Laporan Keberlanjutan Belum Otomatis Meningkatkan Nilai Perusahaan, Kinerja Keuangan Jadi Penentu

Ilustrasi By AI
FORMOSA NEWS - Banda Aceh - Perusahaan sektor keuangan di Indonesia yang lebih terbuka dalam mengungkapkan informasi keberlanjutan cenderung memiliki kinerja keuangan lebih baik, tetapi belum tentu memperoleh penilaian pasar yang lebih tinggi. Temuan tersebut diungkapkan Sofhia Intan Fadillah, Jalaluddin, dan Raida Fuadi dari Universitas Syiah Kuala dalam artikel ilmiah yang menganalisis hubungan antara pelaporan keberlanjutan, kinerja keuangan, dan nilai perusahaan pada perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020–2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan menjadi faktor penting yang menghubungkan keterbukaan informasi keberlanjutan dengan peningkatan nilai perusahaan.

Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa penerbitan laporan keberlanjutan tidak cukup hanya dipandang sebagai kewajiban pelaporan atau bentuk kepatuhan terhadap regulasi. Perusahaan perlu memastikan bahwa komitmen terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan berjalan seiring dengan perbaikan operasional serta kemampuan menghasilkan keuntungan.

Laporan Keberlanjutan Semakin Penting bagi Dunia Usaha

Perhatian terhadap keberlanjutan semakin berkembang dalam dunia bisnis. Perusahaan tidak lagi hanya dinilai berdasarkan kemampuan menghasilkan laba, tetapi juga berdasarkan cara mereka mengelola dampak lingkungan, memenuhi tanggung jawab sosial, dan menerapkan tata kelola yang baik.

Salah satu bentuk transparansi perusahaan adalah laporan keberlanjutan atau sustainability report. Laporan ini menyajikan informasi mengenai kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan kepada investor, konsumen, pemerintah, karyawan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Di Indonesia, pelaporan keberlanjutan mendapat landasan regulasi melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.

Bagi perusahaan sektor keuangan, keterbukaan tersebut memiliki arti strategis. Bank, perusahaan pembiayaan, dan pelaku industri keuangan lainnya berperan dalam menggerakkan perekonomian. Kepercayaan masyarakat dan investor terhadap perusahaan-perusahaan tersebut menjadi bagian penting dari keberlangsungan bisnis mereka.

Namun, hubungan antara laporan keberlanjutan dan nilai perusahaan tidak selalu menunjukkan hasil yang sama. Sebagian penelitian terdahulu menemukan bahwa pengungkapan keberlanjutan meningkatkan nilai perusahaan, sedangkan penelitian lainnya menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan.

Perbedaan temuan tersebut mendorong Fadillah, Jalaluddin, dan Fuadi untuk mengkaji apakah kinerja keuangan dapat menjelaskan hubungan antara keterbukaan informasi keberlanjutan dan penilaian pasar terhadap perusahaan sektor keuangan di Indonesia.

Menggunakan Data 38 Perusahaan Selama Lima Tahun

Tim peneliti Universitas Syiah Kuala menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Periode pengamatan mencakup tahun 2020 hingga 2024. Dari populasi perusahaan sektor keuangan yang menjadi objek kajian, peneliti memilih 38 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian. Perusahaan tersebut secara konsisten menerbitkan laporan yang dibutuhkan, memiliki data keuangan lengkap, dan menyajikan laporan keuangan dalam rupiah.

Dengan mengamati 38 perusahaan selama lima tahun, penelitian ini menghasilkan 190 observasi perusahaan-tahun.

Tiga aspek utama dianalisis. Pertama, pelaporan keberlanjutan diukur melalui Sustainability Report Disclosure Index (SRDI), yaitu indeks yang menggambarkan proporsi indikator keberlanjutan yang diungkapkan perusahaan berdasarkan pedoman Global Reporting Initiative (GRI).

Kedua, kinerja keuangan dinilai menggunakan rasio Return on Assets (ROA), yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dimilikinya. Ketiga, nilai perusahaan diukur menggunakan Price-to-Book Value (PBV), yaitu perbandingan harga pasar saham dengan nilai buku per saham.

Data tersebut dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Metode ini memungkinkan peneliti menguji hubungan langsung antarfaktor sekaligus menilai apakah kinerja keuangan menjadi perantara hubungan antara pelaporan keberlanjutan dan nilai perusahaan.

Pengungkapan Keberlanjutan Rata-Rata Mencapai 56 Persen

Salah satu temuan deskriptif penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai indeks pengungkapan laporan keberlanjutan perusahaan dalam sampel mencapai 0,56 atau sekitar 56 persen dari indikator yang berlaku.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pengungkapan informasi keberlanjutan perusahaan yang diteliti masih belum mencakup seluruh indikator yang relevan. Meskipun demikian, tingkat pengungkapan antarperusahaan relatif seragam selama periode pengamatan.

Dari sisi nilai perusahaan, rata-rata PBV tercatat sebesar 1,31. Secara umum, angka ini menunjukkan bahwa pasar menilai perusahaan dalam sampel sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya, meskipun terdapat perbedaan penilaian yang cukup besar antarperusahaan.

Peneliti juga menemukan bahwa kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset dan tingkat pengungkapan keberlanjutan bervariasi. Perbedaan tersebut menjadi konteks penting untuk memahami mengapa keterbukaan informasi tidak selalu diikuti peningkatan nilai pasar.

Empat Temuan Utama tentang Keberlanjutan dan Nilai Perusahaan

Hasil pengujian statistik menghasilkan empat temuan utama.

Pertama, pelaporan keberlanjutan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan secara langsung. Koefisien pengaruh yang diperoleh sebesar -0,235 dengan nilai p kurang dari 0,001. Artinya, dalam model dan periode pengamatan ini, tingkat pengungkapan keberlanjutan yang lebih tinggi berkaitan dengan nilai perusahaan yang lebih rendah setelah hubungan dalam model diperhitungkan.

Temuan tersebut tidak berarti bahwa laporan keberlanjutan selalu merugikan perusahaan. Hasil ini menunjukkan hubungan statistik pada sampel yang diteliti, bukan bukti bahwa peningkatan pengungkapan keberlanjutan secara langsung menyebabkan turunnya nilai perusahaan.

Peneliti mengemukakan kemungkinan bahwa investor masih lebih menitikberatkan perhatian pada kinerja keuangan dibandingkan informasi nonkeuangan. Selain itu, pelaporan keberlanjutan mungkin masih dipandang sebagai pemenuhan kewajiban, bukan sebagai strategi yang telah menghasilkan manfaat ekonomi terukur.

Kedua, pelaporan keberlanjutan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Koefisien pengaruh sebesar 0,321 dengan nilai p kurang dari 0,001 menunjukkan hubungan positif dan signifikan. Perusahaan dengan pengungkapan keberlanjutan lebih tinggi cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih baik dalam model penelitian tersebut.

Keterbukaan informasi dapat membantu perusahaan membangun kepercayaan pemangku kepentingan, memperkuat reputasi, dan mendorong pengelolaan operasional yang lebih baik. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada bagaimana praktik keberlanjutan dijalankan dalam kegiatan bisnis.

Ketiga, kinerja keuangan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Koefisien sebesar 0,355 dengan nilai p kurang dari 0,001 menunjukkan bahwa perusahaan dengan kinerja keuangan yang lebih baik cenderung memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi.

Temuan ini menegaskan pentingnya kemampuan perusahaan mengelola aset dan menghasilkan keuntungan. Bagi investor, kinerja keuangan dapat menjadi salah satu informasi penting dalam menilai prospek bisnis dan menentukan keputusan investasi.

Keempat, kinerja keuangan menjadi perantara yang signifikan. Pengujian menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung pelaporan keberlanjutan terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan memiliki koefisien 0,114, nilai statistik t sebesar 2,797, dan nilai p sebesar 0,005.

Dengan demikian, meskipun hubungan langsung pelaporan keberlanjutan dengan nilai perusahaan ditemukan negatif, jalur tidak langsung melalui kinerja keuangan justru positif dan signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa manfaat ekonomi dari praktik keberlanjutan lebih mungkin tercermin dalam nilai perusahaan ketika praktik tersebut diikuti peningkatan kinerja keuangan.

Peneliti juga mencatat bahwa kemampuan model menjelaskan variasi kinerja keuangan dan nilai perusahaan masih terbatas. Nilai R² masing-masing sebesar 0,103 dan 0,128. Artinya, terdapat banyak faktor lain di luar model yang turut berkaitan dengan kedua aspek tersebut.

Implikasi bagi Perusahaan, Investor, dan Regulator

Bagi manajemen perusahaan, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya mengintegrasikan pelaporan keberlanjutan ke dalam strategi bisnis. Penyusunan laporan sebaiknya tidak berhenti pada pengungkapan informasi, tetapi juga disertai program yang dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat tata kelola, dan menghasilkan kinerja operasional serta keuangan yang terukur.

Perusahaan juga perlu menyampaikan informasi keberlanjutan secara jelas dan konsisten agar investor dapat memahami hubungan antara komitmen lingkungan dan sosial dengan strategi bisnis serta hasil keuangan perusahaan.

Bagi investor, laporan keberlanjutan dapat menjadi sumber informasi tambahan dalam menilai perusahaan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Informasi tersebut perlu dibaca bersama laporan keuangan, tingkat profitabilitas, tata kelola, risiko bisnis, dan prospek pertumbuhan perusahaan.

Sementara itu, regulator dapat menggunakan temuan ini sebagai salah satu masukan untuk mendorong pelaporan keberlanjutan yang lebih informatif, relevan, dan berorientasi pada hasil. Pengungkapan yang berkualitas akan lebih bermanfaat apabila membantu pemangku kepentingan memahami bagaimana praktik keberlanjutan berhubungan dengan kinerja dan keberlangsungan usaha.

Meski demikian, hasil penelitian ini perlu dipahami sesuai batasannya. Kajian hanya mencakup perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2020–2024 dan menggunakan indikator tertentu untuk mengukur pelaporan keberlanjutan, kinerja keuangan, serta nilai perusahaan. Penelitian lanjutan dapat mencakup sektor lain dan mempertimbangkan faktor tambahan seperti tata kelola perusahaan, kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, serta struktur modal.

Profil Singkat Penulis

Sofhia Intan Fadillah merupakan penulis artikel bersama yang berafiliasi dengan Universitas Syiah Kuala. Gelar akademik dan bidang keahlian khususnya tidak dicantumkan dalam informasi artikel yang tersedia.

Jalaluddin merupakan penulis korespondensi dan berafiliasi dengan Universitas Syiah Kuala. Ia dapat dihubungi melalui alamat surel jalaluddin.fe@usk.ac.id. Gelar akademik dan bidang keahlian khususnya tidak dirinci dalam informasi artikel yang tersedia.

Raida Fuadi merupakan penulis artikel bersama yang berafiliasi dengan Universitas Syiah Kuala. Gelar akademik dan bidang keahlian khususnya tidak dicantumkan dalam informasi artikel yang tersedia.

Ketiga penulis mengkaji hubungan pelaporan keberlanjutan, kinerja keuangan, dan nilai perusahaan dalam konteks industri keuangan Indonesia melalui analisis data perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Effect of Sustainability Reporting on Firm Value with Financial Performance as An Intervening Variable in Indonesian Financial Sector Companies, 2020–2024

Penulis: Sofhia Intan Fadillah, Jalaluddin, dan Raida Fuadi

Afiliasi: Universitas Syiah Kuala

Tahun publikasi: 2026

Nama jurnal: Tidak tercantum dalam teks artikel yang tersedia.

DOI:https://doi.org/10.55927/fjbes.v2i5.683
URL:
https://mtiformosapublisher.org/index.php/fjbes

Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa laporan keberlanjutan belum tentu langsung meningkatkan nilai pasar perusahaan. Namun, keterbukaan tersebut berkaitan dengan kinerja keuangan yang lebih baik, dan kinerja keuangan berperan sebagai jalur tidak langsung yang positif dalam hubungan dengan nilai perusahaan. Bagi perusahaan sektor keuangan, tantangan utamanya bukan hanya mengungkapkan komitmen keberlanjutan, melainkan mengintegrasikannya ke dalam praktik bisnis yang menghasilkan manfaat ekonomi terukur.

Posting Komentar

0 Komentar