Sidoarjo — Peralatan kerja yang dirancang sesuai dengan ukuran tubuh dan kemampuan fisik pekerja dapat membantu mengurangi kelelahan, menjaga kenyamanan, serta mendukung produktivitas di tempat kerja. Gempur Santoso dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo, membahas pentingnya penerapan prinsip ergonomi dalam artikel yang diterbitkan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research. Ulasan tersebut menekankan bahwa kelelahan kerja bukan hanya berkaitan dengan kondisi individu, tetapi juga dipengaruhi oleh desain peralatan, postur tubuh, beban kerja, waktu istirahat, dan lingkungan kerja.
Kelelahan merupakan persoalan penting dalam dunia kerja karena dapat mengurangi konsentrasi, mengganggu kenyamanan fisik, dan meningkatkan risiko kesalahan saat menjalankan tugas. Pekerja yang harus membungkuk dalam waktu lama, menjangkau peralatan terlalu jauh, mengangkat beban berat, atau melakukan gerakan berulang berisiko mengalami tekanan fisik yang lebih besar. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa perbaikan dan pemulihan yang memadai, kemampuan pekerja untuk mempertahankan kinerja dapat menurun.
Dalam artikel berjudul Ergonomic Work Tools to Reduce Labor Fatigue, Santoso menjelaskan bahwa fasilitas dan lingkungan kerja yang tidak ergonomis menjadi salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan risiko kelelahan. Ergonomi merupakan pendekatan yang menyesuaikan pekerjaan, peralatan, dan lingkungan dengan karakteristik manusia. Prinsipnya bukan memaksa pekerja menyesuaikan diri dengan peralatan yang tidak sesuai, melainkan merancang sistem kerja yang mempertimbangkan kemampuan dan keterbatasan tubuh manusia.
Artikel tersebut disusun melalui kajian pustaka dengan menelaah buku, artikel jurnal ilmiah, hasil penelitian terdahulu, serta publikasi akademik yang membahas ergonomi dan kelelahan kerja. Informasi dari berbagai sumber dibandingkan dan dijelaskan secara deskriptif untuk mengidentifikasi hubungan antara kondisi peralatan, posisi tubuh, beban fisik, dan risiko kelelahan. Karena menggunakan kajian pustaka, artikel ini merangkum temuan dan konsep dari sumber terdahulu, bukan melaporkan eksperimen langsung atau pengukuran kelelahan pada pekerja tertentu.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kesesuaian peralatan dengan kebutuhan pekerja merupakan salah satu langkah yang dapat membantu mengurangi beban otot dan gerakan yang tidak diperlukan. Peralatan yang tidak sesuai dapat membuat pekerja mempertahankan posisi tubuh yang tidak nyaman, membungkuk terlalu lama, atau melakukan gerakan berulang secara berlebihan. Sebaliknya, peralatan yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran tubuh dan jenis pekerjaan berpotensi membantu pekerja mempertahankan postur yang lebih alami serta menyelesaikan tugas dengan lebih nyaman.
Penerapan ergonomi dapat dilakukan melalui penyesuaian sederhana sesuai karakteristik pekerjaan. Pada pekerjaan yang dilakukan sambil duduk, tinggi kursi dan meja perlu mendukung posisi tubuh yang nyaman. Untuk pekerjaan yang melibatkan pemindahan barang berat, alat bantu mekanis dapat mengurangi beban yang harus ditanggung tubuh. Sementara itu, pekerjaan dengan gerakan berulang memerlukan penataan peralatan dan bahan agar pekerja tidak terus-menerus menjangkau terlalu jauh atau melakukan gerakan tambahan yang tidak diperlukan.
Santoso juga menekankan bahwa kelelahan tidak dapat diatasi hanya dengan mengganti atau memperbaiki peralatan. Durasi kerja, intensitas aktivitas, kondisi kesehatan, kualitas istirahat, dan lingkungan kerja turut memengaruhi kondisi pekerja. Suhu yang tidak nyaman, pencahayaan yang kurang memadai, serta tata letak fasilitas yang buruk dapat memperbesar ketidaknyamanan selama bekerja. Oleh karena itu, perbaikan ergonomi perlu mencakup pengaturan waktu istirahat, pengelolaan beban kerja, perbaikan tata letak, serta pelatihan mengenai postur dan cara kerja yang aman.
Kajian tersebut juga membahas penggunaan denyut nadi dan konsumsi oksigen sebagai indikator untuk membantu memahami respons tubuh terhadap beban fisik. Denyut nadi dapat berubah selama aktivitas, tetapi juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan, kondisi kesehatan, kebugaran, dan keadaan emosional. Sementara itu, VO₂ max menggambarkan kapasitas maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen selama aktivitas intensif. Indikator tersebut perlu dipahami sesuai fungsinya dan tidak digunakan sendirian untuk menentukan apakah pekerja mengalami kelelahan.
Artikel ini turut mengingatkan bahwa angka kebutuhan energi sebesar 5–5,2 kilokalori per menit yang disebut dalam pembahasan tidak dapat diberlakukan sebagai batas universal bagi seluruh pekerja dan jenis pekerjaan. Kebutuhan fisik setiap pekerjaan berbeda, begitu pula kapasitas tubuh setiap individu. Penilaian beban kerja perlu mempertimbangkan postur, tuntutan otot, keluhan pekerja, durasi aktivitas, serta waktu yang tersedia untuk pemulihan.
Bagi perusahaan dan pengelola keselamatan dan kesehatan kerja, temuan ini menegaskan pentingnya menjadikan ergonomi sebagai bagian dari pengelolaan tempat kerja. Perusahaan dapat memulai dengan mengidentifikasi aktivitas yang paling banyak menimbulkan keluhan, melibatkan pekerja dalam pemilihan peralatan, serta menilai apakah perubahan yang dilakukan benar-benar membantu. Evaluasi dapat mencakup pengamatan postur sebelum dan sesudah perbaikan, pencatatan keluhan fisik, penilaian tingkat kelelahan, dan pemantauan indikator produktivitas yang relevan.
Pekerja juga memiliki peran dalam mendukung penerapan ergonomi dengan menggunakan peralatan sesuai prosedur, menghindari posisi membungkuk atau memutar tubuh secara berlebihan, memanfaatkan waktu istirahat, serta melaporkan keluhan fisik yang muncul selama bekerja. Namun, tanggung jawab menciptakan kondisi kerja yang aman tidak hanya berada pada pekerja. Pengelola tempat kerja perlu memastikan fasilitas, peralatan, jadwal, dan beban kerja dirancang dengan mempertimbangkan keselamatan serta kemampuan manusia.
Santoso menegaskan bahwa manfaat peralatan ergonomis perlu dinilai berdasarkan kondisi nyata di tempat kerja. Penggunaan alat yang sesuai berpotensi meningkatkan kenyamanan, membantu mengendalikan risiko kelelahan, dan mendukung produktivitas, tetapi hasilnya tetap dipengaruhi oleh faktor lain. Karena artikel ini berbasis kajian pustaka, penelitian lapangan lebih lanjut diperlukan untuk mengukur perubahan tingkat kelelahan sebelum dan sesudah perbaikan ergonomi. Pengukuran langsung tersebut dapat membantu perusahaan menentukan intervensi yang paling sesuai bagi pekerjaan dan kebutuhan pekerjanya.
Profil Penulis
Sumber Penelitian

0 Komentar