Postur Membungkuk dan Durasi Kerja Panjang Pemicu Utama Nyeri Punggung Bawah Petani Cisampih


 
Ilustrasi by AI

Sektor pertanian Indonesia masih sangat bergantung pada tenaga fisik manual yang menuntut ketahanan tubuh ekstra. Sebuah penelitian terbaru menyoroti risiko kesehatan kerja yang dihadapi oleh para petani di Desa Cisampih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Studi ini menemukan bahwa mayoritas petani di wilayah tersebut mengalami keluhan nyeri punggung bawah (low back pain) akibat sudut membungkuk yang ekstrem, frekuensi mencangkul yang berulang, serta durasi jam kerja harian yang melebihi batas ideal.

Penelitian ilmiah ini disusun oleh tim peneliti dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), yaitu Wendy Hendrika, Vidi Posdo A. Simarmata, Kezia Martina Sinaga, dan Febtusia Puspitasari, serta telah dipublikasikan dalam International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS) volume 4 nomor 4 tahun 2026. Hasil riset ini menjadi peringatan penting bagi para pemangku kepentingan di sektor pertanian dan kesehatan masyarakat mengenai krusialnya penerapan prinsip ergonomi di kawasan pedesaan.

Latar Belakang dan Beban Kerja Petani Tradisional

Aktivitas bertani seperti menanam, mencangkul, memindahkan beban, dan memanen secara terus-menerus menempatkan beban mekanis yang tinggi pada struktur tulang belakang. Di kawasan pedesaan seperti Desa Cisampih, keterbatasan alat bantu mekanis memaksa petani bekerja dalam posisi tubuh membungkuk selama berjam-jam. Keluhan nyeri punggung bawah tidak hanya berdampak pada produktivitas pertanian harian, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas hidup dan kesejahteraan ekonomi keluarga petani dalam jangka panjang.

Metodologi Penelitian Ringkas

Penelitian ini menggunakan desain observasional analitis dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Pengumpulan data lapangan dilaksanakan di Desa Cisampih, Sumedang, terhadap populasi petani setempat. Dari total sampel yang diambil, sebanyak 52 petani dianalisis secara mendalam setelah mengeliminasi responden yang memiliki riwayat komorbiditas fisik seperti osteoporosis, kifosis, lordosis, penyakit rematik, maupun disabilitas.

Para peneliti mengumpulkan data primer menggunakan kuesioner terstruktur serta observasi langsung terhadap postur tubuh dan gerakan kerja petani. Parameter yang diukur meliputi sudut membungkuk tubuh (kategori 30–60 derajat dan di atas 60 derajat), frekuensi gerakan mencangkul dalam pengamatan 10 menit, serta durasi jam kerja harian yang terbagi dalam empat tingkatan (1–3 jam, >3–6 jam, >6–9 jam, dan >9 jam). Data tersebut kemudian diolah menggunakan uji statistik chi-square untuk melihat hubungan antarvariabel.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis menunjukkan prevalensi nyeri punggung bawah yang sangat tinggi di kalangan petani Desa Cisampih. Beberapa temuan penting dari penelitian ini meliputi:

  • Prevalensi Tinggi: Sebanyak 44 dari 52 petani (84,6%) melaporkan pernah atau sedang mengalami nyeri punggung bawah. Bahkan saat bekerja di sawah atau ladang, angka keluhan meningkat hingga 94,2%.
  • Pengaruh Sudut Membungkuk: Terdapat hubungan signifikan antara sudut membungkuk saat bekerja dengan kejadian nyeri punggung bawah ($p = 0,002$). Petani yang membungkuk dengan sudut lebih dari 60 derajat mencatatkan kasus nyeri punggung jauh lebih banyak (37 orang) dibandingkan mereka yang membungkuk pada sudut 30–60 derajat (7 orang).
  • Dampak Durasi Kerja Harian: Durasi kerja harian terbukti berhubungan erat dengan keluhan nyeri punggung ($p = 0,038$). Seluruh petani (100% atau 14 orang) yang bekerja lebih dari 9 jam sehari melaporkan mengalami nyeri punggung bawah.
  • Frekuensi Mencangkul: Gerakan mencangkul secara berulang menunjukkan hubungan statistik yang signifikan ($p < 0,001$) dengan timbulnya nyeri. Pengulangan gerakan tanpa jeda istirahat memicu kelelahan otot punggung.
  • Keluhan Saat Membungkuk: Sebanyak 90,4% responden mengeluhkan rasa sakit spesifik saat posisi tubuh membungkuk, dan 69,2% menyatakan rasa sakit berkurang atau membaik setelah beristirahat.

Implikasi Dampak dan Solusi Ergonomi

Temuan riset ini menggarisbawahi perlunya intervensi kesehatan kerja di sektor pertanian nonformal. Nyeri otot rangka pada petani sering kali diabaikan dan dianggap sebagai konsekuensi biasa dari pekerjaan fisik, padahal kondisi ini dapat memicu penurunan fungsi tubuh permanen jika tidak ditangani.

Guna menekan angka kejadian nyeri punggung bawah pada petani, tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah praktis:

  1. Edukasi Ergonomi: Memberikan pelatihan postural kepada petani mengenai teknik mengangkat beban dan cara membungkuk yang lebih aman bagi tulang belakang.
  2. Modifikasi Alat Kerja: Penyesuaian dimensi dan panjang gagang cangkul agar sesuai dengan postur dan tinggi badan petani, sehingga mengurangi derajat pembungkukan tubuh yang terlalu ekstrem.
  3. Pengaturan Pola Kerja dan Istirahat: Mendorong pervariasian jenis tugas harian (task variation) serta penyediaan jeda istirahat secara berkala untuk memberikan kesempatan pemulihan otot.

Profil Penulis

  • Wendy Hendrika, M.D., M.Sc.: Dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) dengan keahlian di bidang kedokteran kerja, kesehatan masyarakat, dan ergonomi lingkungan kerja.
  • Vidi Posdo A. Simarmata, M.D., M.K.M.: Dosen dan akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang menaruh perhatian pada manajemen kesehatan masyarakat dan keselamatan kerja.
  • Kezia Martina Sinaga: Peneliti dan akademisi bidang kedokteran dari Universitas Kristen Indonesia (UKI).
  • Febtusia Puspitasari, M.D.: Akademisi dan peneliti medis di Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang aktif mempublikasikan kajian ilmu kedokteran dan kesehatan kerja.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar