Tata kelola harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih menghadapi kendala serius berupa lemahnya pengawasan dan rendahnya transparansi informasi yang merugikan petani swadaya
Sektor perkebunan kelapa sawit merupakan penggerak utama ekonomi pedesaan di Bangka Belitung, di mana sebagian besar pelakunya adalah petani swadaya yang sangat bergantung pada stabilitas harga TBS
Untuk mengupas persoalan tersebut, riset ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif
Berdasarkan hasil analisis, ditemukan beberapa temuan utama terkait efektivitas tata kelola harga TBS
- Rendahnya transparansi informasi harga membuat petani kesulitan memverifikasi harga acuan yang ditetapkan pemerintah
. - Terjadinya asimetri informasi yang dimanfaatkan oleh pihak perantara untuk mendikte harga di tingkat akar rumput
. - Pengawasan implementasi harga di lapangan masih bersifat administratif dan belum menyentuh transaksi riil secara konsisten
. - Posisi tawar petani mandiri sangat lemah karena skala usaha yang kecil dan minimnya akses langsung ke pabrik pengolahan
.
Menanggapi temuan tersebut, para peneliti dari Universitas Budi Luhur merumuskan model strategi perlindungan komprehensif yang berorientasi pada pasar proaktif
Profil Penulis
- Tim Peneliti: Jhon Hendri, Selamet Riyadi, dan Setyani Dwi Lestari
- Afiliasi Universitas: Universitas Budi Luhur, Jakarta
- Bidang Keahlian: Manajemen Bisnis, Tata Kelola Perkebunan, dan Pemasaran Agribisnis
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Governance of Fresh Oil Palm Fruit Bunch Prices: Challenges of Supervision and Protection Strategies for Independent Smallholders in the Bangka Belitung Islands Province
- Nama Jurnal: Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6, No. 4
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI:
https://doi.org/10.55927/ijba.v6i4.16840
0 Komentar