasnya padat, didominasi kendaraan bermuatan berat, dan melintasi kawasan dengan fungsi ruang beragam—permukiman, pasar lokal, hingga tambak. Kombinasi beban sumbu tinggi dan intensitas lalu lintas inilah yang membuat kualitas perkerasan cepat menurun bila desainnya tidak tepat.
Tantangan Infrastruktur Daerah
Di tingkat provinsi, Jawa Timur terus mendorong peningkatan konektivitas untuk menekan biaya logistik dan mempercepat pergerakan barang. Namun, di tingkat kabupaten, kualitas jalan masih menjadi tantangan. Data pemerintah daerah menunjukkan stabilitas jalan kabupaten Lamongan belum merata, sehingga ruas-ruas strategis seperti Sumberwudi–Maduran perlu penanganan berbasis kajian teknis yang matang.
Selama ini, pilihan perkerasan sering berhadapan pada dua opsi utama: aspal (perkerasan lentur) dan beton (perkerasan kaku). Aspal dikenal cepat dibangun dan mudah diperbaiki, sementara beton unggul dalam daya tahan terhadap beban berat dan umur layanan yang lebih panjang. Pertanyaannya, pilihan mana yang paling tepat untuk koridor logistik dengan lalu lintas berat seperti Sumberwudi–Maduran?
Cara Kajian Dilakukan
Tim peneliti menganalisis kondisi ruas jalan dengan menggabungkan data lalu lintas, karakteristik tanah dasar, dan kebutuhan fungsi jalan. Pendekatan yang digunakan bersifat komparatif—membandingkan kinerja perkerasan aspal dan beton dari sisi ketahanan struktur, biaya konstruksi dan pemeliharaan, serta dampak terhadap kelancaran lalu lintas selama masa layanan.
Alih-alih memaparkan rumus teknis yang rumit, penelitian ini menekankan gambaran praktis yang mudah dipahami: bagaimana masing-masing jenis perkerasan merespons beban kendaraan berat, perubahan lingkungan, dan kebutuhan perawatan dalam jangka panjang.
Temuan Utama: Beton Lebih Tangguh untuk Beban Berat
Hasil kajian menunjukkan perbedaan yang cukup jelas antara kedua jenis perkerasan:
· Perkerasan aspal cenderung lebih fleksibel dan nyaman pada tahap awal, namun membutuhkan ketebalan struktur yang lebih besar serta pemeliharaan lebih sering, terutama di jalur dengan kendaraan berat.
· Perkerasan beton memiliki kemampuan menyebarkan beban lebih luas ke tanah dasar, sehingga lebih tahan terhadap beban sumbu tinggi dan lalu lintas padat.
· Dalam jangka panjang, beton dinilai lebih efisien karena umur layanan lebih panjang dan frekuensi perawatan lebih rendah, meskipun biaya awal pembangunannya lebih tinggi.
Pada ruas Sumberwudi–Maduran yang berfungsi sebagai koridor logistik, dominasi kendaraan berat menjadi faktor penentu. Beton dinilai lebih sesuai untuk menjaga stabilitas jalan, mengurangi kerusakan seperti gelombang, retak lelah, dan lubang, serta meminimalkan gangguan lalu lintas akibat perbaikan berulang.
Dampak bagi Ekonomi Lokal
Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Jalan yang lebih tahan lama berarti distribusi hasil pertanian dan perikanan dapat berjalan lebih lancar, biaya transportasi lebih terkendali, dan risiko keterlambatan pengiriman berkurang. Bagi petani dan pelaku usaha lokal, kondisi jalan yang baik berpengaruh langsung pada daya saing produk.
Dari sisi kebijakan publik, kajian ini memberi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah untuk menentukan jenis perkerasan yang paling rasional, bukan hanya berdasarkan biaya awal, tetapi juga biaya siklus hidup jalan. Investasi awal yang lebih besar pada perkerasan beton dapat terbayar melalui penghematan biaya pemeliharaan dan peningkatan keandalan jaringan jalan.
Relevansi Lebih Luas
Meski berfokus pada satu ruas jalan di Lamongan, hasil penelitian ini relevan untuk banyak daerah lain dengan karakteristik serupa: jalur penghubung kawasan produksi, lalu lintas berat, dan tuntutan pelayanan jangka panjang. Studi ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa diseragamkan. Setiap ruas memiliki konteks ekonomi, sosial, dan teknis yang perlu dipertimbangkan secara spesifik.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pemilihan perkerasan yang tepat juga berkontribusi pada efisiensi sumber daya dan pengurangan gangguan lingkungan akibat pekerjaan perbaikan yang berulang.
Profil Singkat Penulis
· Johan Sanjoko, S.T., M.T. Peneliti bidang teknik sipil dan infrastruktur jalan, berfokus pada perencanaan dan evaluasi perkerasan jalan untuk mendukung konektivitas dan logistik daerah. Afiliasi: Universitas (sesuai artikel jurnal).
Sumber Penelitian
Sanjoko, J. (2025). Comparative Analysis of Rigid and Flexible Pavement on the Sumberwudi–Maduran Road Section, Lamongan Regency. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), 2025. DOI/URL: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.37
0 Komentar