Program Beasiswa Tidak Hanya Berupa Bantuan Dana
Program Masa Depan Jakarta merupakan program bantuan pendidikan dan pengembangan mahasiswa yang diselenggarakan BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta. Pada 2026, program tersebut melayani 3.016 mahasiswa dari 35 perguruan tinggi mitra. Setiap penerima memperoleh bantuan tahunan sebesar Rp6 juta, dengan total alokasi mencapai Rp18,096 miliar. Sejak diluncurkan pada 2019, program ini telah menjangkau 24.304 penerima secara kumulatif.
MDJ tidak hanya memberikan bantuan finansial. Program ini juga mencakup pendampingan akademik, pelatihan keterampilan hidup, pengembangan kepemimpinan, serta berbagai kegiatan pengembangan diri. Karena itu, pengalaman mahasiswa sebagai penerima program tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya bantuan, tetapi juga oleh bagaimana program dikelola dan bagaimana mahasiswa mendapatkan pendampingan.
Latar belakang penelitian juga muncul dari survei awal terhadap 30 mahasiswa penerima MDJ. Sebanyak 63,3 persen responden dalam survei tersebut menyatakan tidak puas. Keluhan yang muncul antara lain komunikasi yang belum optimal, intensitas pendampingan yang terbatas, respons terhadap kebutuhan mahasiswa yang dinilai lambat, serta keterlibatan yang belum merata dalam kegiatan pendampingan.
Kondisi tersebut mendorong peneliti mengkaji lima aspek utama, yaitu kompetensi pengelola program, kualitas pendampingan mahasiswa, persepsi terhadap dukungan organisasi, keterlibatan mahasiswa, dan kepuasan mahasiswa.
Penelitian Melibatkan 237 Penerima MDJ
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan survei potong lintang. Pengumpulan data berlangsung secara daring pada Februari hingga Juni 2026 dan melibatkan penerima MDJ yang tersebar di 35 perguruan tinggi mitra.
Dari 242 respons yang diterima, sebanyak 237 responden memenuhi kriteria dan digunakan dalam analisis. Responden merupakan penerima aktif MDJ yang telah mengikuti setidaknya satu kegiatan pembinaan atau pendampingan.
Data dikumpulkan melalui kuesioner 47 pertanyaan dengan skala lima tingkat. Pertanyaan tersebut mengukur kompetensi pengelola program, kualitas pendampingan, dukungan organisasi, keterlibatan mahasiswa, dan kepuasan mahasiswa. Data kemudian dianalisis menggunakan metode PLS-SEM dengan bantuan SmartPLS 4 untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Hasil Statistik Menunjukkan Hubungan, tetapi Instrumen Bermasalah
Analisis awal justru menemukan persoalan penting pada alat ukur yang digunakan. Tidak satu pun dari 47 indikator penelitian memiliki nilai outer loading di atas 0,70. Nilainya berada pada rentang 0,266 hingga 0,575.
Nilai Average Variance Extracted (AVE) seluruh konstruk juga berada di bawah standar 0,50, yaitu 0,163 hingga 0,224. Sementara itu, nilai Cronbach's Alpha berada pada rentang 0,424 hingga 0,563, di bawah standar 0,70. Pengujian Heterotrait-Monotrait Ratio juga menunjukkan seluruh nilai berada di atas ambang 0,90, bahkan mencapai 1,883 pada hubungan antara dukungan organisasi dan kepuasan mahasiswa.
Artinya, lima konstruk yang hendak diukur belum dapat dibedakan secara empiris dengan baik berdasarkan data yang terkumpul. Peneliti karena itu memberikan catatan penting bahwa hasil hubungan antarvariabel harus dibaca sebagai laporan pengolahan data, bukan sebagai bukti empiris yang sudah kuat.
Meski demikian, analisis model struktural tetap dilaporkan untuk kelengkapan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh tujuh hubungan langsung memiliki signifikansi statistik. Kualitas pendampingan memiliki koefisien hubungan terbesar terhadap keterlibatan mahasiswa, yaitu 0,396, sementara keterlibatan mahasiswa memiliki koefisien terbesar terhadap kepuasan mahasiswa, yaitu 0,304.
Tiga jalur tidak langsung melalui keterlibatan mahasiswa juga tercatat signifikan secara statistik. Pengaruh tidak langsung kualitas pendampingan terhadap kepuasan melalui keterlibatan mahasiswa tercatat sebesar 0,120, diikuti kompetensi pengelola sebesar 0,072 dan dukungan organisasi sebesar 0,060.
Namun, angka-angka tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa faktor-faktor tersebut secara nyata menyebabkan meningkatnya kepuasan mahasiswa. Penulis secara eksplisit menyatakan bahwa kegagalan pengujian validitas dan reliabilitas membuat kesimpulan substantif mengenai hubungan tersebut belum dapat ditetapkan.
Kualitas Pendampingan Menjadi Perhatian Utama
Dalam pola data yang diperoleh, kualitas pendampingan menunjukkan hubungan statistik paling besar dengan keterlibatan mahasiswa. Pendampingan dalam penelitian mencakup akses konsultasi, pemantauan perkembangan, pemberian umpan balik, dan dukungan pengembangan diri.
Penulis mengaitkan pola tersebut dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendampingan dapat memperkuat hubungan dan keterlibatan mahasiswa. Namun, temuan dari penelitian MDJ tetap harus diperlakukan secara hati-hati karena alat ukur yang digunakan belum terbukti valid dan reliabel.
Peneliti mengidentifikasi beberapa kemungkinan penyebab lemahnya kualitas instrumen. Salah satunya adalah panjang kuesioner yang mencapai 47 pertanyaan dan diisi secara daring, yang berpotensi menimbulkan kelelahan responden. Selain itu, beberapa pertanyaan mungkin dipahami secara berbeda oleh responden. Jawaban yang terlalu terkonsentrasi pada skor 4 dan 5 juga mengurangi variasi data yang diperlukan untuk menguji hubungan antaritem.
Peneliti Merekomendasikan Pengujian Instrumen Sebelum Kebijakan
Temuan utama penelitian ini bukan sekadar hubungan statistik antarvariabel, melainkan persoalan metodologis yang ditemukan dalam proses penelitian. Rasidah Azidah, Rita Yuni Mulyanti, dan A.M Soma menyarankan agar model diuji kembali menggunakan instrumen yang terlebih dahulu melewati uji coba dan validasi psikometrik.
Peneliti juga merekomendasikan penyederhanaan jumlah pertanyaan, perbaikan formulasi item agar lebih spesifik dan mudah dipahami, serta penggunaan format jawaban yang memungkinkan variasi respons lebih besar. Untuk penelitian berikutnya, analisis faktor eksploratori pada tahap uji coba juga disarankan sebelum model struktural diuji secara penuh.
Bagi pengelola Program Masa Depan Jakarta, penelitian tersebut menyarankan agar perubahan kebijakan terkait hasil model ditunda sampai tersedia instrumen pengukuran yang valid dan reliabel. Peneliti juga mencatat bahwa desain penelitian yang bersifat potong lintang dan penggunaan purposive sampling membatasi interpretasi hubungan sebab-akibat serta generalisasi hasil.
Dengan demikian, penelitian ini memberikan perhatian pada pentingnya kualitas pengukuran ketika mengevaluasi program pendidikan dan bantuan mahasiswa. Data statistik dapat menunjukkan pola hubungan, tetapi kualitas alat ukur menjadi dasar penting sebelum hasil tersebut digunakan untuk menarik kesimpulan mengenai pengalaman penerima program.
Profil Penulis
Rasidah Azidah merupakan penulis korespondensi dalam artikel ini dan berasal dari Program Studi Magister Manajemen, Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta. Penulis lainnya adalah Rita Yuni Mulyanti dan A.M Soma, yang juga tercantum dari afiliasi yang sama. Artikel mencantumkan Rasidah Azidah sebagai corresponding author.
Sumber Penelitian
Artikel berjudul “The Influence of Program Managers’ Competence, the Quality of Mentoring, and Organizational Support on Student Satisfaction Through Student Engagement in the Jakarta Masa Depan Program” diterbitkan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 9, 2026, halaman 3223–3232. Artikel diterbitkan pada 2026 dan memiliki DOI 10.55927/fjmr.v5i9.203.
0 Komentar