Epistemologi Iman dan Budaya Lokal Jadi Fondasi Baru Pendidikan Kristen di Indonesia

Illustrasi by AI

Jakarta- Pendidikan Agama Kristen di Indonesia perlu keluar dari pola lama yang terlalu menekankan hafalan doktrin dan logika rasional. Kesimpulan ini disampaikan oleh Afriani Manalu, Jofrito Helong, dan Dirk Roy Kolibu dari Universitas Kristen Indonesia melalui artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Ketiganya menegaskan bahwa pendidikan Kristen akan lebih relevan dan berdampak jika dibangun di atas pemahaman historis tentang bagaimana iman Kristen dipahami, dialami, dan dipraktikkan sepanjang sejarah, lalu dihubungkan dengan konteks sosial-budaya Indonesia masa kini.

Dalam artikelnya, para penulis menyoroti persoalan klasik pendidikan Kristen di Indonesia: dominasi cara berpikir rasionalistik ala Barat yang menempatkan iman sebatas pengetahuan kognitif. Akibatnya, pendidikan agama sering terasa jauh dari pengalaman hidup peserta didik dan kurang memberi daya ubah bagi kehidupan sosial.

“Iman kerap diajarkan sebagai kumpulan konsep teologis, bukan sebagai pengalaman hidup yang membentuk sikap, relasi, dan tindakan,” tulis Manalu dan tim. Padahal, dalam tradisi Kristen sendiri, cara memahami iman selalu berkembang mengikuti konteks sejarah dan budaya umatnya.

Dari Iman yang Dihafal ke Iman yang Dihidupi

Penelitian ini berangkat dari kajian sejarah epistemologi Kristen—cara manusia memahami dan mengenal Tuhan—mulai dari pemikiran klasik hingga kontemporer. Tokoh-tokoh seperti Anselmus dari Canterbury, Augustinus, Alvin Plantinga, hingga N. T. Wright menjadi rujukan utama.

Sejak awal, pemikiran Kristen menempatkan iman dan akal budi bukan sebagai lawan, tetapi sebagai mitra. Prinsip terkenal fides quaerens intellectum (iman yang mencari pengertian) menegaskan bahwa iman menjadi titik awal, sementara akal membantu memperdalam pemahaman. Namun dalam perjalanan modernitas, pendidikan—termasuk pendidikan agama—lebih banyak dipengaruhi rasionalisme, empirisme, dan positivisme. Di sinilah terjadi pergeseran: iman direduksi menjadi sesuatu yang harus “dibuktikan” secara logis atau diajarkan secara normatif.

Menurut Helong dan kolega, pola ini tidak sepenuhnya cocok dengan realitas Indonesia yang plural, komunal, dan sarat nilai budaya. Ketika iman dipisahkan dari pengalaman hidup dan budaya lokal, pendidikan Kristen kehilangan daya transformasinya.

Metode Kajian Berbasis Literatur

Penelitian ini tidak melibatkan survei atau eksperimen lapangan. Para penulis menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, dengan menelaah 18 sumber utama berupa buku dan artikel jurnal internasional maupun nasional. Analisis dilakukan secara historis dan hermeneutis, artinya para penulis menelusuri perkembangan gagasan iman dari masa ke masa, lalu menafsirkannya dalam konteks pendidikan Kristen Indonesia saat ini.

Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah membangun kerangka konseptual, bukan menguji hipotesis statistik. Fokusnya pada pertanyaan mendasar: bagaimana cara memahami iman akan memengaruhi cara mengajar dan mendidik.

Temuan Utama: Pergeseran Epistemologi Iman

Hasil kajian menunjukkan adanya pergeseran penting dalam epistemologi Kristen:

  1. Dari rasionalistik ke relasional Iman tidak hanya dipahami melalui logika, tetapi melalui relasi dengan Tuhan dan sesama.
  2. Dari abstrak ke kontekstual Kebenaran iman tidak dilepaskan dari sejarah, budaya, dan pengalaman hidup umat.
  3. Dari kognitif ke praksis Pendidikan iman tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mendorong tindakan nyata dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan temuan ini, para penulis mengusulkan paradigma baru pendidikan Kristen di Indonesia yang bersifat inkarnasional, partisipatif, naratif, dan transformatif.

Inkarnasional berarti iman diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Partisipatif menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima ajaran. Naratif memanfaatkan cerita hidup, tradisi lokal, dan pengalaman nyata sebagai sumber pembelajaran iman. Sementara transformatif menekankan pembentukan karakter, integritas moral, dan tanggung jawab sosial.

Dampak bagi Pendidikan dan Masyarakat

Implikasi penelitian ini cukup luas. Bagi dunia pendidikan, guru agama Kristen tidak lagi diposisikan hanya sebagai pengajar materi, melainkan sebagai pendamping spiritual yang membantu peserta didik merefleksikan iman dalam konteks hidup mereka. Kurikulum pun perlu dirancang lebih dialogis, mengaitkan nilai-nilai Injil dengan realitas keluarga, sekolah, komunitas, dan budaya lokal.

Dalam konteks masyarakat, paradigma ini mendorong umat Kristen untuk tidak memisahkan iman dari kehidupan sosial dan kebangsaan. Pendidikan agama diharapkan melahirkan pribadi beriman yang toleran, peduli keadilan, dan aktif berkontribusi dalam masyarakat majemuk Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Manalu dan tim menekankan bahwa masalah utama pendidikan Kristen bukan terletak pada isi iman itu sendiri, melainkan pada cara iman dipahami dan diajarkan. Dengan kembali belajar dari sejarah epistemologi Kristen dan mengolahnya secara kontekstual, pendidikan agama dapat menjadi kekuatan pembentuk karakter dan agen transformasi sosial.

Profil Singkat Penulis

Afriani Manalu
 Universitas Kristen Indonesia

Jofrito Helong
 Universitas Kristen Indonesia

Dirk Roy Kolibu
 Universitas Kristen Indonesia

Sumber Penelitian

Manalu, A., Helong, J., & Kolibu, D. R. (2026). Internalizing Historical Epistemological Studies in the Formation of a Contextual Christian Education Paradigm in Indonesia. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 141–156.


Posting Komentar

0 Komentar