Warisan Budaya Sejak Zaman Kerajaan Klungkung
Kuliner tradisional berfungsi sebagai identitas budaya sekaligus warisan takbenda yang merefleksikan sejarah, pengetahuan lokal, dan nilai-nilai sosial masyarakat setempat
Pendekatan Penelitian Kombinasi Kualitatif dan Laboratorium
Untuk mengkaji karakteristik dan keberlanjutan serombotan secara komprehensif, penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed-method) yang mengintegrasikan analisis kualitatif deskriptif dengan pengujian kuantitatif di laboratorium
Empat Temuan Utama Hasil Penelitian
Hasil kajian lapangan dan uji laboratorium mengungkapkan empat aspek utama mengenai keberadaan kuliner serombotan saat ini
- Cita Rasa Unik dari Racikan Bumbu Khas: Keunikan serombotan terletak pada penggunaan bahan spesifik seperti pare yang diolah khusus untuk mengontrol rasa pahit, serta terong bulat yang disajikan mentah untuk memberikan tekstur renyah
. Sayuran tersebut dipadukan dengan kangkung, bayam, kacang panjang, dan tauge, lalu disiram tiga jenis bumbu tradisional Bali . Bumbu tersebut meliputi sambel nyuh (kelapa parut sangrai dengan bawang putih, cabai, terasi, dan gula Bali), bumbu kacang, serta uyah sere limo (campuran cabai, garam, terasi, dan perasan jeruk limo) . - Pergeseran Orisinalitas Bahan Baku: Sebagian besar bahan penyusun serombotan kini tidak lagi sepenuhnya berasal dari Klungkung
. Penggunaan kacang undis kerap didatangkan dari daerah Singaraja, sedangkan bahan pelengkap modern seperti mi hun berasal dari luar negeri . Pergeseran ini dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan bahan lokal serta tuntutan efisiensi . - Dominasi Perempuan dan Isu Regenerasi: Seluruh pedagang serombotan yang menjadi responden penelitian adalah perempuan (100%), dengan 83,33% di antaranya mengelola usaha yang diwarisi secara turun-temurun dari keluarga
. Dari segi usia, sebanyak 33,33% pedagang berusia 46–55 tahun dan 30% berusia 36–45 tahun . Tingginya proporsi pedagang usia dewasa dan lanjut menyoroti perlunya langkah nyata dalam mendorong regenerasi ke generasi muda . - Diversifikasi Produk untuk Adaptasi Pasar: Pedagang melakukan penyesuaian menu dengan menambahkan bahan tambahan seperti mi hun dan tahu goreng guna menyesuaikan dengan selera masyarakat modern serta wisatawan
. Langkah diversifikasi ini mampu mendukung keberlanjutan ekonomi pedagang tanpa serta-merta menghilangkan keaslian rasa utama .
Hasil penelitian ini memberikan dampak positif bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Klungkung
Profil Penulis
Dewa Putu Oka Prasiasa. Universitas Dhyana Pura, Bali, Indonesia. Bidang Keahlian: Pariwisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Tradisional
Sumber Penelitian
Dewa Putu Oka Prasiasa. The Uniqueness and Originality of the Serombotan as Tourism Balinese Traditional Culinary. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 9, Halaman 1963–1976
DOI:

0 Komentar