Praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) kini bukan lagi sekadar tren global, melainkan kebutuhan strategis dunia usaha. Hal ini ditegaskan oleh Rezekiro Indah Ruthmia dan Lilik Purwanti dari Universitas Brawijaya melalui kajian ilmiah yang dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Entrepreneurship & Startups (IJES). Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan ESG sangat ditentukan oleh peran akuntansi dalam memastikan transparansi, kredibilitas, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Artikel berjudul “Trends, Challenges, ESG Implementation, and the Role of Accounting in Supporting Business Sustainability” tersebut mengulas ratusan publikasi akademik, laporan regulator, dan dokumen industri global. Hasilnya memberikan gambaran utuh tentang bagaimana ESG berkembang, tantangan yang dihadapi perusahaan, serta mengapa akuntansi menjadi fondasi penting agar ESG tidak berhenti sebagai slogan.
ESG dari Tren ke Kebutuhan Strategis
Dalam satu dekade terakhir, ESG mengalami pergeseran besar. Awalnya dipandang sebagai pelaporan sukarela, kini ESG menjadi indikator utama yang memengaruhi keputusan investor, kebijakan regulator, hingga reputasi perusahaan. Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa keberlanjutan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola yang baik berpengaruh langsung pada ketahanan bisnis.
Ruthmia dan Purwanti mencatat bahwa adopsi ESG meningkat pesat seiring tuntutan transparansi publik dan target pembangunan berkelanjutan global. Perusahaan di sektor berisiko tinggi seperti energi, konstruksi, dan sumber daya alam menjadi kelompok paling aktif mengadopsi ESG karena tekanan regulasi dan pengawasan publik yang ketat.
Namun, di balik peningkatan adopsi tersebut, kualitas penerapan ESG masih sangat bervariasi. Banyak perusahaan telah melaporkan komitmen ESG, tetapi belum mampu menerjemahkannya ke dalam praktik operasional yang konsisten.
Tantangan Nyata: Greenwashing dan Standar yang Terfragmentasi
Studi ini menyoroti sejumlah hambatan utama yang membuat ESG sulit diterapkan secara efektif. Salah satu isu paling serius adalah greenwashing, yaitu praktik ketika perusahaan menonjolkan citra ramah lingkungan tanpa perubahan nyata dalam operasional bisnis.
Masalah ini diperparah oleh belum adanya standar ESG global yang benar-benar seragam. Perusahaan sering menggunakan kerangka pelaporan yang berbeda-beda, sehingga informasi ESG sulit dibandingkan antarperusahaan dan antarnegara. Akibatnya, investor dan publik kesulitan menilai kinerja keberlanjutan secara objektif.
Biaya implementasi juga menjadi kendala besar, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM). ESG menuntut sistem pengumpulan data, sumber daya manusia terlatih, serta proses verifikasi yang tidak murah. Tanpa dukungan kapasitas dan regulasi yang jelas, ESG berisiko hanya menjadi formalitas administratif.
Peran Akuntansi yang Sering Diabaikan
Di sinilah akuntansi memainkan peran kunci. Menurut Ruthmia dan Purwanti, akuntansi bukan sekadar alat pencatatan keuangan, melainkan sistem yang mampu menerjemahkan isu keberlanjutan menjadi informasi yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Akuntansi membantu perusahaan mengukur dampak lingkungan, menilai kontribusi sosial, serta memastikan tata kelola berjalan transparan. Melalui pengukuran, verifikasi, dan pelaporan yang sistematis, akuntansi meningkatkan kredibilitas informasi ESG dan mengurangi risiko greenwashing.
“Akuntansi berfungsi sebagai penjaga kualitas informasi ESG, memastikan data yang disampaikan relevan, konsisten, dan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan,” tulis penulis dalam artikelnya. Tanpa dukungan akuntansi yang kuat, ESG berisiko menjadi narasi simbolis tanpa dampak nyata.
Dampak bagi Dunia Usaha dan Kebijakan Publik
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia usaha, pendidikan, dan kebijakan publik. Bagi perusahaan, ESG yang didukung sistem akuntansi yang baik terbukti meningkatkan manajemen risiko, memperkuat kepercayaan investor, dan membuka akses pendanaan berkelanjutan.
Bagi regulator, hasil studi ini menegaskan pentingnya harmonisasi standar ESG dan penguatan mekanisme assurance. Tanpa regulasi yang jelas dan konsisten, kualitas pelaporan ESG akan terus timpang.
Di sektor pendidikan, penelitian ini menyoroti perlunya penguatan kurikulum akuntansi keberlanjutan. Profesional akuntansi masa depan dituntut tidak hanya memahami laporan keuangan, tetapi juga mampu mengelola dan memverifikasi informasi ESG.
Menuju Keberlanjutan yang Lebih Kredibel
Studi ini menutup dengan pesan tegas: ESG bukan sekadar kewajiban pelaporan, melainkan alat transformasi bisnis. Agar ESG benar-benar mendukung keberlanjutan jangka panjang, perusahaan membutuhkan sistem akuntansi yang andal, standar yang jelas, serta sumber daya manusia yang kompeten.
Tanpa itu semua, ESG berpotensi kehilangan makna dan kepercayaan publik. Sebaliknya, dengan akuntansi sebagai fondasi, ESG dapat menjadi pendorong utama bisnis yang tangguh, transparan, dan bertanggung jawab.
0 Komentar