Tata Kelola Perusahaan Berpengaruh Signifikan terhadap Biaya Agensi pada Perusahaan Infrastruktur Indonesia

Ilustrasi by AI

Naditha Ersa Auryn Alamsyah dan Menik Indrati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Esa Unggul mempublikasikan penelitian pada Agustus 2026 yang mengkaji pengaruh struktur tata kelola perusahaan terhadap biaya agensi pada perusahaan sektor infrastruktur di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2024. Penelitian ini penting untuk memahami bagaimana pengawasan korporasi dapat menekan biaya operasional yang tidak perlu dan mengoptimalkan pemanfaatan aset perusahaan.

Biaya agensi muncul akibat potensi konflik kepentingan antara pemilik perusahaan sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen, yang sering kali diperparah oleh masalah asimetri informasi. Pada sektor infrastruktur, tingginya kebutuhan nilai investasi dan kompleksitas proyek menuntut penerapan tata kelola perusahaan yang kuat guna menjaga efisiensi pengelolaan aset.

Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan. Melalui teknik penyampelan purposif, terpilih sebanyak 17 perusahaan infrastruktur dengan total 68 data pengamatan dari tahun 2021 hingga 2024. Pengolahan data dilakukan menggunakan metode regresi data panel untuk menganalisis hubungan antarvariabel secara statistik.

Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menemukan beberapa poin penting berikut:

  • Jumlah dewan direksi terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap biaya agensi. Penambahan anggota dewan memperkuat pengawasan internal dan memperketat kontrol terhadap manajer.
  • Proporsi komisaris independen menunjukkan pengaruh positif terhadap biaya agensi. Hal ini mengindikasikan perlunya efektivitas pengawasan yang lebih optimal dari pihak independen agar fungsi kontrol berjalan maksimal.
  • Kepemilikan institusional berdampak positif terhadap biaya agensi. Kondisi ini terjadi karena sebagian kepemilikan institusi masih memiliki hubungan kekerabatan yang mendukung kepentingan internal perusahaan.
  • Frekuensi rapat dewan direksi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap biaya agensi. Rapat yang dilakukan secara terencana membantu memperkuat koordinasi dan menekan potensi konflik kepentingan.

Menurut Naditha Ersa Auryn Alamsyah dan Menik Indrati dari Universitas Esa Unggul, penerapan mekanisme tata kelola perusahaan harus dijalankan secara proporsional dan efektif. Perusahaan infrastruktur disarankan untuk menjaga ukuran dewan agar terhindar dari inefisiensi pengambilan keputusan, serta memperkuat peran pengawasan independen dan institusional demi mencapai kinerja operasional yang berkelanjutan.

Profil Penulis:

  • Naditha Ersa Auryn Alamsyah (Peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Esa Unggul).
  • Menik Indrati (Dosen dan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Esa Unggul dengan keahlian di bidang manajemen dan ekonomi).

Sumber Penelitian:

  • Judul Artikel Jurnal: The Role of Good Corporate Governance on Behavioral Opportunities
  • Nama Jurnal: Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6, No. 4 (Agustus) 2026, hlm. 1126-1145
  • DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i4.16810

Posting Komentar

0 Komentar