![]() |
| Illustrasi by AI |
Pemasaran tradisional masih terbukti memiliki nilai penting bagi usaha kecil, bahkan di tengah perkembangan pesat platform digital. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 oleh Ricardo Gading Marihot, Asmulyati Azhar, dan Indria Sukma Sektiyaningsih dari Institut Bisnis dan Multimedia ASMI menemukan bahwa keberhasilan Tahu Bulat Bang Jo, sebuah UMKM kuliner di Jakarta Utara, didukung oleh kualitas produk, harga terjangkau, lokasi dan rute penjualan yang strategis, pelayanan, pengalaman pemilik, serta promosi dari mulut ke mulut. Hasil ini menunjukkan bahwa interaksi langsung dengan pelanggan masih memiliki kekuatan besar dalam pemasaran UMKM.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM memiliki peran penting dalam
kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia. Selain menyediakan produk dan jasa, UMKM
juga membantu menciptakan lapangan kerja, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan
menggerakkan perekonomian lokal. Di tengah perkembangan media sosial,
e-commerce, dan aplikasi pesan, banyak pelaku usaha mulai beralih ke pemasaran
digital. Namun, perkembangan tersebut tidak selalu membuat pemasaran tradisional
kehilangan relevansinya.
Salah satu contohnya adalah Tahu
Bulat Bang Jo, usaha kuliner yang didirikan pada 2025 di Jakarta Utara.
Usaha ini awalnya hanya menggunakan satu gerobak, kemudian berkembang menjadi
delapan gerobak dengan enam orang karyawan. Berbeda dengan banyak UMKM yang
menjadikan media digital sebagai saluran pemasaran utama, Tahu Bulat Bang Jo
tetap mengandalkan penjualan langsung, interaksi dengan konsumen, serta
pengalaman menikmati produk secara langsung.
Para peneliti menggunakan
pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami faktor-faktor
yang membuat pemasaran tradisional tersebut tetap berjalan. Penelitian
dilakukan di wilayah Jakarta Utara, terutama Koja, Kelapa Gading, dan Tanjung
Priok. Informan terdiri dari pemilik usaha, dua pedagang keliling, dan dua
pelanggan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan
dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kualitas produk menjadi faktor paling dominan dalam keberhasilan usaha.
Tahu Bulat Bang Jo digoreng langsung sebelum diberikan kepada pembeli sehingga
konsumen menerima produk dalam kondisi hangat dan renyah. Pemilik usaha juga
berupaya menjaga kualitas bahan baku agar rasa tetap konsisten. Bagi konsumen,
rasa dan kesegaran produk menjadi alasan penting untuk kembali membeli.
Menurut para peneliti, kualitas
produk tidak hanya berfungsi sebagai hasil produksi, tetapi juga menjadi bentuk
komunikasi bisnis. Produk yang segar, hangat, dan memiliki rasa konsisten
menyampaikan pesan kepada konsumen tentang kualitas dan keseriusan usaha.
Dengan pengalaman yang positif, pelanggan dapat membentuk kepercayaan tanpa
membutuhkan promosi yang panjang.
Selain kualitas, harga yang
terjangkau menjadi faktor pendukung penting. Hasil wawancara menunjukkan
bahwa pelanggan menilai harga produk sesuai dengan kemampuan mereka dan
sebanding dengan rasa yang diperoleh. Karakter produk sebagai makanan ringan
juga membuat konsumen dapat melakukan pembelian secara spontan tanpa
membutuhkan pertimbangan panjang. Namun, penelitian menegaskan bahwa harga
murah saja tidak cukup. Harga tetap perlu didukung oleh kualitas produk yang
baik.
Lokasi dan rute penjualan juga
menjadi kekuatan utama. Karena menggunakan gerobak keliling, pedagang tidak
bergantung pada satu lokasi tetap. Mereka dapat menyesuaikan rute dengan
kepadatan masyarakat dan aktivitas konsumen. Gerobak bergerak melalui kawasan
permukiman dan pusat aktivitas masyarakat sehingga produk lebih mudah ditemukan
calon pembeli.
Gerobak bahkan berfungsi lebih
dari sekadar alat penjualan. Menurut penelitian, pergerakan gerobak, aktivitas
menggoreng tahu, serta identitas penjualan dapat menjadi media komunikasi yang
memberi tahu masyarakat bahwa produk tersedia. Dengan cara ini, lokasi menjadi
bagian penting dari proses pemasaran sekaligus sarana untuk mendekatkan produk
kepada konsumen.
Faktor lain yang tidak kalah
penting adalah komunikasi interpersonal antara pedagang dan pelanggan.
Pedagang berusaha memberikan pelayanan yang cepat dan ramah. Interaksi langsung
memungkinkan mereka mengetahui reaksi pelanggan terhadap produk, harga, maupun
pelayanan tanpa harus melakukan survei formal. Keluhan, pertanyaan, atau
komentar konsumen dapat menjadi sumber informasi bagi usaha untuk memahami
kebutuhan pasar.
Penelitian juga menemukan bahwa promosi
dari mulut ke mulut atau word of mouth menjadi salah satu media pemasaran
yang penting. Sejumlah pelanggan mengetahui Tahu Bulat Bang Jo melalui
rekomendasi teman, keluarga, maupun masyarakat sekitar. Rekomendasi tersebut
dianggap lebih personal karena berasal dari pengalaman nyata orang yang
dikenal. Namun, promosi dari mulut ke mulut hanya dapat berkembang jika
pelanggan terlebih dahulu mendapatkan pengalaman yang memuaskan.
Pengalaman pemilik juga memiliki
peran besar dalam keberlangsungan usaha. Pemilik terlibat langsung dalam
pengadaan bahan baku, pengelolaan gerobak, keuangan, dan pengambilan keputusan.
Pengetahuan mengenai pola permintaan, lokasi potensial, kebutuhan bahan baku,
dan karakter pelanggan membuat keputusan dapat dilakukan dengan cepat. Meski
demikian, ketergantungan yang terlalu besar pada pemilik dapat menjadi
kelemahan jika usaha terus berkembang.
Di balik perkembangannya, Tahu
Bulat Bang Jo juga menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan harga bahan baku
seperti tahu, minyak goreng, dan gas dapat meningkatkan biaya produksi.
Persaingan dengan penjual makanan sejenis juga semakin tinggi. Selain itu, jangkauan
promosi masih terbatas, selera konsumen dapat berubah, dan kondisi cuaca dapat
memengaruhi penjualan karena aktivitas usaha bergantung pada gerobak keliling.
Analisis SWOT dalam penelitian
menunjukkan bahwa kekuatan utama usaha terletak pada produk yang digoreng
langsung, harga terjangkau, delapan gerobak, dan identitas penjualan yang mudah
dikenali. Peluang datang dari kepadatan permukiman, kebutuhan makanan ringan,
pelanggan lokal, dan kemungkinan menerima pesanan untuk kegiatan masyarakat.
Sementara itu, kelemahannya meliputi pencatatan keuangan yang masih sederhana
dan jangkauan promosi terbatas. Ancaman utama adalah kenaikan harga bahan baku,
cuaca buruk, persaingan, serta perubahan selera konsumen.
Temuan penelitian ini menunjukkan
bahwa pemasaran tradisional tidak seharusnya langsung dianggap ketinggalan
zaman. Untuk produk seperti Tahu Bulat Bang Jo, pengalaman langsung justru
memiliki nilai besar. Konsumen dapat melihat proses penggorengan, mencium aroma
makanan, menerima produk dalam kondisi hangat, dan berinteraksi dengan
pedagang. Pengalaman semacam ini sulit sepenuhnya digantikan oleh komunikasi
digital.
Karena itu, media digital tidak
harus menggantikan pemasaran tradisional. Para peneliti menyarankan agar Tahu
Bulat Bang Jo tetap mempertahankan penjualan langsung sebagai kekuatan utama,
sambil menggunakan media digital secara bertahap sebagai pendukung untuk
memperluas informasi mengenai produk.
Prioritas pengembangan usaha
mencakup menjaga kualitas produk, meningkatkan pencatatan keuangan,
mengevaluasi rute penjualan, serta membuat standar pelayanan agar pengalaman
pelanggan tetap konsisten di setiap gerobak. Komunikasi dari mulut ke mulut
juga perlu terus dijaga melalui kepuasan pelanggan.
Bagi UMKM kuliner lainnya, hasil
penelitian ini memberikan pesan bahwa keberhasilan pemasaran tidak hanya
ditentukan oleh penggunaan teknologi digital. Produk yang berkualitas, harga
yang sesuai, lokasi yang mudah dijangkau, pelayanan yang baik, dan hubungan
langsung dengan pelanggan masih dapat menjadi fondasi penting bagi
keberlanjutan usaha. Pemasaran tradisional dan digital tidak harus saling
menggantikan, tetapi dapat digunakan secara proporsional sesuai kebutuhan
bisnis.
Profil Penulis
Ricardo Gading Marihot
merupakan penulis korespondensi dalam penelitian ini dan berafiliasi dengan Institut
Bisnis dan Multimedia ASMI. Artikel jurnal tidak mencantumkan gelar
akademik maupun bidang keahlian spesifik penulis.
Asmulyati Azhar
berafiliasi dengan Institut Bisnis dan Multimedia ASMI. Gelar akademik
dan bidang keahlian spesifik tidak dicantumkan dalam artikel.
Indria Sukma Sektiyaningsih
berafiliasi dengan Institut Bisnis dan Multimedia ASMI. Gelar akademik
dan bidang keahlian spesifik juga tidak dicantumkan dalam artikel.
Sumber Penelitian
Ricardo Gading Marihot, Asmulyati
Azhar, dan Indria Sukma Sektiyaningsih. (2026). “The Success of Traditional
Marketing of Tofu Bulat Bang Jo MSMEs in North Jakarta.” International
Journal of Integrative Research (IJIR), Vol. 4, No. 9, halaman 807–824.

0 Komentar