Disiplin Kerja Jadi Kunci Kinerja Guru SMA di Berastagi, Karo

 
Ilustrati by AI
 
FORMOSA NEWS - Berastagi - Kinerja guru sekolah menengah atas (SMA) di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, terbukti tidak hanya dipengaruhi kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi, tetapi sangat ditentukan oleh disiplin kerja guru. Temuan ini disampaikan Nia Dewanti Simanjuntak dari Universitas Negeri Medan dalam riset yang dipublikasikan pada 2025 di International Journal of Academic Research (IJAR). Studi ini penting karena menunjukkan bahwa disiplin kerja berperan sebagai penghubung utama yang memperkuat dampak kepemimpinan dan budaya sekolah terhadap kinerja guru.

Penelitian ini mengkaji dinamika kinerja guru SMA dengan menempatkan disiplin kerja sebagai faktor kunci yang selama ini sering diperlakukan sekadar sebagai variabel pendukung. Hasilnya memberi pesan jelas bagi pengelola sekolah dan pembuat kebijakan pendidikan daerah: peningkatan kualitas guru membutuhkan pendekatan manajerial yang menyentuh perilaku kerja sehari-hari, bukan hanya kebijakan di atas kertas.

Masalah Kinerja Guru Masih Terlihat di Sekolah

Dalam praktik sehari-hari, kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kesiapan dan profesionalisme guru. Namun, observasi awal di sejumlah SMA di Berastagi menunjukkan persoalan mendasar. Beberapa guru belum menyiapkan perangkat pembelajaran secara optimal, variasi media belajar masih terbatas, dan evaluasi pembelajaran belum terstruktur dengan baik.

Selain itu, persoalan kedisiplinan juga muncul, seperti keterlambatan hadir di kelas atau meninggalkan pembelajaran sebelum waktunya. Kondisi ini berdampak langsung pada mutu proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa.

Berbagai penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja guru. Namun, pengaruh tersebut sering kali tidak cukup kuat jika tidak ditopang oleh disiplin kerja yang konsisten. Di sinilah penelitian Nia Dewanti Simanjuntak mengambil posisi penting.

Menggabungkan Kepemimpinan, Budaya, dan Disiplin

Penelitian ini dilakukan pada guru-guru SMA di Kecamatan Berastagi dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi sekolah, disiplin kerja, dan kinerja guru.

Analisis data dilakukan menggunakan model hubungan langsung dan tidak langsung antarvariabel. Dengan cara ini, peneliti dapat melihat bukan hanya pengaruh masing-masing faktor, tetapi juga bagaimana disiplin kerja berperan sebagai variabel perantara yang memperkuat hubungan tersebut.

Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang mekanisme peningkatan kinerja guru di tingkat sekolah.

Temuan Utama: Disiplin Kerja Penguat Utama

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting yang saling berkaitan.

Pertama, kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru. Kepala sekolah yang komunikatif, adil, dan mampu memberi teladan mendorong guru bekerja lebih profesional.

Kedua, budaya organisasi sekolah juga berpengaruh positif terhadap kinerja guru. Nilai-nilai bersama, norma kerja yang jelas, dan komitmen kolektif menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi pembelajaran berkualitas.

Ketiga, disiplin kerja memiliki pengaruh paling kuat terhadap kinerja guru. Guru yang memiliki disiplin tinggi—datang tepat waktu, menyiapkan pembelajaran dengan baik, dan menjalankan tugas sesuai aturan—menunjukkan kinerja yang jauh lebih optimal.

Yang paling krusial, penelitian ini menemukan bahwa disiplin kerja berperan sebagai variabel intervening. Artinya, kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi akan berdampak lebih besar pada kinerja guru jika keduanya mampu membentuk dan memperkuat disiplin kerja guru.

Dengan kata lain, kepemimpinan yang baik dan budaya sekolah yang positif belum cukup jika tidak diterjemahkan ke dalam perilaku kerja yang disiplin.

Mengapa Disiplin Kerja Sangat Menentukan

Menurut Nia Dewanti Simanjuntak, disiplin kerja adalah jembatan antara kebijakan dan praktik. Kepala sekolah dapat menetapkan visi, aturan, dan nilai-nilai sekolah, tetapi tanpa kedisiplinan, semua itu tidak akan terwujud dalam tindakan nyata di kelas.

Disiplin juga mencerminkan integritas profesional guru. Guru yang disiplin cenderung lebih konsisten dalam menjalankan peran sebagai pendidik, lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran, dan lebih bertanggung jawab terhadap hasil belajar siswa.

Temuan ini sekaligus menjelaskan mengapa sejumlah kebijakan peningkatan mutu guru sering tidak berdampak signifikan. Masalahnya bukan pada kurangnya aturan, melainkan pada lemahnya implementasi disiplin kerja.

Dampak bagi Sekolah dan Kebijakan Pendidikan

Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis yang kuat. Bagi sekolah, temuan ini menegaskan pentingnya membangun sistem disiplin yang adil, konsisten, dan didukung oleh keteladanan pimpinan sekolah. Disiplin tidak cukup ditegakkan melalui sanksi, tetapi perlu dibangun melalui budaya kerja yang sehat.

Bagi dinas pendidikan daerah, penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang program peningkatan kinerja guru. Penguatan kepemimpinan kepala sekolah sebaiknya diiringi dengan strategi pembinaan disiplin kerja, seperti pengawasan yang konstruktif, evaluasi kinerja yang transparan, dan penghargaan bagi guru berprestasi.

Dalam jangka panjang, kombinasi kepemimpinan efektif, budaya organisasi yang kuat, dan disiplin kerja yang konsisten berpotensi meningkatkan mutu pendidikan menengah secara berkelanjutan.

Profil Penulis

Nia Dewanti Simanjuntak, M.Pd. adalah dosen dan peneliti di Universitas Negeri Medan. Bidang keahliannya meliputi manajemen pendidikan, kepemimpinan sekolah, dan kinerja guru. Penelitiannya berfokus pada penguatan tata kelola sekolah dan peningkatan profesionalisme pendidik di daerah.

Sumber Penelitian

Simanjuntak, Nia Dewanti. (2025). The Effect of Principal Leadership and Organizational Culture on Teacher Performance through Work Discipline. International Journal of Academic Research.

Posting Komentar

0 Komentar