Usia di Atas 50 Tahun Mendominasi Pasien Kanker Ovarium Epitel di Rumah Sakit Jakarta

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Kanker ovarium epitel menjadi perhatian dalam studi yang dilakukan Fajar Lamhot Gultom, Pieter Daniel Nababan, dan Ani Oranda Panjaitan dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta. Dengan menelaah data medis 50 pasien kanker ovarium epitel yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta, selama 2018–2022, studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar pasien berusia di atas 50 tahun. Namun, usia, jumlah persalinan, penggunaan kontrasepsi, dan riwayat keluarga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan karakteristik histopatologis kanker ovarium pada kelompok pasien yang diteliti.

Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan ginekologi yang sering ditemukan pada stadium lanjut. Pada tahap awal, penyakit ini dapat menimbulkan gejala yang sedikit atau tidak spesifik sehingga diagnosis bisa terlambat. Kondisi tersebut membuat kanker ovarium menjadi persoalan penting dalam kesehatan perempuan.

Di Indonesia, beban penyakit ini juga cukup besar. Artikel yang ditulis Gultom, Nababan, dan Panjaitan mengutip data Indonesian Network of Gynaecologic Oncology (INASGO) periode 2015–2019 yang mencatat sekitar 6.500 kasus baru kanker ovarium dan 4.400 kematian setiap tahun di Indonesia. Data tersebut memperlihatkan pentingnya pemahaman terhadap karakteristik pasien serta berbagai faktor yang mungkin berkaitan dengan kanker ovarium.

Empat Faktor yang Diamati

Studi dari Universitas Kristen Indonesia tersebut secara khusus melihat empat faktor, yakni usia, paritas atau jumlah persalinan, penggunaan kontrasepsi, dan riwayat keluarga kanker. Keempat faktor tersebut dipilih karena sebelumnya telah banyak dibahas dalam literatur mengenai risiko kanker ovarium.

Secara biologis, usia berkaitan dengan akumulasi perubahan sel dan paparan terhadap siklus ovulasi sepanjang kehidupan. Kehamilan dan persalinan juga secara teoritis dapat memengaruhi risiko karena periode kehamilan mengurangi sementara aktivitas ovulasi. Sementara itu, kontrasepsi hormonal, khususnya kontrasepsi oral, dapat menekan ovulasi. Riwayat keluarga juga menjadi perhatian karena sebagian kanker ovarium berkaitan dengan kerentanan genetik tertentu, termasuk perubahan pada gen BRCA1 dan BRCA2.

Namun, para peneliti menekankan bahwa hubungan tersebut tidak selalu sama pada setiap kelompok masyarakat maupun jenis histopatologis kanker ovarium. Karena itu, data dari rumah sakit tertentu tetap penting untuk melihat karakteristik pasien dalam konteks lokal.

Data 50 Pasien Menunjukkan Pola Demografis yang Jelas

Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan memanfaatkan data sekunder dari rekam medis pasien dan arsip Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Tarakan Jakarta. Sebanyak 50 pasien yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan melalui teknik total sampling. Hubungan antarvariabel kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dengan batas signifikansi statistik p<0,05.

Hasilnya menunjukkan beberapa karakteristik utama:

  • 58 persen pasien berusia di atas 50 tahun, sedangkan 42 persen berusia 50 tahun atau lebih muda.
  • 98 persen pasien memiliki paritas minimal satu, sementara hanya 2 persen yang belum pernah melahirkan.
  • 76 persen pasien tidak menggunakan kontrasepsi, sedangkan 24 persen tercatat menggunakan kontrasepsi.
  • 92 persen pasien tidak memiliki riwayat keluarga kanker, sementara 8 persen memiliki riwayat keluarga.
  • Berdasarkan tipe histopatologis, endometrioid merupakan tipe terbanyak dengan 34 persen, disusul serous 32 persen, clear-cell 18 persen, dan mucinous 16 persen.

Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai profil pasien kanker ovarium epitel yang ditangani di rumah sakit tersebut selama periode pengamatan.

Tidak Ada Hubungan Bermakna dengan Empat Faktor yang Diteliti

Meskipun sebagian besar pasien berusia di atas 50 tahun, analisis statistik tidak menemukan hubungan yang signifikan antara usia dan karakteristik histopatologis kanker ovarium. Nilai p yang diperoleh adalah 0,069, sedikit di atas batas signifikansi yang digunakan dalam penelitian.

Hal serupa ditemukan pada paritas. Sebanyak 49 dari 50 pasien memiliki paritas minimal satu, tetapi hubungan antara paritas dan karakteristik histopatologis tidak signifikan dengan p=0,465. Penggunaan kontrasepsi juga tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan p=0,326. Sementara itu, riwayat keluarga menghasilkan p=0,637, sehingga juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dalam kelompok pasien tersebut.

Dengan demikian, hasil penelitian Fajar Lamhot Gultom dan koleganya tidak menunjukkan bahwa salah satu dari empat faktor tersebut secara statistik menentukan karakteristik histopatologis kanker ovarium epitel pada populasi yang diamati.

Temuan tersebut bukan berarti faktor-faktor tersebut tidak memiliki relevansi sama sekali terhadap kanker ovarium. Para peneliti menjelaskan bahwa kanker ovarium merupakan penyakit yang bersifat multifaktorial. Karakteristiknya dapat dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor reproduksi, hormonal, genetik, klinis, dan biologis.

Hasil Perlu Dibaca Sesuai Konteks Penelitian

Salah satu hal penting dari studi ini adalah keterbatasan jumlah dan karakteristik data. Hanya terdapat 50 pasien dan penelitian dilakukan di satu rumah sakit. Selain itu, penggunaan rekam medis retrospektif membuat informasi mengenai faktor reproduksi, hormonal, dan keturunan tidak selalu tersedia secara lengkap.

Misalnya, riwayat keluarga bukanlah pengganti pemeriksaan genetik. Karena itu, tidak ditemukannya hubungan antara riwayat keluarga dan karakteristik kanker ovarium dalam studi ini tidak dapat diartikan bahwa faktor keturunan tidak penting. Para peneliti juga mencatat bahwa hanya sedikit pasien yang memiliki riwayat keluarga kanker sehingga kemampuan analisis untuk menemukan perbedaan menjadi terbatas.

Penelitian berikutnya disarankan melibatkan jumlah pasien yang lebih besar dan beberapa rumah sakit sekaligus. Data yang lebih rinci mengenai faktor reproduksi, hormonal, histopatologi, dan genetik juga dinilai diperlukan agar hubungan dengan subtipe kanker ovarium tertentu dapat dipahami dengan lebih baik.

Bagi masyarakat, temuan ini memperlihatkan bahwa karakteristik kanker ovarium tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor seperti usia, jumlah persalinan, penggunaan kontrasepsi, atau riwayat keluarga. Informasi mengenai faktor risiko tetap penting dalam konteks kesehatan perempuan, tetapi interpretasinya perlu mempertimbangkan kondisi klinis dan karakteristik masing-masing pasien.

Profil Penulis

Fajar Lamhot Gultom: Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Penulis korespondensi artikel dan tercantum dengan alamat institusi fajar.gultom@uki.ac.id. Bidang kajian artikel berkaitan dengan karakteristik klinis dan faktor yang berhubungan dengan kanker ovarium epitel.

Pieter Daniel Nababan: Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Penulis bersama dalam kajian mengenai karakteristik dan faktor yang berkaitan dengan kanker ovarium epitel.

Ani Oranda Panjaitan: Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Penulis bersama dalam penelitian berbasis data pasien kanker ovarium epitel di RSUD Tarakan Jakarta.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Clinical Characteristics and Risk Factors of Patients with Epithelial Ovarian Cancer
Penulis: Fajar Lamhot Gultom, Pieter Daniel Nababan, Ani Oranda Panjaitan
Afiliasi: Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 9
Tahun: 2026
Halaman: 1873–1890

Posting Komentar

0 Komentar